Berita NTT Hari Ini
Leta Rafael Levis Sebut Hama Belalang Perlu Pendekatan Sosial Budaya
sehingga Pemerintah bisa mengantisipasi. Caranya, kalau secara kimia bisa merusak tanaman dan berisiko pada petani
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Hama belalang yang sering menyerang tanaman padi di Pulau Sumba memang terjadi secara sporadis.
Ini merupakan gejala alam dan dia serang bukan sedikit dan secara sporadis meskipun sudah ada berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, petani dan petugas lapangan untuk memberantas semuanya.
Hama itu menyerang itu pada hamparan yang luas dan tidak bukan hanya pada satu kebun, sehingga banyak upaya yang dilakukan tapi tidak berhasil.
Saya perhatikan itu, hama belalang itu terjadi pada saat pergantian musim dari musim hujan ke kemarau. Ada hubungan apa soal itu saya tidak terlalu tauh.
Baca juga: Begini Hasil Sidang Pembacaan Tuntutan Bagi Para Terdakwa Kasus Korupsi Puskesmas Inbate TTU
Ini sama seperti di penyakit ayam yang terjadi saat pergantian musim. Jadi mungkin ini sudah sering terjadi pada saat pergantian musim, sehingga Pemerintah bisa mengantisipasi.
Caranya, kalau secara kimia bisa merusak tanaman dan berisiko pada petani. Mungkin bisa disiapkan biologis dan pendekatan sosial budaya.
Jadi kita tidak hanya berpikir pada logika kita berpikir pada logika kita saja. Menurut saya, secara teknis akal kita sudah dilakukan ternyata tidak bisa, maka kita gunakan alternatif lain yakni sosial budaya. Pendekatan itu yang harus diperhatikan.
Contoh, hama tikus. Itu kan melakukan pendekatan sosal budaya sehingga bisa diatasi. Ini antara logika dan non logika.
Baca juga: Berkat Aspirasi Ansy Lema, Kementerian LHK RI Sosialisasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu di TTU
Hal itu percaya tidak percaya pasti terjadi, kalau semua upaya sudah dilakukan oleh pemerintah, petani tapi tidak ada hasil yang signifikan pada tiap tahun, berarti ada hal-hal yang terjadi diluar nalar manusia dan harus dilakukan secara pendekatan sosial budaya.
Saya pikir di Sumba ada orang-orang yang bisa membaca fenomena itu. Ini seperti burung yang masuk pada sauatu tempat secara gerombolan dan akan pergi pada musim tertentu.
Mungkin juga ada tanaman tertentu yang mungkin bisa dicoba untuk dirotasi tanamannya. Artinya coba kita ganti tanaman yang ada pada musim tanam berikutnya dengan tanaman lain yang tidak disukai oleh belalang itu. (*)