Berita Kupang Hari Ini
Sampah Plastik Penyebab Lambannya Tumbuh Terumbu Karang
alah satu faktor penyebab lamban hingga rusaknya tumbuh dari terumbu karang adalah sampah, terutama plastik. Sebagai tempat makan dan berlindungnya
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Salah satu faktor penyebab lamban hingga rusaknya tumbuh dari terumbu karang adalah sampah, terutama plastik. Sebagai tempat makan dan berlindungnya biota laut, sampah, dari rumah tangga dan industri seringkali tidak ditangani dengan baik dan bermuara ke laut. Hasilnya, sampah mengendap di dasar laut, menutup bagian pori dari terumbu karang.
Padahal, terumbu karang membutuhkan cahaya matahari dan sirkulasi udara yang cukup untuk bertumbuh. Jika tertutup sampah plastik, sudah jelas terumbu karang tidak bisa tumbuh bahkan hancur ataupun 'cacat'.
Salah satu pemerhati terumbu karang di laut Kupang, Komunitas Au Manekat Tasi menemukan banyaknya terumbu karang di wilayah laut Teluk Kupang rusak sejak Badai Seroja menimpa wilayah laut Kota Kupang.
Komunitas yang dipimpin oleh Aipda Joel Bolang ini melakukan penanaman bibit baru di batu karang yang sudah mati. Tiap titik penanaman ini telah dipersiapkan pada tanggal 2 April. Ada sekitar 300 bibit baru yang dipasang saat itu. Bibitnya sendiri dari bekas terumbu karang yang terdampak Badai Seroja dan ditemukan masih hidup di pasir.
Baca juga: Komunitas Au Manekat Tasi Kembali Tanam Bibit Terumbu Karang di Teluk Kupang
Anggota Dit Polair Polda NTT ini menyebut ada sekitar 300 bibit terumbu karang di wilayah Pantai Nunhila yang berhasil ditransplantasi. Hasil pemeriksaan dari komunitas itu pada tiap bulan pasca penanaman, 90 persen terumbu karang hidup. Sisanya, menurut dia, terdampak sampah yang menyangkut di bibit tersebut sehingga menghambat pertumbuhan.
Maka dari itu tiap bulan timnya memeriksa pertumbuhan tiap bibit yang ditanam agar tidak terhambat dengan membersihkan terumbu karang yang mulai berkembang ini dari sampah.
"Sampah lebih dari seminggu saja bibit-bibitnya bisa mati karena tidak bisa makan," kata dia beberapa waktu lalu.
Dia juga melaporkan rata-rata terumbu karang di sekitar teluk Kupang mengalami kerusakan. Meski begitu, pihaknya tidak bisa menyimpulkan penyebab utama kerusakan terumbu karang. Wilayah Pantai Pasir Panjang, Nunhila, Namosain hingga wilayah Tenau, dikatakan memprihatinkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang, Orson Nawa, mengatakan rata-rata volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Kupang berjumlah 86 ton per hari. Kesadaran masyarakat untuk tertib membuang sampah pada tempatnya dan tertib membuang sampah pada jam nya sangat minim.
Jumlah tempat membuang sampah di seluruh wilayah Kota Kupang berjumlah 800 TPS dan setiap harinya dilayani oleh 36 truk atau armada. Tentunya dengan kondisi ini sangat timpang, antara armada dan beban yang harus dikerjakan.
"Kami juga kekurangan awak, misalnya satu truk hanya ada dua orang awak, bahkan untuk truk kontainer, tidak memiliki awak. Tanggung jawab besar kami sekarang adalah di Kelurahan Oesapa atau pantai warna karena volume sampah yang sangat banyak, baik dari laut maupun masyarakat sekitar," jelasnya.
Dia menambahkan, perilaku masyarakat membuang sampah sangat diharapkan agar lebih bertanggung jawab, jangan lagi sampah organik dan daun dan ranting pohon serta bangkai binatang dibuang di kontainer sampah.
Sementara, pada pantauan POS-KUPANG.COM, pekan lalu, di dua kawasan wisata baru, yakni pantai Lai-Lai Bissi Kopan dan Kelapa Lima, terlihat sampah belum dibuang pada tempatnya. Meski, ada tempat sampah yang telah disiapkan, pengunjung masih 'kaku' membuang sampah langsung di drum sebagai bak sampah itu.
Sampah dibiarkan berserakan dipinggir bak. Letak bak sampah memang tergolong masih minim di dua tempat, yang kini sedang ramai menjadi bahan swa foto tersebut. Keengganan pengunjung membuang sampah pada bak sampah, menambah masalah. Alhasil, ada sampah juga yang dibiarkan dan berterbangan menuju laut. Dipastikan, sampah-sampah itu akan terus berada di laut, terbawa arus dan menyangkut di terumbu karang dan terus menghambat pertumbuhan terumbu karang. (Fan)
