Bencana Alam
Badai Tropis Megi Landa Filipina, 25 Tewas
Pada saat wilayah Indonesia perlahan-lahan meninggalkan musim hujan menuju musim kemarau, negara tetangga Filipina justru kedatangan badai mematikan.
Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim yang disebabkan manusia telah menyebabkan intensitas dan kekuatan yang lebih besar dalam badai tropis. Filipina telah mengalami beberapa badai paling mematikan sejak 2006.
Ini telah diperingkatkan sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana iklim karena geografinya.
Badai Megi bergabung dengan topan
Menurut laporan terbaru, Rabu 13 April 2022 dini hari , Badai Megi atau Agaton telah menghilang ke daerah bertekanan rendah dan diperkirakan akan bergabung dengan topan di luar wilayah tanggung jawab Filipina (PAR), kata PAGASA, semacam BMKG, Selasa malam.
Pada jam 11 malam. buletin cuaca, PAGASA mengatakan gangguan cuaca terlihat pada pukul 10 malam. di Guiuan, Samar Timur, perlahan-lahan bergerak ke arah tenggara.
Pada Selasa malam sampai Rabu malam, sedang hingga lebat dengan hujan lebat kadang-kadang masih mungkin terjadi di Visayas Timur, Sorsogon, Masbate, bagian utara dan tengah Cebu termasuk Kepulauan Bantayan dan Camotes, Aklan, Capiz, Antique, Iloilo, Guimaras, dan bagian utara dan tengah Provinsi Negros.
Sementara itu, hujan ringan hingga sedang dengan hujan lebat akan terjadi di Mimaropa, Kepulauan Dinagat, Zamboanga del Norte, Quezon, dan seluruh Wilayah Bicol dan Visayas, kata PAGASA.
Hembusan angin yang mencapai angin kencang hingga hampir kencang mungkin masih dialami di Visayas Timur, Visayas Tengah, Caraga, Misamis Oriental, dan Camiguin, kata badan cuaca negara bagian itu.
Sirkulasi sisa Agaton diperkirakan akan bergerak ke arah timur menuju Laut Filipina dan menyatu dengan Topan Basyang yang saat ini berada di luar PAR.
Sumber: bbc.com/abs-cbn.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Badai-Megi-atau-Agaton-di-Cebu-City-Filipina-01.jpg)