Berita Lembata Hari Ini
Dirjen Kebudayaan Saksikan Pemasangan Batas Muro di Teluk Nuhanera Lembata
Hilmar juga sempat menyaksikan pementasan tarian tradisional Beku di halaman kantor desa Tapobaran yang dibawakan para orangtua
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Laporan POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Hilmar Farid, turut menyaksikan langsung proses pemasangan balela (batas) Muro bersama masyarakat desa Tapobaran di Teluk Nuhanera, Minggu, 27 Maret 2022 petang.
Hilmar ditemani Sjamsul Hadi selaku direktur kepercayaan terhadap Tuhan yang mahaesa dan masyarakat adat naik ke salah satu kapal motor, dan bersama masyarakat pergi ke tengah laut untuk memasang balela.
Keduanya tampak serius mengikuti semua proses pemasangan balela dan pelampung serta berdiskusi dengan salah satu tokoh masyarakat di atas kapal tentang Muro.
Di kapal itu juga ada Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan Kabupaten Lembata Markus Labi Waleng dan penggiat budaya Abdul Gafur Sarabiti.
Baca juga: Kejari Kota Kupang dan Pelindo Tanda Tangan Kesepakatan Bersama Terkait Penanganan Masalah Hukum
Proses pemasangan balela berlangsung selama satu jam lebih hingga matahari terbenam. Sementara bupati dan rombongan lainnya menunggu di darat.
Sebelum ke desa Tapobaran, Hilmar Farid dan rombongan ditemani Bupati Lembata Thomas Ola Langoday meninjau gua Jepang yang ada di desa Hadakewa.
Dari sana mereka kemudian menuju ke desa Tapobaran, bergabung dengan masyarakat menggelar ritual adat dalam rangka penetapan kawasan konservasi laut Muro. Ratusan masyarakat, dari anak-anak sampai orangtua mengenakan pakaian adat mengikuti proses ritual adat tersebut.
Anggota LSM Barakat Philipus Payong mengatakan ritual adat sudah dilakukan di sejak pagi hari di kampung Lewoeleng. Di sana, masyarakat adat meminta restu dan kekuatan dari leluhur dari enam suku dan lima duang untuk memasang balela.
Baca juga: Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Bupati Lembata: Saatnya Mengamalkan Pancasila
“Balela ini diambil dari lima duang untuk dipasang di laut,” katanya.
Hilmar Farid mengapresiasi masyarakat adat yang masih melestarikan model konservasi laut warisan leluhur tersebut. Dia harap kearifan lokal seperti Muro tetap dilestarikan.
Hilmar juga sempat menyaksikan pementasan tarian tradisional Beku di halaman kantor desa Tapobaran yang dibawakan para orangtua.
Dia ingin tarian-tarian tradisional seperti itu juga bisa dibawakan oleh anak-anak.
“Senang sekali, saya dari Maumere, Larantuka dan Lembata, bertemu dengan beberapa komunitas adat dan komunitas yang terlibat dalam pelestarian. Saya belajar banyak dan saya senang di banyak tempat adat ini masih dipegang,” paparnya kepada wartawan.
Ada banyak tantangan pelestarian budaya, tapi dia menekankan relevansi adat dalam kehidupan masa kini. Jadi adat, bukan hanya soal menjaga masa lalu, atau mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Tapi adat punya peran sangat penting di masa sekarang terutama saat bicara soal tantangan alam yang terus berubah.