Tsunami Ancam Flores
Warga Waioti, Maumere Mengenang Kembali Tragedi Gempa Desember 1992
Setelah kejadian kita harus mulai baru lagi, lingkungan yang baru dan rumah yang baru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Nofri Fuka
POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Sejarah kelam tercatat tragedi 12 Desember 1992 Pukul 12.00 Wita, dimana Pulau Flores porak poranda diguncang gempa dan Maumere khususnya dilanda tsunami.
Masih terekam dengan jelas dalam ingatan tragedi 1992 itu, sebuah peristiwa yang mengubah peradaban hidup orang Maumere.
Kisah nyata yang dialami warga ketika itu, diceritrakan kembali salah seorang warga asal Waioti, Maumere, Faujia Yanto (60) yang merasakan tragedi memilukan tersebut.
Baca juga: Selama Februari 2022 Terjadi 668 Kali Gempa Bumi di NTT
"Waktu itu panas terik, cuaca yang menimbulkan gerah, suasana yang tak baik-baik saja.Saya pergi melayat di tetangga yang meninggal,"ungkap Faujia Yanto mengawali ceritanya saat ditemui Pos-Kupang.Com di kediamannya, Sabtu 19 Maret 2022.
Kami sekeluarga, kata Faujio, waktu itu terpisah, suami bekerja di Boru, Kabupaten Flores Timur, ia dan anak-anak berdiam di rumah.
Diceritakan, sebelum kejadian saat di rumah duka, Faujia tengah bercakap-cakap dengan tetangga. Sesekali mereka bercanda gurau. Momen unik yang terjadi waktu itu adalah seekor kupu-kupu hinggap di patung salib.
Baca juga: BMKG Simulasikan Potensi Tsunami Bila Terjadi Gempa di NTT
"Pas kupu-kupu hinggap di patung salib, sontak saya bilang ke teman saya namanya Jawa, Mama Jawa kayaknya ada pertanda tidak baik, kupu-kupu hinggap di Salib ini, mama Jawa hanya menjawab dengan nada ketus, tidak mungkinlah," ujar Faujia.
Bak gayung bersambut, kurang lebih lima menit kemudian, goncangan hebat terjadi, dengan bunyi gemuruh yang terjadi dimana-mana, menurut Faujia, goncangan tersebut seperti sebuah ayunan.
"Pas gempa itu ngeri sekali, rasanya kita seperti di ayunan, dan diedok-edok, bahkan orang yang hebat larinya tak akan bisa berlari waktu itu," tuturnya.
Baca juga: Meminta Petunjuk Allah SWT, Inilah Doa Malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan Beserta Artinya
Faujia hanya bisa merayap, memegangi tanah, mencari tempat terbaik untuk berlindung, ketakutan yang sangat luar biasa ia alami, dan kejadian tersebut untuknya sangat menakutkan.
Upaya untuk menyelamatkan diri (setelah goncangan gempa mereda) Faujia berlari ke Bandara Waioti, tanpa ada persiapan. Sebab kejadian itu berlangsung secara beruntun yakni sehabis gempa tsunami melanda.
Faujia hanya dapat menyelamatkan Ijazah milik suami dan anaknya, sedangkan barang yang lain tak sempat terselamatkan.
Baca juga: MotoGP Mandalika 2022: Membludak, Panik Berebut Naik Shuttle Bus ke Sirkuit Mandalika
"Bayangkan saja ade dalam tempo limat menit saja ada gempa, dan beberapa menit kemudian lagi tsunami, susah bagi saya untuk selamatkan barang barang, bahkan ada anak saya yang terakhir itu diselamatkan oleh adik kandung saya. Saya hanya bisa selamatkan ijazah milik suami dan anak-anak," ungkapnya.
Faujia melihat dengan sangat jelas, ombak yang menghitam menggulung begitu tinggi diujung pulau besar.