Tsunami Ancam Flores
BMKG Simulasikan Potensi Tsunami Bila Terjadi Gempa di NTT
Gempa Jawa Timur beberapa waktu lalu kerusakan itu terjadi akibat bangunan yang tidak berstruktur kolong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG-- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan simulasi pada potensi tsunami bila terjadi gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur. Simulasi itu dibuat dengan kekuatan gempa diatas 8 magnitude atau lebih besar.
Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Rahmat Triyono, Rabu 16 Maret 2022, menyampaikan BMKG berkaca pada tsunami Jepang yang terjadi. Ia menyebut, Jepang telah melakukan persiapan tetapi kekuatan gempa dan tsunami justru lebih besar dari prakiraan.
Ia mengaku, pihaknya membuat skenario paling buruk untuk NTT bila gempa terjadi disertai tsunami. Ini adalah mitigasi terbaik yang dipersiapkan.
Baca juga: Mantan Bupati TTU Diperiksa Jaksa dalam Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes RSUD Kefamenanu
"Kita buat skenario terburuk, kita sudah terlanjur sosialisasi ke masyarakat dengan magnitude 7, tingginya hanya 2 meter tapi ternyata yang terjadi magnitude 8," katanya.
Ia menjelaskan, pengalamannya, intensitas guncangan gempa, apabila energi yang dikeluarkan dekat dengan magnitude maka guncangan akan semakin besar. Akibat ini juga terjadi kerusakan pada bangunan bila gempa itu dekat dengan kawasan.
Gempa Jawa Timur beberapa waktu lalu, disebut dia bahwa kerusakan itu terjadi akibat bangunan yang tidak berstruktur kolong. Untuk itu, BPBD dan pihak terkait agar memperhatikan hal ini.
Baca juga: Ramalan Cinta 12 Zodiak Senin 21 Maret 2022, Libra Dirongrong Keluarga, Virgo Bakal Dilamar
Bangunan yang diketahui tidak tahan gempa, menurut dia, agar bisa dilakukan penyesuaian untuk menghindari robohnya bangunan ketika gempa. Masyarakat juga harus dilatih untuk lebih cekatan menghindari bangunan mudah roboh.
Berbagai skenario, menurut Rahmat dilakukan BMKG untuk mengantisipasi kondisi terburuk akibat gempa ini. Simulasi demikian dibuat pada semua pulau yang di NTT.
"Apabila bapak ibu di pantai dan terjadi gempa, lari saja dulu ke ketinggian tanpa harus tunggu peringatan dini. Kalau tidak terjadi tsunami, kembali lagi," kata dia.
Baca juga: BMKG Siap Pasang Alat Deteksi Gempa dan Tsunami di Sikka
BMKG sendiri menyebut NTT memang dikelilingi potensi gempa. Namun demikian, potensi tersebut belum dipastikan terjadi pada wilayah mana saja. BMKG melakukan simulasi pada semua wilayah dengan kondisi paling buruk, termaksuk terjadi tsunami.
Peringatan dini tsunami dari BMKG, paling cepat baru dikeluarkan paling cepat pada menit ke empat setelah terjadi gempa. Berbeda dengan kajian BMKG yang mengungkapkan tsunami terjadi paling cepat pada menit ketiga.
"Jadi sebelum peringatan dini itu dikeluarkan, tsunami sudah datang," paparnya.
Baca juga: Gempa dan Gelombang Tsunami Ancam Pulau Flores, Kepala BMKG Ungkap Patahan Aktif
Hal ini, memantik BMKG untuk menyampaikan lebih awal kepada stakeholder terkait di Nusa Tenggara Timur agar bisa melakukan persiapan sejak dini agar mewaspadai tanpa harus menunggu peringatan dini dari BMKG.
Dia berpendapat, masyarakat bisa melakukan evakuasi dini ke arah lebih tinggi ketika merasakan goyangan gempa dengan ayunan gempa hingga lebih dari tiga kali.
Masyarakat dapat melakukan evakuasi ke tempat tinggi melalui jalur evakuasi. Disarankan, tempat yang paling tinggi berada di atas 6 meter. (*)