Cerpen

Seandainya Engkau Perempuan, Dia Tidak Akan Mati

Bagaimana rasanya jadi janda sekarang bagi Bela bukan lagi cerita yang sering didengar dari perempuan-perempuan yang telah mendahuluinya jadi janda.

Editor: Agustinus Sape
ISTIMEWA
Ilustrasi 

Dengan telah dibagikan warisan, mama yang masih hidup seakan menumpang kepada anak-anaknya. Ke mana hati senang ia akan ada di sana. Tetapi karena Bela dinilai anak mantu paling baik, apa lagi anak-anaknya masih kecil, maka mama kebanyakan bersama Lede sampai pada kejadian gantung diri.

Setelah lahir anak yang pertama laki-laki, Lede tidak bermimpi untuk harus dapat anak laki-laki yang kedua, apa lagi yang ketiga dan keempat. Cukup satu saja, katanya. Mau tanah di mana lagi yang akan dibagi-bagi kalau laki-laki yang banyak. Tanah satu hektare sudah tidak menjamin orang hidup bahagia. Hasilnya sangat minim, hanya 300 kg padi tiap musim. Kalau nanti anak laki-laki yang  banyak dan tanah satu hektare dipotong-potong sebagai warisan untuk mereka pula, maka mau bahagia dari mana? Saya tidak rela anak laki-laki lebih menderita daripada saya. Cukuplah sudah saya yang menderita, kata Lede.

Waktu akan bikin anak yang kedua, Bela dalam kepasrahan yang total. Ia sungguh menyadari, bahwa sehebat-hebatnya  perempuan, entah alat bantu secanggih apa pun, dia tidak akan melahirkan kalau tidak ada laki-laki yang menabur benih dalam rahimnya. Atas dasar kesadaran tersebut, maka Lede benar-benar disayang, dicintai, dan sangat dihormati oleh Bela. Kalau ia melihat suaminya kelelahan karena bekerja keras setiap hari, maka diminta atau tidak diminta, Bela akan mengurut dan memijat-mijat seluruh badan Lede.  Namun bukan dalam pengertian yang erotis.

Setelah Bela tidak datang bulan, Lede macam orang gila mengungkapkan kebanggan dan kebahagiaan akan memperoleh anak perempuan dengan cara mengelus perut istri. Lebih-lebih setelah usia kandungan 7 bulan, Lede tidak alpa mengelus dan meninabobokan calon anak perempuan dalam rahim sang kekasih.

Ketika tiba saatnya melahirkan dan yang keluar justru jantan pula, Lede stres pukul tembok. Ia menyebut rahim istrinya sebagai rahim bodoh-tolol yang suka menderita. Sudah tidak ada tanah yang subur, justru laki terus yang keluar.

Anak kedua belum berumur tiga tahun Bela hamil lagi. Lede terus berharap semoga anak yang  ketiga perempuan. Namun sikap gilanya elus-elus anak dalam kandungan ia hentikan. Kini lebih banyak berdoa supaya anak yang ketiga jangan telanjur laki-laki. Cukup sudah keterlanjuran  anak kedua yang juga laki-laki. Kalau sampai anak ketiga telanjur keluar anak laki-laki pula, maka betapa konyolnya hidup ini. Sudah sangat menderita tambah menderita lagi. Tidak tahu mau jadi apa? Niat hati berhenti bikin anak, tapi napsu jalan terus.

Masa penantian tiba. Sudah ada tanda. Dukun bersalin dipanggil untuk membantu. Mau bawa ke rumah sakit, tidak ada fasiltas. Kalau miskin begitu sudah, terima kenyataan. Dengan pertolongan dukun, maka Bela lancar melahirkan dan yang keluar pistol lagi. Minta ampun, sudah konyol tambah konyol.

Lede minggat dari rumah beberapa malam. Ia bermalam di rumah saudarinya yang berumah tangga di kecamatan lain. Ia sungguh marah  dan mengutuk istrinya sebagai perempuan tidak laku berahim busuk tolol. Tetapi herannya, mau bikin anak terus dengan rahim tolol si Bela.

Karena sedikit trauma dengan rahim bodoh tolol, maka Lede tidak mau lagi keburu bikin anak.  Biar istri merayu dengan segala cara, ia tidak hewel. Kadang ia menghindar dengan cara berlama-lama ngobrol dengan tetangga sampai larut malam. Setelah pastikan Bela sudah pada posisi tidur nyenyak, barulah Lede perlahan-lahan masuk kamar seperti pencuri. Kalau bukan ngobrol dengan tetangga, maka Lede sengaja sibuk kerja malam dengan titi kemiri, atau pekerjaan lain yang juga bermanfaat untuk pengembangan ekonomi.

Setelah anak ketiga empat tahun, suatu malam Lede dan Bela berdiskusi untuk menyepakati satu hal. Apa itu? Bela boleh dilayani kebutuhan seksualnya yang kian membara dengan janji anak keempat mutlak perempuan. Kalau ternyata pistol pula yang keluar, maka siap-siaplah jadi janda muda. Tidak ada pilihan lain yang lebih baik. “Saya harus bunuh diri, “ kata Lede dengan tegas.  Bela tidak berani tanggapi dengan kata-kata. Alam bawah sadar Bela berbisik, perempuan atau laki-laki yang keluar bukan urusan, yang penting sudah lewati malam-malam yang berahmat dengan bercinta indah dan nikmat.

Enam bulan kemudian perut Bela makin menonjol. Hasil pemeriksaan rumah sakit, Bela positif hamil 3 bulan dengan jenis kelamin laki-laki. Sejak hari itu, Bela tidak nyaman rasa. Nuraninya memberontak tidak mau kehilangan Lede dan tidak mau pula jadi janda muda yang akan disiul-siuli duda keren atau pemuda nakal. Karena itu, ia memilih membunuh janin dalam kandungannya.

Beberapa hari kemudian ia mencari dukun yang berani menggugurkan. Namun sepuluh dukun yang sudah ia dekati dengan segala macam pengeluhan, semuanya tidak berani. Takut dosa dan takut kena karmanya. Karena itu Bela berusaha sendiri untuk menggugurkan dengan minum air sabun rinso sepuluh kali dan sepuluh kali pula makan mie rebus yang berbau busuk. Namun hasilnya nihil. Hasil pemeriksaan rumah sakit menjelaskan, bahwa janin Bela makin sehat walafiat dan akan  lahir normal beberapa bulan ke depan.  

Pikiran Bela makin saja kalut. Ia minta saran pendapat dokter kandungan bagaimana cara terbaik untuk menggugurkan. Hasilnya tetap saja nihil. Dokter tidak sudi melanggar sumpah jabatan.Hukuman moralnya sangat berat dan terancam hukuman malapraktek. Bahkan dokter menyarankan supaya Bela berjiwa besar menerima kenyataan sebagai perempuan yang mendapat anugrah, hadiah cuma-cuma dari Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan anak.

“Tanpa perempuan, maka bumi mana pun akan kosong manusia. Perempuan harus bangga sebagai penerus bangsa.” Nasihat dokter ditanggapi Bela dengan anggukan, tetapi hatinya tetap memberontak karena tidak mau kehilangan Lede, dan juga tidak sudi jadi janda muda.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved