Perang Rusia Ukraina

Rusia Tantang Balik NATO yang Terus Kirim Senjata Bantu Ukraina, Sebut Konvoi Jadi Target Empuk

Uni Eropa dan negara-negara anggota NATO tidak secara langsung membantu Ukraina dalam menghadapi serbuan pasukan Rusia.

Editor: Alfred Dama
Via Intisari.Grid.ID
Tentara Ukraina memegang senjata anti tank NLAW di luar kota Kyiv 

POS-KUPANG.COM - Uni Eropa dan negara-negara anggota NATO tidak secara langsung membantu Ukraina dalam menghadapi serbuan pasukan Rusia

Namun, negara-negara terus itu terus saja mengirim senjata anti pesawat dan anti tank untik tentara Ukraina

Pengiriman itu bukan saja dilakukan sebelum sebelum perang namun terus berlangsung saat Ukraina sedang menghadapi invasi Rusia

Kini Rusia telah mengatakan pasukan mereka dapat menarget pasokan senjata-senjata Barat di Ukraina, di mana tentara Rusia telah menyerang sejak akhir Februari.

Baca juga: Tuduhan Rusia Tak Terbukti, PBB Tegaskan Tidak Temukan Bukti Senjata Biologis di Ukraina

"Kami memperingatkan AS bahwa orkestra pengiriman senjata dari sejumlah negara tidak hanya gerakan berbahaya, itu merupakan gerakan yang mengubah konvoi-konvoi ini jadi target utama," ujar Wakil Kementerian Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov kepada media TV pemerintah Sabtu kemarin.

Melansir Al Jazeera, ia mengatakan Moskow telah memperingatkan "mengenai konsekuensi pemindahan tanpa berpikir untuk senjata-senjata seperti sistem pertahanan udara portabel, sistem rudal anti-tank dan lain sebagainya".

Ryabkov mengatakan Washington sebelumnya tidak menganggap peringatan Moskow serius dan menambahkan jika Rusia dan AS tidak menahan "proses negosiasi" apapun di Ukraina

Baca juga: Dampak Perang Rusia Ukraina, Italia Sita Kapal Pesiar Mewah Oligarki Rusia Bernilai Rp 9,9 Triliun

Presiden Vladimir Putin mengirim tentara-tentara Rusia ke Ukraina pada 24 Februari dan mengatakan ia bertujuan untuk "mende-Nazifikasi" negara itu.

Moskow mendapatkan sanksi-sanksi internasional sejak Putin mengirim tentara ke Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berulang kali menyeru negara-negara Barat untuk mengirim lebih banyak bantuan militer ke negaranya, memperingatkan bahwa militer Rusia tidak akan berhenti di perbatasan Rusia jika Moskow mendapatkan kendali penuh.

Sementara AS dan NATO telah menolak seruan berulang kali Zelenksyy untuk menerapkan zona larangan terbang di atas Ukraina, ada pengiriman senjata-senjata ke Ukraina dengan kecepatan tinggi, termasuk senjata sensitifitas tinggi seperti rudal yang ditembakkan dari bahu yang disebut sistem pertahanan udara portabel-man (MANPADS) yang bisa menjatuhkan pesawat.

Baca juga: Putin, Macron, Scholz Bahas Krisis Ukraina Saat Pasukan Rusia Mendekati Ibu Kota Kyiv

Pengiriman senjata Barat sangat penting untuk memungkinkan Ukraina melawan pasukan invasi Rusia jauh lebih efektif dan ganas daripada yang diperkirakan intelijen AS.

Senat AS pada hari Kamis menyetujui $6,5 miliar untuk bantuan militer untuk Ukraina.

Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, Uni Eropa mendanai pembelian dan pengiriman senjata setelah para pemimpin sepakat untuk mengangkut senjata senilai 450 juta euro ($502 juta) ke Kyiv.

Dua hari setelah serangan ke Ukraina oleh Rusia dimulai, Berlin mengatakan mereka akan memasok 1000 senjata anti-tank dan 500 rudal Stinger, berbalik dari kebijakannya melarang ekspor senjata ke zona konflik.

Halaman
1234
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved