Obituari Pater Alex Beding

Pater Alex Beding, Intan Imamatnya Jadi Mahkota Bagi Lembata (Bagian-1)

Kebahagian intan imamat rasanya menjadi mahkota bagi seluruh Pulau Lembata karena Pater Alex adalah imam sulung Pulau Lembata.

Penulis: dion_db_putra | Editor: Rosalina Woso
Pater Alex Beding, Intan Imamatnya Jadi Mahkota Bagi Lembata (Bagian-1)
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Alex Beding SVD

Dialah yang membuka pintu gerbang bagi perjalanan panggilan hidup membiara putra-putri Lembata hingga detik ini.

Dia adalah buah sulung dari benih iman yang ditaburkan para misionaris di tanah Lembata dengan Lamalera sebagai pintu gerbangnya.

Pada bulan September 2011 umat Paroki Lamalera khususnya dan Lembata umumnya merayakan yubileum 125 tahun masuknya agama Katolik di Lembata.

Selama rentang waktu 125 tahun panggilan hidup membiara tumbuh subur. Seperti ditulis Steph Tupeng Witin, di Paroki Lamalera saja, hingga kini tercatat sebanyak 37 pastor dari berbagai tarekat dan keuskupan di seluruh Indonesia, sebanyak 21 pastor itu berasal dari Desa Lamalera dan kurang lebih 133 biarawan-biarawati.

Di Pulau Flores, Lembata, Adonara, Solor bahkan di seluruh wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) agaknya tidak ada satu desa pun yang subur menyamai Lamalera dalam hal benih panggilan menjadi pekerja di ladang Tuhan. Kampung Lamalera patut dicatat sebagai tonggak penting dalam sejarah Gereja Katolik di negeri ini.

Saat menyampaikan sambutan pada akhir ekaristi perayaan intan imamat, Pater Alex Beding, SVD menunjukkan kartu bahagia intan imamatnya yang mengutip kata-katanya “sangat indah melukiskan identintas setiap orang Lamalera”.

Kartu hasil repro foto itu menggambarkan yubilaris Pater Alex dengan pakaian lengkap misa berdiri di atas latar belakang Desa Lamalera. Pada stola tertulis “In Verbo Tuo”. Pater Alex seakan disanggah oleh deretan tena laja yang membujur dari timur hingga barat.

Inilah gambaran aktivitas harian penduduk Lamalera. Tena laja menjadi bangsal bagi perahu-perahu yang saban hari memuat para pelaut kekar tanpa baju bertarung dengan ikan raksasa di Laut Sawu.

Tampak di tengah deretan bangsal perahu itu Kapela Santo Petrus yang menjadi pusat kehidupan melaut nelayan Lamalera. Kapela itu menjadi pusat ekaristi kudus pada saat hendak memulai musim leva (melaut).

Peralatan melaut selalu diberkati imam sebagai simbol penyertaan Tuhan dalam karya para pelaut tangguh Lamalera. Dan di belakang yubilaris tampak alam Lamalera yang kering dengan dedaunan pohon yang meranggas.

“Gambar ini melukiskan identitas kita semua sebagai orang Lamalera. Di atas kenyataan inilah kita dilahirkan, hidup dan bertumbuh hingga saat ini.” Kata-kata tersebut diucapkan Pater Alex Beding dengan bibir gemetar.

Orang Lamalera, sebagaimana dihadirkan melalui gambar itu seakan berada di antara laut yang menyediakan kehidupan dan darat yang menghadirkan kekuatan.

Di laut mereka bertarung dengan ikan raksasa. Kadang dengan korban nyawa. Berbekal keberanian dan kenekatan. Di darat, meski tanah berada di selangkangan bebatuan besar dan kecil, masih dapat dimanfaatkan untuk menanam ubi dan jagung walaupun tidak menentu tumbuhnya. Lebih banyak gagal.

Tapi di darat inilah para perempuan Lamalera setia menjelajahi puluhan desa di pedalaman untuk membarter hasil bumi berupa jagung, padi, buah-buahan, sayur, ubi-ubian dan sebagainya dengan modal ikan, garam dan kapur.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved