Selasa, 21 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 2 Maret 2022: Puasa dan Pantang Rabu Abu

Puasa dan pantang sudah merupakan praktek yang biasa dalam hidup. Minggu lalu saat merekomendasikan untuk periksa labor, saya diingatkan agar berpuasa

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Sebuah terjemahan tertulis demikian, “Biarkan hatimu yang hancur menunjukkan penyesalanmu, mengoyak pakaian tidaklah cukup".

Pakaian adalah penampakan lahiriah, bisa sekadar topeng atau tipu daya. Allah menghendaki penyesalan dan perubahan batiniah.

Dengan begitu, dapatlah dikatakan, ungkapan "koyakanlah hati" berarti cabiklah hati, remukkan hati, supaya bisa dibentuk jadi baik lagi. Hati yang busuk, buruk diremukkan dan dipermak, diperbaiki, direparasi, diservis. Itu sama artinya bertobat, berpaling kepada Allah dengan sepenuh hati, bukan pura-pura.

Hari ini saya mulai berpuasa pun berpantang. Dengan serius saya bertekad sungguh-sungguh makan kenyang cukup sekali, berpantang tak hanya daging dan garam, tapi terlebih hal atau barang yang membuatku begitu "terpikat dan terikat".

Ini saya lakukan bukan supaya dilihat orang, tapi karena saya memang mau berpaling, berbalik sungguh kepada Tuhanku (bdk. Matius 6:1-6. 16-18).

Sejalan dengan itu, saya pun mau berdoa, lebih dekat dengan Tuhan, lebih dekat dengan sesama, dengan beramal dan berbagi.*

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 2 Maret 2022:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I: Yoel 2:12-18

Koyakkanlah hatimu, dan janganlah pakaianmu.

Bacaan dari Nubuat Yoel:

"Sekarang," beginilah firman Tuhan, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh."

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia,
dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, lalu meninggalkan berkat menjadi korban sajian dan korban curahan bagi Tuhan, Allahmu.

Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang lanjut usia, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya.

Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan mezbah, dan berkata, "Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved