Kamis, 9 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 2 Maret 2022: Puasa dan Pantang Rabu Abu

Puasa dan pantang sudah merupakan praktek yang biasa dalam hidup. Minggu lalu saat merekomendasikan untuk periksa labor, saya diingatkan agar berpuasa

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 2 Maret 2022: Puasa dan Pantang Rabu Abu

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Puasa dan pantang sudah merupakan praktek yang biasa dalam hidup. Minggu lalu saat merekomendasikan untuk periksa labor, saya diingatkan agar berpuasa.

"Pastor ... makan dan minum terakhir sebisanya jam 20.00 ya". Hal yang sama, ketika mengunjungi kenalan yang akan menjalani operasi, di depan tempat tidurnya tergantung kertas kecil bertuliskan "puasa".

Berpuasa, pun berpantang, tentu ada maksud dan faedahnya. Belum lama berselang saya pernah mampir di rumah salah seorang keponakan. Saat makan malam, saya lihat dia hanya menyantap buah.

Saya lantas bertanya, "Kamu nggak makan?" Anak-anaknya serentak berseru, "Mama diet ... sonde makan karbohidrat, makan buah sa ... mau turunkan berat badan, pengen langsing!"

Seorang pastor yang "terkena" diabetes, dengan sengaja berpuasa untuk menjaga agar kadar gula dalam darahnya tidak naik meninggi. Kalau tidak dia terpaksa harus menjalani terapi insulin.

Tiap tahun orang Katolik mesti berpuasa dan berpantang. 40 hari lamanya. Mulai hari Rabu Abu hingga malam Paskah.

Menjelang hari Rabu Abu ini, kemarin saya terima pesan WA dari seseorang. "Romo boleh nanya nggak tentang pantang dan puasa besok? Koq gampang banget kita berpuasa dan berpantang ya ... untuk apa sih?"

Saya menjawab, "Memang gampang sih, tapi sesungguhnya susah juga lho! Mungkin bagi kamu mudah sih makan kenyang sekali sehari. Tak sulit berpantang daging atau garam pada tiap hari Jumat selama masa prapaskah.

Tapi bagi yang lain barangkali tidak gampang. Coba lihat! Ada suami yang "diancam" istri agar berhenti merokok sehari saja susahnya minta ampun. Apalagi kalau dia harus berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati karena selama ini jauh banget dari Tuhan".

Saya pun singgung, lewat nabi Yoel, Tuhan bersabda, "Sekarang juga, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakanlah hatimu, jangan pakaianmu" (Yoel 2:12-13).

Menurut nubuat nabi Yoel, orang Israel memang kadang mesti berpuasa. Mulai dari rakyat biasa sampai raja; dari bayi hingga orang tua. Semua tak terkecuali harus berkabung, menyesal dan mengakui dosa.

Salah satu ekspresi yang mereka tunjukkan adalah mengoyakkan pakaian. Melalui tindakan itu, mereka mengakui keberadaan diri, ketidaklayakan, dan dosa mereka di hadapan Allah yang Mahakudus.

Namun hal yang ditekankan bukan mengoyakkan pakaian, melainkan mengoyakkan hati (Yoel 2:13). Dus, yang paling penting adalah "puasa hati". Puasa lahiriah mesti merupakan ekspresi dari puasa batiniah.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved