Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Dewa Putu Sahadewa: Kenapa Nyepi Berulang?

Jika Fikiran yang memegang kendali justru ego, keinginan, kemelekatan dan nafsu berbalut kecerdasan palsu yang akan merajai perbuatan kita.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Dewa Putu Sahadewa 

POS-KUPANG.COM - Sebagaimana hari dalam kalender , atau apapun patokannya baik peredaran bulan, matahari , atau hitungan 3,5, atau 7 hari atau gabungannya ,peringatan hari suci selalu berulang. Ini mengandung banyak arti.

Di antaranya bahwa selalu terjadi perputaran dalam siklus yang terlihat konstan dalam kehidupan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Siklus yang tidak bisa dihindari bagai perputaran planet-planet dengan matahari sebagai pusatnya, juga perputaran nasib dan kelahiran kembali.

Berikutnya bisa kita pahami sebagai begitu besar kasih Yang Maha Kuasa kepada kita umat manusia karena selalu diberi kesempatan untuk merenungi berulang-ulang kisah karma yang telah kita perbuat dalam kurun waktu tertentu dalam hidup kita, selalu diberi kembali kesempatan untuk memperbaiki diri dan berbuat yang lebih baik.

Baca juga: Jelang Nyepi, PHDI NTT Gelar Berbagai Kegiatan 

Dan betapa maha pemaafnya Beliau atas kekhilafan yang mungkin juga berulang kita perbuat tentu dengan tidak sengaja. Atau di luar kendali Fikiran kita. Karena jika fikiran yang memegang kendali justru ego, keinginan, kemelekatan dan nafsu berbalut kecerdasan palsu yang akan merajai perbuatan kita.

Ada satu teknik yang membuat Fikiran akan diambil alih oleh tingkat yang lebih luhur yaitu jiwa. Jiwa atau Atman diketahui sebagai percikan terkecil dari Tuhan/Brahman, Brahman Atman Aikyam, tentu memiliki sifat mulia, kendali yang mantap di jalan Dharma. Teknik itu adalah teknik meditasi. Di mana pikiran dipusatkan, napas dirasakan, selanjutnya pikiran dan napas begitu juga gerak tubuh "dilupakan" dilepaskan, biarkan jiwa mengambil alih.

Meditasi mewujud dan meruang dalam bentuk ritual perayaan Nyepi.

Menyambut tahun baru Caka 1944 dengan 4 Bratha penyepian yakni: tidak bepergian, tidak menyalakan api, tidak menikmati hiburan, dan tidak bekerja.

Baca juga: Perayaan Nyepi di Kota Kupang: Jefri Ajak Jaga Toleransi

Dalam berbagai tingkat kemampuan meditatif apakah melaksanakan secara harfiah ataupun secara filsafat Nyepi semua adalah karma baik yang sangat diyakini akan menyelamatkan iman pemeluk agama Hindu.

Semua agama di Indonesia sangat menjaga harmonisasi alam semesta dan alam diri pribadi, termasuk ritual dalam Agama Hindu khususnya rangkaian perayaan tahun baru Caka , bukan hanya Nyepi untuk diri dan Nyepi Bumi tapi sejak ritual melasti, menyucikan peralatan upacara dan simbol suci para dewa ke laut, sudah dapat dimaknai sebagai pelestarian dan penghormatan terhadap laut sebagai sumber air yang dapat melarutkan segala jenis kotoran. Untuk dijaga kebersihannya.

Tawur Kesanga melakukan korban suci untuk menyomiakan kekuatan negatif di alam bawah menjadi energi positif yang akan menjaga bumi dari kemalangan dan bencana . Termasuk pawai ogoh-ogoh yang mengingatkan manusia akan berbagai bentuk wajah Butha Kala (kekuatan negatif ) dan megobog.

Baca juga: Memahami Sejarah Nyepi & Makna Catur Bratha Penyepian serta Empat Macam Pantangannya

Puncaknya adalah justru Sepi, Sunyi. Introspeksi diri. Membiarkan bumi bernapas lega dari kepungan polusi dan penyakit akibat ulah manusia, membiarkan diri tenggelam dalam tapa semadi . Terhubung langsung dengan sunya, alam Brahman , bebas dari hiruk pikuk pikiran buruk dan tafakur selama 24 jam penuh.

Dalam sunyinya pikiran dari bepergian kemana-mana, dari hiburan dan kerja dunia, punahnya api amarah dalam diri maka jiwa dimurnikan dan dengan mudah akan mendengar dan meresapi suara dan energi murni dari Yang Maha Kuasa.

Setelah ngembak geni atau telah lewat 24 jam Bratha Nyepi itu , barulah kembali menjalin silaturahmi melalui Dharma Shanti Tahun Baru Caka 1944 (Masehi 1922).

Tahun baru di mana Raja Kaniskha I berhasil menyatukan suku-suku bertikai di bawah kepemimpinan Suku Saka. Sehari setelah bulan mati (Tilem) bulan pertama di India atau bulan ke sembilan, Kesanga, di Bali dan Jawa.

Baca juga: Umat Hindu di Malaka Rayakan Hari Raya Nyepi Tanpa  Pawai Ogoh Ogoh

Kembali bersosialisasi dengan semangat baru, semangat toleransi. Empati dan Kebersamaan. Bandara dan penerbangan di Bali kembali normal, kehidupan dunia nyata , dunia kerja berjalan kembali.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved