Timor Leste

Meskipun Punya Ladang Minyak dan Gas yang Banyak, Timor Leste Diprediksikan Bangkrut 2027, Benarkah?

Negara itu bergantung pada sektor energi minyak yang menyusut, dan pendapatan itu telah menyumbang 78 persen dari anggaran tahun 2017.

Penulis: Maria Enotoda | Editor: maria anitoda
istimewa
Bendera Negara Timor Leste 

POS-KUPANG.COM- Timor Leste atau secara resmi bernama Republik Demokratis Timor Leste yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, adalah sebuah negara pulau di Asia Tenggara.

Negara ini berada di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor.

Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan eksklave Oe-Cusse Ambeno di Timor Barat.

Sejak terbentuknya negara Timor Leste, bumi lorosae selalu dianggap negara yang memiliki masalah perekonomian yang berat.

Baca juga: Polisi Gagalkan Penyelundupan Ribuan Liter Minyak Tanah ke Timor Leste

Timor Leste masuk dalam salah satu negara termiskin di dunia - dari 162 negara Timor Leste berada di posisi 152.

Tak banyak yang tahu, Timor Leste ternyata memiliki ladang minyak dan gas yang luar biasa banyak.

Tapi ladang minyak gas utama miliki Timor Leste itu disebut akan mengering pada tahun 2022.

Bahkan diperkirakan ladang minyak itu akan bangkrut pada tahun 2027.

Baca juga: Enam Tahun di Timor Leste Robertus Nahak Buka Pabrik Tahu di Malaka

Negara itu bergantung pada sektor energi minyak yang menyusut, dan pendapatan itu telah menyumbang 78 persen dari anggaran tahun 2017.

Meski demikian, mantan Presiden Timor Leste, Ramos Horta, pernah optimis bahwa negaranya bisa berkembang, melihat dari jejak sejarah dan kesulitan ekonomi mereka.

Negara tersebut dikatakan sepenuhnya merdeka pada tahun 2002, setelah periode tiga tahun pemerintahan PBB.

Menurut Ramos Horta, Timor Leste memiliki jumlah dokter yang bertambah pesat.

Baca juga: Di Tengah Hujan, Warga Indonesia dan Timor Leste Saling Melambaikan Tangan

"Pada tahun 2002 kami memiliki 19 dokter di seluruh Timor Leste, dan tahun 2017 kami memiliki hampir 1.000," kata Ramos Horta.

"Kami tidak memiliki lsitrik di manapun, termasuk ibu kota Dili, saat ini kami memiliki listrik berkelanjutan di 80 persen negara, 20 persen sisanya menggunakan metode tenaga surya," imbuhnya.

Ramos Horta, yang dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1996 karena melobi pemimpin asing untuk penarikan Indonesia.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved