Berita Lembata Hari Ini

Warga Tahiti Sumbang ‘Meja Pingpong’ untuk SMARD Lembata

Warga Pulau Tahiti Sumbang ‘Meja Pingpong’ untuk SMA SKO San Bernardino di Kabupaten Lembata

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/HO Robert Bala
Pater Ferry (kanan) selalu prihatin dengan kondisi pendidikan dan memberikan kontribusi untuk meningkatkan pendidikan, salah satunya melalui sumbangan meja pingpong selain memberikan beasiswa kepada beberapa siswa. Pater Ferry kini menjadi Provinsial, pimpinan kongregasi SS.CC di Polinesia Perancis. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA- Orang di negara Polinesia Perancis yang terletak di Selatan Samudera Pasifik tentu tidak kenal SMA SKO San Bernardino. Atau warga di pulau Tahiti yang merupakan pulau terpadat di negara itu,  pun tidak merasa perlu mengetahui bahwa di Indonesia ada satu Sekolah keberbakatan Olahraga swasta satu-satunya di Indonesia. 

Tetapi semua ketidakmungkinan itu terjembatani berkat kehadiran Pater Sileverius Tobe Namang, SS.CC. Pastor yang lebih disapa dengan “Ferry Namang” itu sudah berada di negara selatan Samudera Pasifik sejak 4 Januari 2008. Kini memasuki tahun ke-15, ia merasa bahwa negara dengan penduduk sekitar 180 ribu itu dan terutama Tahiti sebagai pulau di mana ia tinggal juga menjadi pulau dan negaranya juga. 

Dari pengenalan itu, umat di negara yang yang hidup dari pariwisata, pembudidayaan mutiara, dan pertanian juga bisa menyisihkan sedikit uangnya untuk bisa membantu SMA SKO SMARD Lembata:

Baca juga: Masyarakat Desa Dikesare Lembata Gelar Ritual Lede Lewu, Tiga Malam Tak Boleh Nyalakan Lampu

“Pola hidup orang di Polinesia Perancis itu seperti orang Eropa. Pendidikan, Kesehatan, bahkan para penganggur pun dapat gaji dari pemerintah. Karena itu mereka juga prihatin kalau ada di bagian dunia lain seperti di Lembata membutuhkan pertolongan dan karena itu mereka bisa memberikan dengan senang hati," demikian tutur Pater Ferry dalam sebuah wawancara jarak jauh, Sabtu 19 Februari 2022 sebagaimana yang dicatat Humas Yayasan Koker. 

Hal itulah yang ia sampaikan kepada orang Tahiti. Ketika mereka mendengar bahwa di SMARD butuhkan meja pingpong, mereka pun membantunya segera dan Pater tidak ingkar bahwa bisa saja masih ada bantuan lagi ke depannya: 

“Kali ini satu meja pingpong. Siapa tahu ke depannya, masing ada orang lain lagi yang bisa menambah satu meja lagi. Sekarang lagi pandemi sehingga kita coba manfaatkan apa yang ada," ungkap pastor asal Atawolo Lembata yang pernah melewati pendidikan di Seminari Hokeng. 

Ingat ‘Dari Mana Berasal’ 

Ia lalu membuka pembicaraan bahwa ia tidak lupakan dari mana ia berasal. 

“Saya selalu ingat tempat di mana saya berasal dengan segala kekurangan dan kelebihan. Saya rasakan dulu bahwa keluarga saya sederhana. Kalau hanya andalkan keluarga saja pasti tidak akan sampai begini. Banyak orang yang telah membantu dan mengantar saya hingga menjadi misi dan bekerja di Polinesia Prancis saat ini," demikian tuturnya.

Baca juga: Warga Desa Tapobali Berhasil Rekam Kapal Pengebom Ikan di Pantai Selatan Lembata

Lanjutnya, “kesederhanaan, ketulusan, bantuan, yang saya terima selalu saya ingat. Saya tidak akan lupakan. Karena itu ketiak ada rezeki atau ada kesempatan bicara dengan umat, saya bisa titipkan pesan mereka agar mereka pun bisa membantu. Jadi bukan saya bantu tetapi saya hanya menjadi jembatan untuk bisa menyampaikan apa yang dibutuhkan orang lain."

Menurut Pater Ferry, apa yang dilakukan itu sebenarnya bukan hal yang besar. Ia selalu diingatkan akan kata-kata Yesus 'kamu sudah menerimanya dengan cuma-cuma, berilah pula dengan  cuma-cuma” (Mat 10,8). Kita telah menerima semuanya dengan gratis dan dengan gratis pula kita bisa memberi.'

Sikap menerima dengan cuma-cuma juga dirasakan di saat-saat awal injakan kaki di negara bekas jajahan Prancis sejak 1880 dan kemudian menjadi negara di luar Perancis (1957-2003). Saat itu ia tidak tahu sama sekali bahasa Perancis tetapi orang-orang dengan sabar menuntunnya sehingga sampai sekarang dapat menguasai baik bahasa Perancis dan bahasa Tahiti.

Penerimaan itu kemudian dikembalikan ke umat Tahiti dalam bentuk pengabdian dan pelayanan. Dalam wawancara itu beberapa kali Pater Ferry begitu merendah dengan ungkapan bahasa daerah yang sangat mendalam: 

“Do ter ate kerumek, meigehe debe le ke te tule har-hare no orehe wujei” (Kita ini orang sangat sederhana, kecil karena itu hanya bisa buat baik dan tulus”. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved