RD Simon Tamelab Dinilai Uskup dan Umat Memenuhi Tri-Tugas dengan Baik
Anton Bele menilai selama menjadi gembala umat sejak dari stasi sampai paroki, RD Simon Tamelab telah melaksanakan tri-tugas dengan baik.
Penulis: Gerardus Manyela | Editor: Gerardus Manyela
Sebagai manusia biasa, kata RD Dus Bone, rasanya tak ingin berpisah, masih ingin bersama, namun harus diterima karena janji ketaatan mengharuskan untuk mengalaminya. Nakmun ketaatan pada ketetatapan dan keputusan itu bukan mengakhiri persaudaran malah memberi ruang agar persaudaraan diperkokoh dengan jarak.
Sebenarnya, kata RD Dus Bone, jarak adalah ruang bagi doa sebagai sarana kesatuan yang tak terpisahkan di antara keduanya dalam persaudaraan imami (antara RD Simon, RD Dus Bone dan RD Toni) dan persaudaraan imani dengan semua umat.
Baca juga: Uskup Agung Kupang Tiba di Gereja St Fransiskus dari Asisi Disambut Ketua Panitia
Dari belajar selama bersama RD Simon, demikian RD Dus Bone, dirinya berusaha menanam cinta dan berakar dengan iman sebagai seorang imam bahwa bersaudara adalah sarana, pelayanan adalah kehadiran dan keselamatan dan kebahagiaan adalah tujuan dari hidup bersama sebagai saudara dalam komunitas parokial.
Ada banyak pengalaman yang telah dilalui bersama selama kurang lebih 6 tahun 7 bulan. Ada banyak cerita indah yang telah tercatat di lembar-lembar harian diary hidup mereka.
"Sebentar lagi kita menulis di lembaran baru di tempat baru dan keadaan baru. Kisah 6,7 akan menjadi kenangan. Namun kisah persaudaraan kita akan tetap hidup. Ya cerita tentang kebersamaan kita sebagai saudara dalam imamat. Pelayanan kita sebagai gembala. Cinta kita sebagai pastor. Perhatian kita sebagai romo," kata RD Dus Bone.
RD Dus Bone mengaku ada banyak hal yang dapat bersama RD Simon, tentang kebijaksanaan. RD Simon selalu bersikap bijak menghadapi setiap persoalan dalam menjalankan reksa pastoral. Mengambil keputusan tanpa memberi luka pada yang diputuskan dan tak memberikan beban pada diri sendiri.
Baca juga: Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Pr : Pemerintah Perhatikan 3 Titik Irigasi di Pulau Timor
Bijaksana menyikapi dan menanggapi dan bijaksana memberi keputusan yang memberi ruang pada hadirnya kasih yang melayani.
RD Simon juga mengajarkan ketenangan. Ketenangan RD Simon bagai air yang mengalir dari gunung hingga menyentuh dataran rendah tanpa memberi bising pada pelayanan tetapi banyak yang mendapatkan kehidupan dari aliran pelayanan yang memberi hidup.
"Saya belajar menjadi pastor yang hidup mengumat dalam pelayanan," kata RD Dus Bone.
Selain itu, RD Simon orangnya selalu bersyukur. Mensyukuri setiap talenta yang dimiliki sekaligus mensyukuri setiap wejangan yang diperoleh.
"Saya belajar jadi pastor yang bisa mengembangkan kemampuan dan bakat. Sadar bahwa saya berkembang juga karena RD Simon sebagai pastor paroki yang selalu memberi kesempatan.
Baca juga: 23 Diakon dan Imam Dithabis, Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Kolhua : Taat Protokol kes
Satu hal yang luar bisa yakni keterbukaan. "Saya belajar juga dari pribadi RD Simon yang selalu terbuka, friendly membuat saya mau belajar jadi pribadi yang tidak anti kritik, terbuka terhadap masukan orang dsb," kata RD Dus Bone.
Satu hal lagi yang selalu diingat tentang RD Simon yakni elalu menghidupkan suasana saat makan bersama. Ada saja cerita-cerita lucu yg membuat suasana persaudaraan semakin akrab.
"Tetap jadi yang terbaik. Yang menjadi kepahitan kebersamaan kita, hendaknya menjadi guru terbaik dalam merajut hari esok yang membanggakan bagi kita. Tetap dukung dan doakan saya juga Usi untuk tugas mulia ini. Salam Nek Mese, Ansao Mese," kata RD Dus Bone.
RD Simon Tamelab mengaku selama bertugas sebagai pastor di Gereja Katolik St. Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang dan dijalankan kurang lebih 11 tahun dengan perjumpaan kasih bersama dengan umat.
Baca juga: Romo Tony Kobesi Digendong Umat Paroki Santu Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kupang