Selasa, 7 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 15 Desember 2021: Masih Ragu?

"Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil. Ia dapat mengubah yang tidak bisa diubah manusia". Kalimat luhur ini sangat sering disuarakan oleh siapa saja.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 15 Desember 2021: Masih Ragu? (Lukas 7:19-23)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - "Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil. Ia dapat mengubah yang tidak bisa diubah manusia".

Kalimat luhur ini sangat sering disuarakan oleh siapa saja. Kadang menghiasi status medsos netizen.

Dari mereka yang hidupnya aman sejahtera, yang terlihat baik dan jarang terdengar ditimpa masalah, yang berpendidikan sangat tinggi, hingga mereka yang terbilang pura-pura aman, sedang terlilit beban hidup.

Memang sangat boleh jadi, kalimat itu diucapkan karena ada keyakinan bahwa situasi berat yang dihadapi akan berubah.

Bisa pula ungkapan itu digunakan sebagai nasihat mulia untuk menguatkan hati atau menutupi ketidakmampuan diri lantaran tak lagi bisa bertahan dan memikul beban.

Tetapi apakah benar kalimat itu sungguh mengalir keluar dari lubuk hati paling dalam sebagai ungkapan imannya kepada Tuhan?

Persoalannya, walau kalimat mulia itu terucap dari mulut, tapi bersamaan dengan itu orang justru meragukan bahwa tak mempercayai bahwa Tuhan memang bisa mengubah sesuatu yang mustahil bagi manusia.

Beberapa waktu lalu terbaca tulisan itu yang menghiasi layar status seorang netizen. Hari ini pada layar yang sama, terposting ungkapan kekesalan, kejengkelan, lantaran masalah pelik yang dihadapinya seakan tak memberinya peluang sedikit pun untuk keluar darinya.

Bisalah dimengerti kalau ada yang berkomentar agak sinis dengan darah yang mungkin mendidih saat membaca kalimat mulia dari netizen itu yang meragukan Tuhan.

Komentator lain menulis tanggapan yang menghentak. Ia membuka tabir dan menunjukkan apa yang memang seharusnya bisa dilihat dan direnungkan.

Pandemi ini telah mengubah gaya hidup dan kebiasaan kita. Dari yang tak pernah berpikir harus bekerja di rumah berbulan lamanya sampai harus menyodok hidung untuk keperluan kesehatan.

Belum lagi memakai masker dan duduk berjarak seperti di tempat ibadah, di dalam pesawat, yang dulu, sebelum pandemi ini datang, kita tak pernah berpikir hidup seperti ini.

Dengan pandemi ini, kita mau tak mau terbuka mata bahwa teknologi yang majunya demikian dahsyat bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved