Berita Ende
Misi Selamatkan 100 Pasang Elang Flores di Alam Kabupaten Ende
membuat sarang dan berkembangbiak di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, yang merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Kelimutu.
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
Oki salah satu staf peneliti yang sudah 11 tahun malang - melintang meneliti burung - burung yang ada di NTT.
Erwin menceritakan, pada tahun 2021 ini terdapat satu anak Elang Flores telah menetas, tumbuh sehat.
Bahkan, anak elang tersebut kini telah mampu berburu makanannya sendiri dan hidup mandiri.
"Ini merupakan sebuah pencapaian besar dan sangat berarti bagi peningkatan populasi jenis ini, yang diperkirakan saat ini hanya tersisa 100 pasang di alam," ungkap Erwin.
Baca juga: PLN Gandeng Polres Ende Laksanakan Kegiatan Vaksinasi
Keberadaan dan kehidupan Elang Flores di Wolojita, kata dia, merupakan informasi yang sangat berharga dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dunia ornitologi.
Sehubungan dengan itu, Erwin mengatakan, diperlukan instrumen pencatatan dan pengumpulan data yang tepat baik dari sisi teknik dan metode agar informasi tersebut dapat bernilai secara saintifik.
Dia menguraikan, model pemantauan, pencatatan dan pelaporan aktifitas Elang Flores yang dilakukan oleh kelompok Jatabara merupakan bentuk citizen science.
Tim memberikan keterampilan dan peningkatan kapasitas kelompok dalam hal pencatatan data di lapangan dalam bentuk pelatihan penggunaan teropong, teknik fotografi burung serta berbagai skills lainnya.
Untuk menguatkan citizen science ini, dibuat pula aplikasi mobile untuk mencatat data habitat, merekam informasi pohon penting, sarang bagi Elang Flores serta simpul database pengamatan catatan perjumpaan.
"Selanjutnya kami juga melakukan ekoliterasi Elang Flores di SDK Wolojita," jelasnya.
Kegiatan tersebut, untuk membangun pengetahuan dan kesadaran sejak dini mengenai burung Elang Flores.
Baca juga: Pimpin Upacara Apel Bendera HUT KORPRI ke-50, Wabup TTU Beri Pesan Menyentuh
"Kami membuat sebuah perangkat berupa activity book Elang Flores, sebuah media bergambar dengan ilustrasi menarik yang diselingi dengan aneka permainan di dalamnya," ujar dia.
Erwin mengatakan, antusiasme siswa dan tenaga pendidik begitu tinggi. "Kami berharap ke depannya buku ini dapat dijadikan salah satu muatan lokal pendidikan konservasi yang berada di dalam kurikulum sekolah," kata Erwin.
Selanjutnya yang tak kalah penting lanjut Erwin, yaitu pihaknya telah melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya kelompok tenun ikat.
Pihaknya mendorong kelompok tenun ikat untuk membuat atau menciptakan motif baru yaitu motif Elang Flores.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/misi-menyelamatkan-100-pasang-elang-flores-di-alam-ende-flores-ntt.jpg)