Berita Sumba Timur

Monev III Konsorsium Malaria Sumba, Bupati Praing Optimis Sumba Timur Zona Hijau Malaria

Monev III Konsorsium Malaria Sumba, Bupati Praing Optimis Sumba Timur Zona Hijau Malaria

Penulis: Ryan Nong | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Bupati Sumba Timur Khristofel Praing 

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Ryan Nong 

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU -- Kabupaten Sumba Timur menjadi satu dari tiga kabupaten di NTT dengan angka kasus malaria tertinggi pada 2021. 

Data Dinas Kesehatan Kependudukan dan Catatan Sipil NTT menyebut tiga kabupaten di Sumba menyumbang akan kasus tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2021.

Dua kabupaten bahkan masuk dalam kategori zona merah malaria. Kabupaten Sumba Barat Daya memegang rekor kasus tertinggi dengan jumlah kasus 2.946 kasus pada 2021, disusul Kabupaten Sumba Barat di peringkat kedua dengan jumlah 1.522 kasus

Sementara itu, Kabupaten Sumba Timur berada di urutan ketiga dan masuk kategori zona kuning malaria dengan jumlah 691 kasus. 

Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing mengklaim, pemerintah kabupaten Sumba Timur telah berada pada track positif untuk melakukan percepatan eliminasi malaria di wilayah itu. 

Tak sampai di situ, pemerintah kabupaten Sumba Timur pun memegang komitmen penuh untuk melakukan percepatan eliminasi malaria di wilayah itu sesuai dengan komitmen nasional yang dituangkan dalam RPJMN 2020-2024 dan SDGs. 

Berbicara dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) konsorsium malaria Sumba di Hotel Padadita, Waingapu Kabupaten Sumba Timur, Jumat 26 November 2021 siang, Bupati Praing membeberkan data penurunan kasus malaria di bumi Matawai Amahu Pada Njara Hamu berjalan sesuai target. 

Mantan birokrat ulung itu mengatakan, sejak penyusunan rencana aksi daerah pada 2018, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur telah melaksanakan berbagai intervensi dalam rangka menekan jumlah kasus malaria baik dari segi penguatan SDM, penyediaan logistik, manajemen kasus, pengendalian vektor termasuk pembagian kelambu massal maupun promosi kesehatan. 

Upaya tersebut, kata Bupati Praing berbuah positif dengan menurunnya angka kasus malaria di Sumba Timur dari 7,09/1000 penduduk angka annual parasit incidence ke 2,58/1000 penduduk pada Oktober 2021.

"Berdasarkan data pada Oktober 2021 maka Kabupaten Sumba Timur optimis akan berada pada zona hijau malaria di tahun 2022 dengan angka annual parasit incidence 1/1000 penduduk menuju eliminasi di tahun 2023," ujar Bupati Praing. 

Meski demikian, Bupati Praing juga menggarisbawahi tanggung jawab bersama dalam upaya eliminasi malaria di Sumba Timur dan Pulau Sumba secara umum. Keberhasilan pengendalian malaria terlebih untuk mencapai eliminasi malaria, menurutnya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau sektor kesehatan saja, tetapi lebih dari itu tetap membutuhkan kontribusi nyata semua pihak. 

Karenanya, Bupati Praing menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan serta masyarakat yang telah berkontribusi dalam menekan angka orang positif malaria di Sumba Timur

Kepada pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kementerian Kesehatan RI menyampaikan harapan agar dukungan yang selama ini diberikan dapat dilanjutkan hingga mencapai titik eliminasi malaria seperti yang diharapkan. 

Dalam monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan atas kerjasama Pemerintah Provinsi NTT, Kementerian Kesehatan, The Global Fund, UNICEF terhadap Pokja Eliminasi Malaria di Pulau Sumba yang terdiri dari Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya itu, Gubernur Viktor Laiskodat langsung meminta pihak pemerintah daerah khususnya Dinas Kesehatan selalu dinas teknik merancang skema intervensi yang dapat dilakukan secara taktis untuk empat wilayah kabupaten itu. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved