Berita Manggarai
Tarian Ja'i Sambut Uskup Ruteng dan Para Imam di Paroki Santu Klaus Kuwu
Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, Pr mempin misa perayaan Ekaristi sekaligus memberikan Sakramen Krisma bagi umat di Paroki St Klaus Kuwu
Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, RUTENG - Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, Pr mempin misa perayaan Ekaristi sekaligus memberikan Sakramen Krisma bagi umat di Paroki St Klaus Kuwu, Minggu 21 November 2021.
Uskup Siprianus dan rombongan imam dari Keuskupan Ruteng tiba di Paroki St Klaus Kuwu pada pukul 07.45 Wita. Dan langsung disambut dengan beberapa ritus adat Manggarai, mulai dari acara pengalungan dan 'Tuak Curu' hingga ritus ada 'Manuk Kapu'.
Kedatangan Uskup Siprianus bersama rombongan para imam itu juga disambut meriah oleh para umat di Paroki itu dengan tarian Ja'i yang merupakan tarian khas asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Adapun diantara penari itu yang terdiri dari kaum biarawan yang berasal dari Komunitas biara Novisiat Sang Sabda Kuwu. Para penari dengan mengenakan busana adat Ngada itu begitu lihai menggerakan badannya dengan iringan musik Ja'i meskipun dibawa cuaca mendung pagi itu.
Uskup Ruteng bersama rombongan tampak sumringah menyaksikan upacara penjemputan yang begitu luar biasa dan penuh riang.
Penyambutan Uskup Ruteng bersama rombongan yang semarak dengan tarian itu dikagumi oleh para umat yang ikut dalam perayaan itu.
"Sungguh begitu antusias. Semangat menari yang tidak bisa dikalahkan oleh keadaan alam yang terlihat mendung," ungkap Lian, salah satu umat Paroki St Klaus Kuwu.
Bagi Lian, suasana alam ini bukanlah menjadi halangan untuk ikut merasakan sukacita dan kegembiraan yang luar biasa.
"Suasana alam ini bukanlah menjadi halangan bagi saya untuk ikut bergembira dalam sukacita menyambut kehadiran yang mulia bapa Uskup Ruteng untuk datang memimpin perayaan ekaristi di paroki kami ini," imbuhnya.
Reinald Meo, ketika ditanyai wartawan terkait pemahaman dan refleksinya tentang tarian Ja'i dalam hubungannya dengan urusan Gerejawi menjelaskan bahwa Ja'i' itu merupakan tarian adat Bajawa, yang dahulunya ditarikan saat acara adat saja. Namun, dalam perjalanan waktu, Ja'i sebagai sebuah tarian syukur tersebut akhirnya ambil peran juga dalam kehidupan sosial-politik dan religius.
"Dan khusus dalam urusan Gerejawi, Ja'i tidak terlepas dari Katolikisasi, yang mana agama (dalam hal ini Katolik) masuk di Ngada dan mulai berbaur dengan budaya setempat, disesuaikan substansinya, dan dirayakan dalam keseharian. Ja'i ditarikan untuk menyambut pejabat pemerintahan, pejabat politik, juga pejabat agama dalam hal ini Gereja,"jelasnya.
Reinald juga menjelaskan, Ja'i itu sejatinya salah satu ekspresi syukur dan kegembiraan, sehingga dengan demikian menjadi lentur dan adaptif dalam perkembangan zaman. Dalam ranah pendidikan, Ja'i sebagai bagian dari pelajaran Muatan Lokal di sekolah-sekolah, juga ditarikan sebagai ungkapan syukur dalam sebuah perayaan Ekaristi.
"Jadi, Ja'i yang awalnya hanya berkaitan dengan urusan kultural Orang Bajawa, makin ke sini makin membuka diri atau dibuka dirinya untuk terlibat dalam lebih banyak lini kehidupan",tutupnya. (*)