Berita Belu

Siswa Alami Keterlambatan Pengetahuan dan Mental

Kepala SD Katolik St. Yosep Atambua 1, Romo Vinsensius Paulo Bria, Pr mengemukakan, lembaga pendidikan merasakan dampak dari pandemi covid-19

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/TENI JENAHAS
Kepala Sekolah Dasar Katolik St. Yosep Atambua 1, Romo Vinsensius Paulo Bria, Pr 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Kepala SD Katolik St. Yosep Atambua 1, Romo Vinsensius Paulo Bria, Pr mengemukakan, lembaga pendidikan sungguh merasakan dampak dari pandemi covid-19.

Dua tahun siswa dirumahkan dengan menggunakan pola pembelajaran daring telah memberikan dampak bagi peserta didik. Siswa mengalami  keterlambatan pengetahuan dan juga mental perkembangannya. 
Perkembangan mental anak sedikit pasang surut. 

"Dampaknya bukan keterlambatan pengetahuan saja tetapi mental perkembangannya juga. Jadi anak anak kelas tiga, mentalnya masih seperti anak-anak kelas satu. Terus anak-anak kelas lima, dia mentalnya masih seperti anak kelas tiga", kata Romo Vinsensius kepada Pos Kupang. Com, saat ditemui, Rabu 17 November 2021

Kata Romo Vinsensius, meski belum dilakukan riset secara sungguh, namun secara kasat mata nilai pencapaian kognitif siswa ada yang masih di bawah standar. 

Menurut Romo Vinsensius, sekolah terus berupaya mengisi kekosongan atau lost learning dengan berbagai pola yang ditawarkan saat tatap muka terbatas. Diantaranya, project based learning atau pembelajaran berbasis proyek. 

"Untuk mengisi lost learning karena satu hari tatap muka satu hari bersama orang tua di rumah, kita haru isi. Disini ada tawar beberapa, seperti project based learning atau pembelajaran berbasis proyek sehingga di rumah, anak anak tetap melakukan tugas atau proyek. Jadi pembelajaran bukan sekedar tatap muka secara ceramah tetapi lebih pada pembelajaran berbasis proyek", jelasnya. 

Lanjut Romo Vinsensius, strategi berikutnya adalah menggunakan modul. Dalam modul tersebut ada panduan untuk orang tua, siswa dan guru yang sudah terintegrasi dalam literasi dan numerasi. Kepadatan materi juga sudah diatur agar lebih fokus. 

"Jadi materi materi dikristalkan sehingga mana materi yang anak haris tahu betul-betul", ujarnya. 

Menurut Romo Vinsensius, yang diupayakan sekolah bukan hanya mempercepat siswa baca dan tulis tetapi juga mentalnya. Pasalnya, baca-tulis bukan jadi masalah untuk anak-anak sekarang karena IQ atau penalarannya yang lebih cepat sehingga ketika dia diberi stimulus sedikit sudah bisa. 

"Menurut saya untuk baca tulis bukan jadi masalah untuk anak sekarang karena IQ atau penalarannya lebih cepat sehingga ketika dia diberi stimulus sedikit sudah bisa", katanya. 

Romo Vinsensius mengharapkan, peran tiga tungku pendidikan yaitu, masyarakat, orang tua dan guru harus dioptimalkan. Poros perkembangannya bukan hanya pada sekolah tetapi juga orang tua. Karena waktu sudah dibagi merata, delapan jam di sekolah, delapan jam di rumah dan delapan jam tidur. 

"Ketika di sekolah bantu tenaga pendidik secara maksimal, ketika di rumah, orang tua sebagai pendidik utama atau pendidik dasar harus membantu", harapnya. (*)

Baca Berita Belu Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved