Rabu, 29 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 16 November 2021: Sebuah Ironi

Zakheus ditampilkan penginjil Lukas dengan identitas yang agak memadai. Ia penduduk kota Yerikho, kepala pemungut cukai, kaya, berbadan pendek

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Selasa 16 November 2021: Sebuah Ironi (Lukas 19:1-10)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Zakheus ditampilkan penginjil Lukas dengan identitas yang agak memadai. Ia penduduk kota Yerikho, kepala pemungut cukai, seorang yang kaya, dan berbadan pendek. 

Identitas "kepala pemungut cukai" yang berpadanan dengan "seorang yang kaya"  langsung memberi kesan negatif bahwa ia seorang yang tidak benar, pendosa.

Menjadi rahasia umum bahwa pemungutan cukai memang rentan tindakan manipulatif, koruptif, "salam tempel", pungutan liar, dan pemerasan. 

Begitu pun postur "berbadan pendek" yang ikut disebut. Dalam pergaulan hidup, orang yang pendek badannya memang hampir selalu menjadi obyek candaan, bahkan bulan-bulanan terkena body shaming. 

Sungguh sebuah ironi! Soalnya kata "Zakheus" dalam bahasa Ibrani adalah "Zakkay" yang merupakan singkatan dari kata Zakharia yang berarti orang benar atau orang saleh.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 13 November 2021: Tekun

Masa orang yang namanya berarti "benar", tapi justru tertampilkan sebagai orang yang "tidak benar". 

Meski begitu, apa yang dilakukan oleh Zakheus sungguh membalikkan ironi diri pribadinya. 

Ketika Yesus melintasi kotanya, Zakheus berusaha melihat orang apakah Yesus itu. Ia ingin tahu tentang Yesus itu (Luk 19:3). 

Untuk memenuhi keinginan hatinya, ia tak segan berlari mendahului orang banyak. Ia pasti tak peduli dengan komentar yang (akan) dilontarkan orang.

Malah ia rela memanjat pohon ara. Sebuah tindakan hebat. Hanya supaya ia bisa tahu orang seperti apakah Yesus itu (Luk 19:4). 

Ini yang luar biasa! Setelah berjumpa dengan Yesus, ia bersukacita. Ia menyambut keinginan Yesus menumpang di rumahnya.

Dan, ia pun berjanji memberikan separoh hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan uang pemerasan (Luk 19:8). 

Ironi lain justru ditunjukkan semua orang lain. Orang banyak itu semula sangat antusias mengikuti dan berada dekat dengan Yesus.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 10 November 2021: Tetaplah Bersyukur

Muncul kesan kuat bahwa mereka adalah orang-orang baik, sahabat-sahabat Yesus. 

Tetapi dengan reaksi sungut-sungut yang mereka berikan terhadap Yesus, memperlihatkan bahwa mereka berbalik dari sikap "bersahabat" menjadi "bermusuhan" dengan Yesus. 

Begitu pun dengan lontaran kata-kata sindiran, "Ia menumpang di rumah orang berdosa!" (Luk 19:7), mereka juga begitu mudah memberi penilaian bahkan vonis kepada sesama. 

Ahmad Albar bersama bandnya God Bless, pernah melantunkan bahwa dunia ini "Panggung Sandiwara". Ceritanya mudah berubah. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Tapi ada peran wajar, ada peran berpura-pura. 

Kisah ironis selalu saja bermunculan. Setiap hari, setiap saat, terus menerus terjadi. Kali ini tampilkan diri sebagai orang baik-baik, tapi berikutnya dimunculkan peran berkebalikan. 

Tapi rupanya Yesus selalu melihat hati, iman. Ia tetap "jatuh hati" pada orang yang menunjukkan sikap perhatian dan iman kepada-Nya.

Ia hanya ingin "menginap" di rumah orang yang sungguh membalikkan ironi dirinya dengan mencari dan menemukan-Nya. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 16 November 2021: Pertobatan Sejati

Sebagai Penyelamat, yang "datang mencari yang hilang" (Luk 19:10), Yesus melihat dengan tajam kebutuhan hati Zakheus dan kesiapsediaannya untuk menyambut-Nya. 

Yesus tidak berbicara tentang dosa-dosa Zakheus. Ia tak bertanya mengapa Zakheus memanjat pohon ara.

Malah Ia tidak meminta izin untuk menumpang di rumah Zakheus.

Yesus justru berprakarsa, "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu!" (Luk 19:5). 

Kita sudah mengikuti Yesus. Kita sungguh dekat dengan-Nya, menjadi sahabat-sahabat-Nya. 

Tapi kisah tentang Zakheus setidaknya menegaskan bahwa keberadaan dekat belumlah menjadi jaminan Tuhan "menumpang" di rumah kita. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 15 November 2021: Name Calling

Kebutuhan hati dalam membalikkan ironi diri pribadi untuk mencari dan menemukan Tuhan-lah, yang akan menggugah

Tuhan berkata, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini" (Luk 19:9).

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 16 November 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I 2Mak 6:18-31

Eleazar adalah seorang ahli Taurat yang utama. Ia sudah lanjut umurnya dan terhormatlah tampan rupanya. Ia dibuka mulutnya dengan kekerasan dan begitu dipaksa makan daging babi.

Tetapi dengan mengutamakan kematian terhormat dari pada hidup ternista ia menuju tempat pukulan dengan rela hati, setelah daging itu dimuntahkannya kembali.

Dan demikian mestinya tindakan orang yang berani menolak apa yang bahkan karena cinta kepada hidup sekalipun tidak boleh dikecap.

Tetapi para pengurus perjamuan korban yang tak halal menyendirikan Eleazar, oleh karena sudah lama mereka kenal baik dengan orang itu.

Lalu mereka mengajak dia untuk mengambil daging yang boleh dipakai dan yang dapat disediakannya sendiri. Cukuplah kalau dari daging korban itu ia hanya pura-pura makan apa yang dititahkan raja.

Dengan berbuat demikian ia dapat meluputkan diri dari kematian dan mendapat perlakuan baik demi persahabatan lama di antara mereka.

Tetapi Eleazar mengambil keputusan mulia, yang pantas bagi umurnya, bagi kehormatan usianya, bagi ubannya yang jernih dan teramat mulia, pantas bagi cara hidupnya yang jernih sejak masa mudanya dan terlebih pantas bagi perundang-undangan suci yang diberikan oleh Allah sendiri. Dengan tegas dimintanya, supaya segera dikirim ke dunia orang mati saja.

Katanya, “Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing.

Boleh jadi mereka kusesatkan dengan berpura-pura demi hidup yang pendek dan fana ini dan dalam pada itu kuturunkan noda dan aib kepada usiaku.

Kalaupun sekarang aku lolos dari dendam dari pihak manusia, tetapi tidak dapatlah aku melarikan diri dari tangan Yang Mahakuasa, baik hidup maupun mati.

Dari sebab itu dengan berpulang sebagai lelaki aku sekarang mau menyatakan diri layak bagi usiaku.

Dengan demikian akupun meninggalkan suatu teladan luhur bagi kaum muda untuk dengan sukarela yang mulia mati bagi hukum Taurat yang mulia dan suci itu.” Setelah berkata demikian, Eleazar segera menuju tempat siksaan.

Adapun orang-orang yang mengantarnya ke sana merubah kesudian yang belum lama berselang mereka taruh terhadapnya menjadi permusuhan. Itu dikarenakan oleh perkataan yang baru diucapkan Eleazar dan yang mereka pandang sebagai kegilaan belaka.

Ketika sudah hampir mati karena pukulan-pukulan, maka mengaduhlah Eleazar, katanya, “Bagi Tuhan yang mempunyai pengetahuan yang kudus ternyatalah bahwa aku dapat meluputkan diri dari maut dan bahwa aku sekarang menanggung kesengsaraan hebat dalam tubuhku akibat deraan itu. Tetapi dalam jiwa aku menderita semuanya itu dengan suka hati karena takut akan Tuhan.”

Demikian berpulanglah Eleazar dan meninggalkan kematiannya sebagai teladan keluhuran budi dan sebagai peringatan kebajikan, tidak hanya untuk kaum muda saja, tetapi juga bagi kebanyakan orang dari bangsanya.

Demikianlah sabda Tuhan

Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 3:2-7

1. Banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.”

2. Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.

3. Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.

4. Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik.

Bait Pengantar Injil 1Yoh 4:10b

Allah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai silih atas dosa-dosa kita.

Bacaan Injil Luk 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Demikianlah Sabda Tuhan

Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved