Minggu, 19 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 3 November 2021: Pilihan Tegas

Penginjil Lukas menyebutkan bahwa "banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya" (Luk 14:25). 

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 3 November 2021: Pilihan Tegas (Lukas 14:25-33)

Oleh:  RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Penginjil Lukas menyebutkan bahwa "banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya" (Luk 14:25). 

Tentu yang dimaksud dengan perjalanan itu adalah perjalanan Yesus ke Yerusalem, tempat Ia bakal ditolak, dibunuh, dan disalibkan, tetapi akan dibangkitkan. 

Pertanyaannya, apakah semua orang itu juga berani dan bertahan mengikuti-Nya terus sampai ke akhir perjalanan-Nya? 

Pertanyaan ini tentu saja pasti juga terarah kepada diri kita masing-masing yang tengah berusaha untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Apakah kita pun bertahan mengikuti Dia sepanjang hidup kita? 

Saat-saat awal sebagai imam baru, ketika ikut merayakan pesta perak imamat, pesta emas imamat, atau pesta intan imamat dari para pastor senior, selalu muncul pertanyaan 'apakah saya bisa seperti mereka; bertahan hingga menggapai perak, emas, intan dalam hidup imamat? 

Bila ada orang yang menikah dan mengunggah foto-foto pernikahannya di medsos, pasti akan bertebaran banyak komentar yang kurang lebih mirip, "Semoga bisa langgeng sampai kakek-nenek". 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 2 November 2021: Hidup Kekal Bersama Allah

Ini ungkapan harapan semoga orang bisa bertahan menjalani perkawinannya hingga maut memisahkan. 

Ketika ikut ambil bagian dalam perayaan emas perkawinan sepasang pasutri, MC bertanya kepada pasutri berbahagia itu,  'Apa sih kiatnya agar bisa langgeng hingga 50 tahun?' 

Dalam konteks perjalanan mengikuti Yesus, pertanyaan yang sama bisa dikedepankan, bagaimana caranya kita dapat mengikuti Yesus sampai akhir? 

Kepada orang banyak yang mengikuti-Nya dan pasti termasuk juga kepada kita, Yesus menyampaikan syarat yang harus dipenuhi agar orang dapat disebut murid-Nya yang sejati; pengikut-Nya yang bertahan sampai akhir. 

Syarat pertama kedengarannya keras. Yesus bilang, orang yang tidak "membenci" orang tua, keluarga, sanak, nyawa sendiri tak layak menjadi murid-Nya (Luk 14:26). 

Ungkapan "membenci" dalam gaya bicara Semit biasa dipakai untuk menggambarkan sikap tidak memihak. Bukan sikap netral, abu-abu, suam-suam kuku; melainkan pilihan tegas "tidak". 

Dalam mengikuti Yesus hingga akhir, kita diingatkan, agar tidak lagi memihak pada ikatan-ikatan kekerabatan, kepentingan dan urusan keluarga. Mengapa? 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Oktober 2021: Rendah Hati di Hadapan Tuhan

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved