Breaking News:

Berita Kota Kupang

Save the Children: Hari Ini Pembaca, Besok jadi Pemimpin

Klausa ini menggambarkan sebuah hubungan kausalitas antara sebuah kebiasaan membaca sejak kecil yang dapat membentuk seorang

Penulis: Paul Burin | Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
SUDUT BACA KELAS- Ibu Elisabeth Liunome, Wali Kelas 3 SDN Fatutela bersama anak-anak di sudut baca kelas. 

POS-KUPANG.COM-PEMBACA hari ini adalah seorang pemimpin di hari esok. Klausa ini menggambarkan sebuah hubungan kausalitas antara sebuah kebiasaan membaca sejak kecil yang dapat membentuk seorang menjadi pemimpin di kemudian hari. Tentu tesis ini tidak sulit dicarikan pembuktiannya.

 Banyak pemimpin besar dunia, baik di bidang politik mapun bisnis adalah para pembaca dalam kesehariannya. Mereka adalah para pembaca serius yang bahkan punya target jumlah bacaan atau buku tertentu untuk dihabiskan dalam rentang waktu tertentu. Membaca dapat menajamkan pikiran, memperkuat penalaran dan memperluas kesadaran.  Atribut-atribut inilah yang membentuk seorang pemimpin.

Di Indonesia, kesadaran dan ketertarikan untuk membaca masih menjadi sebuah soal. Data UNESCO menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah,  yakni hanya 0,001 atau hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. Minat membaca anak Indonesia memrihatinkan. Data lain ditemukan oleh  Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019,  misalnya menunjukkan bahwa tingkat literasi Indonesia masih sangat rendah, menempati ranking ke-62 dari 70 negara  atau berada di 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Setali tiga uang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi menjadi satu dari empat provinsi dengan tingkat literasi yang sangat rendah.

Baca juga: Kisah Anak-anak SDI Kotabes Belajar Menghindari Kekerasan, Save the Children Fasilitasi Forum Anak

Ini tentu mengecewakan. Bill Gates, Pendiri Microsoft suatu waktu pernah berkata, "Jika budaya anda tidak menyukai orang-orang kutu buku, anda berada pada masalah yang serius." Dan, masalah ini sungguh serius bagi kita, terutama karena data-data di atas dan dampaknya terhadap generasi muda masa depan kita.

Ada banyak faktor yang memengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia. Di samping pembiasaan yang masih merupakan sebuah persoalan budaya, tingkat keterpaparan juga dapat dilihat sebagai sebuah sebab. Anak, misalnya yang masih dalam tahap pembelajaran literasi dasar akan kesulitan untuk berkembang kemampuan literasinya tanpa ada ekposur yang cukup terhadap sumber literasi. Di kelas awal sekolah dasar, di mana anak mulai belajar keterampilan dasar literasi, anak membutuhkan keterpaparan terhadap sumber literasi dan pengajaran yang tepat. Di level ini, di samping keterampilan literasi diajarkan, minat akan literasi juga bisa ditumbuhkan.

Saat ini, Save the Children Indonesia melalui Program School for Change mengimplementasi pendekatan percepatan keaksaraan untuk mendukung 56 sekolah dasar di Kabupaten Kupang. Percepatan keaksaraan atau yang dikenal dengan Literacy Boost adalah sebuah pendekatan yang mengombinasikan tiga elemen utama, yakni pelatihan guru, partisipasi masyarakat dan asesmen literasi. Para guru dilatih dan didampingi untuk mengaplikasikan strategi-strategi percepatan keaksaraan di dalam kelas. Orangtua dan masyarakat didorong untuk mendukung pembelajaran literasi anak di rumah dan lingkungan tempat tinggalnya.

 Sementara itu, asesmen literasi adalah sebuah pengukuran yang diarahkan untuk melihat kemampuan literasi anak baik sebelum maupun setelah intervensi percepatan keaksaraan.
Pengukuran awal misalnya telah dilakukan di 56 sekolah oleh Save the Children bersama Universitas Nusa Cendana di Kabupaten Kupang yang menunjukkan bahwa keahlian literasi anak masih rendah. Studi menemukan bahwa skor akurasi membaca anak kelas 1 adalah di bawah 50% (hanya rata-rata 37%).

 Sementara untuk kelancaran membaca, anak-anak pembaca dari kelas 1 hanya mampu membaca secara akurat sebanyak 24 huruf dalam satu menit.
Inilah alasan mengapa pendekatan ini dilakukan. Secara khusus dalam pelatihan, guru dilatih untuk menggunakan berbagai teknik dan pendekatan untuk mendorong peningkatan anak dalam lima keterampilan dasar literasi, yakni pengetahuan huruf, kesadaran fonemik, pemahaman kosakata, kelancaran membaca dan pemahaman bacaan.
Untuk pengetahuan huruf misalnya, guru diperkenalkan dengan teknik pengenalan abjad melalui permainan kartu huruf, pemanfaatan dinding huruf (dimulai dari huruf kecil), penyusunan huruf menjadi kata, dan permainan bingo dengan huruf.

Di level kesadaran fonologi, untuk mendukung kemampuan mengenali bunyi bahasa termasuk memanipulasi fonem, diperkenalkan teknik mengenal fonem/bunyi terkecil dari huruf, kosa kata atau kata, mendikte satu kata dari nama benda dan bunyi huruf pertamanya, dan bermain tepuk suku kata.
Untuk pengenalan kosa kata, guru dilatih dengan teknik untuk mendukung keterampilan pengusaan kosakata seperti memberi nama pada gambar, bermain sorak/bingo kata, mengenal rumpun kata, memaparkan kata berulang-ulang seperti pemanfaatan dinding kata, pengenalan kata sulit,  kata panjang lebih dari tiga suku kata dan kata baru, dan membaca daftar kata yang sering muncul.

Di level kelancaran membaca ada beberapa teknik untuk mendukung keterampilan kelancaran membaca, yaitu membaca nyaring terbimbing (didampingi oleh orang dewasa atau teman), membaca diam, membaca bersama-sama, membaca bergema dan membaca dialog dengan ekspresif (teater pembaca).

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved