Breaking News:

Opini Pos Kupang

Hujan, Banjir, dan Sampah

BEBERAPA hari terakhir ini, Provinsi NTT, termasuk wilayah Kabupaten Ende, diguyur hujan lebat

Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

Oleh Alexander Bala Gawen, Dosen Universitas Flores Ende

POS-KUPANG.COM- BEBERAPA hari terakhir ini, Provinsi NTT, termasuk wilayah Kabupaten Ende, diguyur hujan lebat. Siapapun pasti bersyukur atas rahmat terindah Sang Empunya kehidupan yang telah merahmati bumi dan tanah dengan air hujan.

Tentu ini merupakan hujan berkat dalam sisi pandang keyakinan. Di tengah aktivitas dan kesibukan para petani ladang melakukan persiapan membuka lahan baru untuk musim tanam tahun ini, hujan berhari-hari dalam musim persiapan tersebut menghadirkan ketidaknyamanan pada diri petani.

Bahwa apakah lahan baru yang sedang digarap bisa dituntaskan atau tidak. Hujan mendahului musim tanam (dalam hitungan kalender petani) akan mengurangi intensitas curah hujan di musim tanam hingga musim tumbuh, tunas, dan buah tanaman-tanaman petani.

Jika hujan berlebihan pada musim pratanam, apakah menjadi tanda fenomena gagal tanam sekaligus gagal panen tahun ini? Sebagai anak petani, sekian tanya demikian spontan kita rasakan dalam denyut nadi dan guratan kecemasan yang tergaris di wajah mereka, bahkan tersimpan kuat dalam memori para petani tentang hujan deras di bulan-bulanseperti ini.

Baca juga: Info Cuaca BMKG di 33 Kota Besar Sabtu 5 Juni 2021: 12 Kota Ini Berpotensi Diguyur Hujan Petir

Masing-masing kita juga para petani punya alasan tentang ini. Ada ceritera komunal tentang kepercayaan budaya etnik tertentu di pulau ini akan pelanggaran sumpah atau pantang oleh sebagian masyarakat petani tentang menanam tanaman-tanaman tertentu yang dilarang di wilayah itu.

Tanaman-tanaman tertentu tersebut hanya bisa ditanam di wilayah yang lain. Pelanggaran demikian akan memunculkan sanksi kultural, misalnya turunnya hujan deras di bulan-bulan seperti ini. Namun, yang pasti hujan apapun intensitasnya merupakan bagian kehadiran dari siklus kehidupan kita umat manusia.

Sebab, hujan mendatangkan mata air kehidupan. Tidak saja bagi petani, tetapi bagi umat manusia sebagai komunitas untuk tetap hidup. Hujan besar dan berakibat banjir, menimbulkan korban, baik material dan korban jiwa merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Terutama yang sedang dialami oleh para warga kota yang rumahnya dimasuki banjir, lorong-lorong ditumpuki lumpur, tembok penyokong rumah, maupun fasilitas umumjalan raya rusak, dan kerugian lain akibat banjir.

Baca juga: Diguyur Hujan, Umat Gereja Paroki Roh Kudus Labuan Bajo Antusias Ikut Ibadah

Banjir yang melanda kota Ende, misalnya, terutama pada bagian selatan Jalan Nenas, Perumnas, sepanjang Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Ahmad Yani merupakan wilayah terendah sasaran banjir.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved