Berita Pemprov NTT
Fary Francis : Sudah Saatnya Sepakbola NTT Punya Masa Depan
Kita berharap mereka bisa memberikan suara dan memilih yang terbaik, yang diyakini bisa membawa perubahan dalam sepak bola NTT
Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - NTT mempunyai potensi pemain yang sangat mumpuni untuk bersaing ditingkat nasional.
Diperlukan tim atau sebuah organisasi dengan pemimpin berlatar pesepakbola untuk bisa mengakomdir segala rencana besar ini.
Pemilik SSB Bintang Timur, Fary Djemy Francis, dalam dialog bersama awak media, Sabtu 11 September 2021 mengutarakan mimpinya membawa sepakbola NTT menunju masa depan yang mumpuni di kancah nasional.
POS KUPANG : Apa sikap bapak terhadap aspirasi yang mengalir dari Askab-Askab terkait pengajuan sebagai calon ketua PSSI NTT?
Fary Francis : Saya menghargai aspirasi yang berkembang dan mengalir itu. Tetapi saya minta kalau itu memang serius, ya harus juga dikomunikasikan dengan Askab-Askab lain yang memiliki hak suara. Agar nada dasar kami sama, melakukan perubahan di PSSI NTT yang lebih baik.
Perubahan itu bisa terjadi jika para voters juga memiliki visi perubahan yang sama. Saya membaca di sosial media cukup banyak dukungan yang mengalir dari publik. Namun ini tidak cukup untuk mewujudkan mimpi perubahan di sepak bola NTT jika para voters tidak memberikan dukungan.
Karena itu saya minta Askab-Askab yang meminta kesediaan saya menjadi Ketua PSSI NTT agar bisa membangun komunikasi dan mengajak Askab/Askot lain juga memberikan dukungan.
Baca juga: Satgas SPIP Terintegrasi Lingkup Pemprov NTT Dikukuhkan Wakil Guberur NTT
Demikian pun kepada publik yang mendukung, saya minta agar bisa dikomunikasikan kepada pengurus Askab masingmasing. Dukungan publik menjadi berarti ketika senada dengan dukungan Askab di daerah masing-masing.
POS KUPANG : Apa sebenarnya yang menggerakkan bapak untuk sangat intens pada sepak bola?
Fary Francis : Bagi saya, sepak bola bukan sekadar hobi. Bukan juga hanya pengisi waktu senggang atau semacam olahraga sebagaimana biasanya. Bukan. Sepak bola adalah passion. Dibangun di atas wadas cinta. Diperjuangkan dengan penuh komitmen dan semangat pantang menyerah.
Semua orang bisa bermain bola, bisa mengurus bola. Namun tidak semua orang bisa memperlakukan dan mengelola sepak bola dengan passion. Passion adalah gairah besar untuk mencapain tujuan.
Passion juga adalah sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas tanpa paksaan, suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar seseorang. Orang yang memiliki passion sepak bola tidak berpikir cost and benefit (untung dan rugi) bila mengurus bola. Bahkan orang-orang semacam itu memberikan banyak pengorbanan: waktu, tenaga, fokus, jaringan, materi demi sepak bola.
Saya ingat ketika awal saya merintis dan mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Atambua, banyak orang bertanya mengapa harus buat SSB. Itu tidak mendatangkan profit, malah harus mengeluarkan banyak uang.
Baca juga: Harga Tes PCR Rp 550 Ribu, Pemprov NTT Belum Sikapi Perintah Jokowi
Begitu juga ketika saya mengorganisir banyak even sepak bola atau mengirim anak-annak SSB dan akademi berlatih hingga ke luar negeri. Saya katakan, ini tidak bisa dijelaskan dengan logika. Hanya bisa dijelaskan dan dirasakan dengan logika cinta. Passion pada sepak bola memang menuntut pengorbanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fary-francis-baju-putih-didampingi-david-fulbertus.jpg)