Breaking News:

Berita Flores Timur

DPRD Sebut Dugaan Mark Up Anggaran Dana Covid-19 di Dokumen BPBD Flotim

Raimundus Boli Pehan mengatakan dokumen yang disajikan BPBD mengada-ada, karena tidak riil sesuai data yang disajikan. 

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/AMAR OLA KEDA
Anggota DPRD Flotim, Raimundus Boli Pehan 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA- Rapat gabungan komisi DPRD Flores Timur (Flotim) berjalan alot saat BPBD sebagai leading sektor mempertanggungjawabkan dana covid-19 tahun 2020 sebesar Rp 14 Miliar di balai gelekat, Sabtu 11 September 2021.

Pantauan wartawan, sidang yang dipimpin Wakil Ketua DPRD, Mathias Enai itu diskors beberapa kali lantaran BPBD tidak mampu menjelaskan beberapa rincian data penggunaan anggaran.

Hingga pukul 7.00 WITA, sidang kembali dibuka. Meski demikian, BPBD belum juga mampu menjawab pertanyaan DPRD yang mengejar beberapa item belanja.

Sidang pun akhirnya diskors hingga, Senin 13 September 2021.

Saling debat antara DPRD dan asisten bidang pemerintahan dan kesra Setda Flotim, Abdul Razak sempat terjadi saat anggota DPRD dari fraksi Gerindra, Raimundus Boli Pehan mengatakan dokumen yang disajikan BPBD mengada-ada, karena tidak riil sesuai data yang disajikan. 

Baca juga: Pesona Pantai Meko Pulau Adonara Flores Timur: Spot Terbaik Menikmati Matahari Terbit

"Ini benar-benar  mengada-ada karena tidak riil dalam dokumen. Item dan total anggaran juga sama. Jangan pakai pelogisan. Dokumen itu dibuat berdasarkan format link. Jadi Kalau dihitung secara angka matematis, dari kesatuan sampai greentotal, nilainya tetap sama yang selama ini dibahas," ujarnya.

"Saya tidak mengada-ada. Saya basicnya orang hukum," jawab Abdul Razak.

"Asisten 1 terlalu cepat melogiskan. Maka saya sampaikan itu mengada-ada. Dan itu bagian dari pelogisan. Kalau kita beradimminstrasi, bukan begitu. Tidak pakai pelogisan. Saya pakai pendasaran. by data dan dokumen. Item, greentotalnya pas, akumulasi anggaran juga pas," sambung Mundus. 

Menurut Mundus, hampir semua item ditemukan kejanggalan bahkan banyak mark up.

"Kejanggalan ini bisa saja janggal input, janggal nota dan lainnya. Sesuai format data yang disajikan, kalau saya mau jujur katakan, paling banyak murkup. Ini saya jujur menyampaikan. Kenapa saya bilang murkup, buktinya tadi harga printer yang satuannya seharga Rp 650 ribu yang kalau diakumulasikan hingga Rp26 juta untuk 40 buah tinta warna. Siapa saja yang melihat data ini pasti menyampaikan, ini salah. Termasuk secara administrasi juga salah," tutupnya. (*) 

Berita Flores Timur Terkini

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved