Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 1 September 2021: Perhatian dan Kunjungan

Kisah Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain dalam Lukas 4:38-44, bila disimak dengan saksama,memberikan banyak pesan penting

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 1 September 2021: Perhatian dan Kunjungan (Lukas 4:38-44)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Kisah Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain dalam Lukas 4:38-44, bila disimak dengan saksama, memberikan banyak pesan penting untuk hidup imaniah kita. Kita coba menguak beberapa hal untuk permenungan.

Pertama, Lukas berkisah bahwa sekeluarnya dari rumah ibadat, Yesus pergi ke rumah Simon, murid-Nya. Rupanya Yesus suka berkunjung ke rumah para sahabat-Nya. Kunjungan Yesus ke rumah Simon sungguh-sungguh dalam rangka persahabatan belaka.

Kita bisa bermenung sejenak saat membaca tuturan Lukas itu. Selama ini agaknya kita mungkin jarang berkunjung dalam rangka persahabatan.

Di ruang kuliah, seminar, retret, rekoleksi, pertemuan pastoral, selalu dikumandangkan 'pastoral kunjungan; pastoral kehadiran'. Bagi saya pribadi sebagai seorang imam, ini penting untuk kenal umat pun situasi kondisinya. Pun agar saya ada di tengah umat dan sungguh jadi 'gembala berbau domba'.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 31 Agustus 2021: Setan

Sebagai pimpinan di perusahaan, kantor, sekolah, rumah sakit, atau di mana pun, "turba" atau turun ke bawah, blusukan memang sangatlah bermakna. Selain bisa membangun keakraban dan persaudaraan, terjalin interaksi dan jalinan hati. Dengan itu pun kita bisa mengenal kondisi dan memahami segenap persoalan serta tanggap untuk mengambil langkah penanganannya.

Namun dalam kenyataan, kita lebih banyak ada di menara gading pastoran, rumah, kantor, ruang kerja kita; merasa nyaman dan tak mau diganggu orang lain.

Di kalangan sesama di lingkungan sekitar pun orang semakin jarang saling berkunjung. Salah satu kesempatan yang tampan ialah pertemuan kring/lingkungan, RT/RW. Namun berapa sih yang merasa tergugah dan terikat oleh karena rasa kebersamaan dan keakraban sehingga merasa ada sesuatu yang kurang bila tak hadir?

Di akhir misa selalu dibekali dengan berkat dan perutusan: "Marilah pergi! Kita diutus!" Tapi apakah kita sungguh merasa terdesak untuk pergi berkunjung ke bagian-bagian bawahan kita; pergi ke tetangga sebelah dengan membawa sukacita dan cinta?

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 30 Agustus 2021: Mukjizat Itu Nyata Karena Iman

Kedua, setelah mengetahui tentang sakitnya ibu mertua Simon, Yesus langsung pergi melihat keadaannya. DIA lalu berdiri di sisi perempuan itu dan menghardik demamnya sehingga penyakit itu pun lenyap.

Di antara sesama kita sering ada yang sakit. Sebagai petugas medis, sesama kita terbanyak dan teristimewa adalah si sakit. Dari pengalaman, kita tahu biar dikunjungi sebentar saja, sesama yang sakit itu sudah merasa senang. Maka kehadiran kita di sisi saat sesama sakit sesungguhnya merupakan rahmat kegembiraan istimewa.

Ketiga, setelah sembuh ibu mertua Simon melayani para tamu. Hal kecil dan sepele ini ternyata dicatat oleh Lukas. Rupanya "melayani" harus tetap kita ingat sebagai sifat dasar yang harus dimiliki sebagai murid Tuhan. Yesus pun seorang pelayan yang tidak ada duanya. Dan ... alangkah bagusnya bila kita yang baru disembuhkan oleh Tuhan dari penyakit atau 'demam' apa pun, terdorong untuk melayani. Itulah ungkapan rasa syukur dan terima kasih kita.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021: Menjadi Manusia Otentik

Keempat, teryata di rumah mertua Petrus, Yesus tak hanya menyembuhkan sang ibu mertua Petrus; tapi juga orang-orang sakit lain, yang menderita bermacam-macam penyakit.

Hati Yesus terbuka bagi semua orang. Tanpa membeda-bedakan. Rasa belas kasihan-Nya terarah kepada siapa saja yang menderita.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved