Selasa, 14 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021: Menjadi Manusia Otentik

Bacaan injil hari Minggu Biasa XXII ini, 29/8/2021, yakni Mrk 7:1-8.14-15.21-23, berbicara tentang kritik Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat.

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
RD. Siprianus S. Senda 

Renungan Harian Katolik Minggu 29 Agustus 2021: Menjadi Manusia Otentik

Oleh RD. Siprianus S. Senda*

POS-KUPANG.COM - Dalan hidup bersama, kerap kita dengar ungkapan ini. Omong lain, buat lain. Apa yang dikatakan, berbeda dengan apa yang diperbuat.

Contoh yang paling terkenal adalah ungkapan "Katakan tidak pada korupsi". Tetapi karena yang mengucapkan ini justeru melakukan korupsi, maka publik memplesetkannya menjadi "Katakan tidak padahal korupsi". 

Bicara itu memang gampang. Menghayati apa yang dibicarakan itu tidak mudah. Dengan mudah kita dapat memberi nasihat kepada orang, "Sudahlah, jangan mendendam. Mendendam itu tidak baik."

Tetapi ketika situasi yang sama kita alami, segala nasihat kita justeru kita abaikan. Kita malah mendendam. Lain kata, lain perbuatan. 

Bacaan injil hari Minggu Biasa XXII ini, yakni Mrk 7:1-8.14-15.21-23, berbicara tentang kritik Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 28 Agustus 2021: Menghargai dan Mensyukuri Talenta

Mereka mengajarkan hal yang satu, sementara perbuatannya bertentangan dengan apa yang diajarkan.

Mereka menekankan perbuatan lahiriah yang legalistik, sementara cinta kasih diabaikan.

Mereka mengutamakan adat istiadat, sementara perintah Tuhan disingkirkan.

Pada akhirnya mereka kelihatan saleh, tapi ternyata salah. Kelihatan suci, tapi ternyata licik. 

Maka Yesus mengkritik mereka dengan mengatakan, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang munfaik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu."

Kritik Yesus ini persis menegaskan, lain di bibir, lain di hati. Lain yang diajarkan, lain yang dilakukan. Lain motivasi, lain perbuatan. Motivasi untuk puji diri, perbuatan seolah-olah untuk Tuhan. 

Kritik Yesus itu menelanjangi orang Farisi dan ahli Taurat yang memang terkenal dengan kemunafikan. Mereka bersikap legalistik, kelihatan taat hukum Taurat, tetapi dengan motivasi makan puji.

Hatinya jauh dari Allah. Karena dipenuhi dengan pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan dan sebagainya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 25 Agustus 2021: Manusia Biasa

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved