Laut China Selatan

Amerika Beri Peringatan Keras ke China Soal LCS Kalau Serang Filipina Sama Halnya Bunuh Diri Sendiri

Presiden Amerika SerikanJoe Biden melalui Menteri Luar Negeri Antony Blinken memberikan peringatan keras kepada China.

Editor: Frans Krowin
Tribunnews.com
Kapal Perang Jepang Harusame dan Amagiri saat berlayar di Laut China Selatan. (REUTERS/MARITIME STAFF OFFICE OF THE DEFENCE MINISTRY OF JAPAN via DW INDONESIA) 

POS-KUPANG.COM, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serika tJoe Biden melalui Menteri Luar Negeri Antony Blinken memberikan peringatan keras kepada China.

Peringatan keras Amerika Serikat tersebut merespon sikap China yang dinilai berlebihan terhadap kapal-kapal yang berlayar di Laut China Selatan

Amerika Serikat juga mengingatkan China untuk tidak menyerang angkatan bersenjata Filipina yang berlayar di Laut China Selatan.

Apabila peringatan itu diabaikan, maka pemerintah negara super power itu akan mengambil tindakan tegas terhadap negeri panda tersebut.

Washington juga mengultimatum bahwa jika China mengabaikan larangan itu, maka Amerika Serikat akan mengaktifkan perjanjian pertahanan bersama antara AS dan Filipina tahun 1951.

Salah satu pasal dalam perjanjian itu berbunyi, “Setiap pihak mengakui bahwa serangan bersenjata di area Pasifik terhadap salah satu pihak akan berbahaya bagi perdamaian dan keselamatannya sendiri dan menyatakan bahwa pihaknya akan bertindak untuk menghadapi bahaya bersama sejalan dengan proses konstitusional.”

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Minggu 11 Juli 2021 sebagaimana dilansir Reuters.

Baca juga: China Dituding Bangun Tembok Raksasa di Dasar Laut China Selatan, Fakta Terkuak dari Foto Satelit

Blinken memberikan pernyataan tertulis tersebut dalam peringatan tahun kelima keputusan pengadilan arbitrase internasional yang menolak klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan.

China berulangkali mengeklaim sebagian besar perairan Laut China Selatan, perairan yang juga diperebutkan oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

Lima tahun lalu, pengadilan arbitrase internasional memutuskan untuk menolak klaim China tersebut. Namun “Negeri Panda” masih ngotot mempertahankan klaimnya.

"AS menegaskan kembali kebijakan 13 Juli 2020 mengenai klaim maritim di Laut China Selatan," kata Blinken.

Kebijakan tersebut merujuk penolakan AS yang dikeluarkan mantan Presiden Donald Trump terhadap klaim Beijing atas sumber daya lepas pantai di sebagian besar Laut China Selatan.

“Kami juga menegaskan kembali bahwa serangan bersenjata terhadap angkatan bersenjata Filipina, kapal umum, atau pesawat terbang di Laut China Selatan akan mengaktifkan komitmen pertahanan bersama AS berdasarkan Pasal IV Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Filipina tahun 1951,” tambah Blinken.

Baca juga: China Berambisi Kuasai Laut China Selatan, Rahasianya Diduga Ada di Balik 9 Garis Putus-Putus, Apa?

Pemerintah Filipina mengungkapkan pada Rabu 31 Maret 2021 bahwa lebih dari 250 kapal China yang diyakini beroperasi dekat enam pulau, yang diklaim Filipina dekat perairan Laut Cina Selatan.(NATIONAL TASK FORCE- WEST PHILIPPINE SEA via AP)
Pemerintah Filipina mengungkapkan pada Rabu 31 Maret 2021 bahwa lebih dari 250 kapal China yang diyakini beroperasi dekat enam pulau, yang diklaim Filipina dekat perairan Laut Cina Selatan.(NATIONAL TASK FORCE- WEST PHILIPPINE SEA via AP) (Kompas.com)

Filipina Usir Kapal Tempur China

Korps Penjaga Pantai Filipina mengklaim telah mengusir satu kapal tempur Beijing di Laut China Selatan.

Laporan tersebut menandai ketegangan terbaru antara Filipina dan China di perairan yang kaya sumber daya tersebut.

Melansir BNN Bloomberg, Senin 19 Juli 2021, satu unit kapal tempur China terlihat di Marie Louise Bank, wilayah barat perairan Filipina.

Korps Penjaga Pantai Filipina mulanya memberikan peringatan lisan terhadap kapal tersebut. Setelah diberi peringatan itu, kapal tempur China menjauh dari perairan itu.

Kapal asing itu mengirim pesan radio yang mengidentifikasi dirinya sebagai Kapal Tempur Angkatan Laut China 189.

Korps Penjaga Pantai Filipina menambahkan, kapal China tersebut memninta kapal Filipina yang membuntutinya untuk menjaga jarak.

Baca juga: Pemerintah China Galau, Susah Payah Menjaga Laut China Selatan Malah Sekarang Diserang Seluruh Dunia

“Negeri Panda” mengeklaim sebagian besar dari Laut China Selatan. Klaim tersebut ditolak oleh dunia internasional.

Sebelumnya, China dan Filipina terkunci dalam kebuntuan mengenai Laut China Selatan selama berbulan-bulan.

Ratusan kapal China juga sempat membanjiri perairan yang disengketakan tersebut awal tahun ini.

Filipina telah berulang kali memprotes kehadiran kapal China. Protes tersebut didukung oleh Amerika Serikat (AS).

Sementara Beijing mengatakan tindakannya di Laut China Selatan adalah normal dan sah. Laut China Selatan disebut sebagai bagian dari kedaulatan negara itu. (*)

Berita Lain Terkait Laut China Selatan

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved