Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 20 Agustus 2021: Kesegenapan
RD. Fransiskus Aliandu menulis renungan harian katolik Jumat 20 Agustus 2021 dengan judul Kesegenapan. Mencinta dengan jiwa, raga, akal budi, kekuatan
Renungan Harian Katolik Jumat 20 Agustus 2021: Kesegenapan (Matius 22:34-40)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Menjelang akhir tahun 2005 saya mengambil keputusan pindah ke Padang. Suatu negeri baru yang belum pernah saya datangi. Saya memosisikan diri seperti leluhur kita Abraham.
Perintah Yahwe seakan bergema kuat, "Pergilah dari kampung halamanmu, dari rumah bapamu ke negeri yang Kutunjukkan ... engkau akan Kujadikan berkat" (bdk. Kej).
Ketika saya sampaikan keputusanku, ibuku hanya bisa berurai air mata. Tapi terlihat keikhlasan hatinya yang terpancar kuat pada wajahnya.
Dulu beliau memang telah berkata tegas kepada Sang Guru, "Engkau menginginkannya maka aku beri dan takkan kuterima kembali."
Ayahku diam membisu. Sesaat kemudian sambil menatapku penuh kasih, beliau berujar, "Engkau akan jauh, tapi ingatlah engkau akan tetap selalu di hatiku."
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 20 Agustus 2021: Hukum Kasih
Kata-kata mereka berdua membahana selalu dalam ingatan dan terpatri kuat dalam hatiku. Di kala lelah, kutegarkan diriku; di saat jatuh, kukuatkan hati untuk bangkit. Tatkala kualami suka dan senang, kuawaskan diri agar tak sampai kelewatan. Itulah ungkapan balasan kasihku kepada mereka.
Pengalaman kecil itu membuat saya cukup terbantu membayangkan apa yang terjadi pada Yesus, Sang Guru sejati.
Saat berada dalam lumpur sungai Yordan, Ia mendengar suara Bapa yang berkata, "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (bdk. Mat 3:17).
Kata-kata itu sungguh merasuk dan menjiwai-Nya. Ia mantap berlangkah dan berkarya total untuk mewujudkan misi Bapa. Tak tergoyahkan langkah-Nya. Apa pun risiko dan berapa pun tantangannya.
Meski nantinya Ia sempat mengalami pergulatan dan pergolakan batin yang dahsyat. Ketidaksukaan dan penolakan yang berujung hukuman mati hingga membuat-Nya berkata lirih, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat 26:39).
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 18 Agustus 2021: Orang Upahan yang Tahu Bersyukur
Bahkan begitu dahsyatnya penderitaan yang harus ditanggung-Nya sampai-sampai Ia hanya bisa berseru dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat 27:46).
Namun Ia tetap teguh bertahan. Ia menjalani hingga tetes darah terakhir dan tarikan nafas penghabisan di palang penghinaan. Itulah tanda kasih-Nya kepada Bapa yang mengasihi-Nya.
Tidaklah heran saat dicobai ahli Taurat dengan pertanyaan, "Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?", Ia dengan mudah menjawab tegas, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 22:37-40).
Ia memberi aksentuasi pada "kesegenapan": hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Kesegenapan hati ditempatkan pertama. Karena Ia tahu, bagi orang Yahudi pun seperti kita, hati itu pusat, tempat bernalar, berdiamnya kehendak; bukanlah tempat perasaan. Menyusul kesegenapan jiwa, akal, budi, dan kekuatan, untuk menegaskan segala sumber daya yang dimiliki; seluruhnya, total, tak ada lagi yang tersisa.
Berarti mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (segenap hati, segenap akal budi), yang keluar dari keyakinan (segenap jiwa) dan tekad utuh (segenap kekuatan). Jadi, bukan hanya setengah-setengah, mendua, hangat-hangat "tahi ayam", ikut-ikutan, angin-anginan, sekedar ramai atau "just for fun".
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 18 Agustus 2021: Upah dan Bonus
Dan Ia tahu konkretisasi mengasihi Allah dengan kesegenapan diri ini mesti terungkap nyata dalam apa yang menjadi keinginan hati Allah, yang tak lain tak bukan untuk mengasihi manusia tanpa batas. Karena Allah itu adalah kasih (bdk. 1 Yoh 4:16). Hakekat diri Allah adalah kasih.
Makanya Ia pun menyebut tentang mengasihi sesama yang mempunyai bobot yang sama dengan mengasihi Allah. Di mana menariknya, Ia memberikan penegasan bahwa mengasihi sesama seperti diri sendiri. Siapa yang tak mengasihi dirinya sendiri?
Ajahn Brahm punya cerita. Seorang ratu tengah melihat keluar dari jendela istananya ke arah Buddha yang sedang berjalan untuk menerima dana makanan di kota. Raja melihatnya dan menjadi cemburu terhadap kesetiaan sang ratu kepada Sang Pertapa Agung. Dia memarahi sang ratu dan menuntutnya untuk mengatakan siapa yang lebih dicintai sang ratu: Buddha atau suaminya.
Sang ratu adalah pengikut Buddha yang setia, tetapi pada saat itu anda harus sangat hati-hati jika suami anda adalah seorang raja. Hilang kepala berarti hilang kepala betulan. Sang ratu ingin menjaga kepalanya tetap utuh, maka ia menjawab dengan kejujuran yang tak terbantahkan, "Saya mencintai diri saya sendiri." *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)