Breaking News
Sabtu, 16 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 20 Agustus 2021: Kesegenapan

RD. Fransiskus Aliandu menulis renungan harian katolik Jumat 20 Agustus 2021 dengan judul Kesegenapan. Mencinta dengan jiwa, raga, akal budi, kekuatan

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Ia memberi aksentuasi pada "kesegenapan": hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Kesegenapan hati ditempatkan pertama. Karena Ia tahu, bagi orang Yahudi pun seperti kita, hati itu pusat, tempat bernalar, berdiamnya kehendak; bukanlah tempat perasaan. Menyusul kesegenapan jiwa, akal, budi, dan kekuatan, untuk menegaskan segala sumber daya yang dimiliki; seluruhnya, total, tak ada lagi yang tersisa.

Berarti mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (segenap hati, segenap akal budi), yang keluar dari keyakinan (segenap jiwa) dan tekad utuh (segenap kekuatan). Jadi, bukan hanya setengah-setengah, mendua, hangat-hangat "tahi ayam", ikut-ikutan, angin-anginan, sekedar ramai atau "just for fun".

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 18 Agustus 2021: Upah dan Bonus

Dan Ia tahu konkretisasi mengasihi Allah dengan kesegenapan diri ini mesti terungkap nyata dalam apa yang menjadi keinginan hati Allah, yang tak lain tak bukan untuk mengasihi manusia tanpa batas. Karena Allah itu adalah kasih (bdk. 1 Yoh 4:16). Hakekat diri Allah adalah kasih.

Makanya Ia pun menyebut tentang mengasihi sesama yang mempunyai bobot yang sama dengan mengasihi Allah. Di mana menariknya, Ia memberikan penegasan bahwa mengasihi sesama seperti diri sendiri. Siapa yang tak mengasihi dirinya sendiri?

Ajahn Brahm punya cerita. Seorang ratu tengah melihat keluar dari jendela istananya ke arah Buddha yang sedang berjalan untuk menerima dana makanan di kota. Raja melihatnya dan menjadi cemburu terhadap kesetiaan sang ratu kepada Sang Pertapa Agung. Dia memarahi sang ratu dan menuntutnya untuk mengatakan siapa yang lebih dicintai sang ratu: Buddha atau suaminya.

Sang ratu adalah pengikut Buddha yang setia, tetapi pada saat itu anda harus sangat hati-hati jika suami anda adalah seorang raja. Hilang kepala berarti hilang kepala betulan. Sang ratu ingin menjaga kepalanya tetap utuh, maka ia menjawab dengan kejujuran yang tak terbantahkan, "Saya mencintai diri saya sendiri." *

Renungan harian lainnya

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved