Kamis, 4 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021: Iman dan Kasih

Untuk renungan harian katolik hari ini, Pater Steph Tupeng Witin menulis tentang raja yang mengadakan pesta dengan judul Iman dan Kasih.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021: Iman dan Kasih (Mat 22:1-14)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Yesus menyebut “Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya” (Mat 22:2).

Perjamuan nikah itu mengikuti tata cara dan ritus yang mesti ditaati oleh semua undangan.

Ada syarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh semua undangan yang datang.

Ada makna terdalam yang mesti dipahami oleh orang-orang yang diundang datang ke pesta.

Maka ketika ada undangan yang menolak hadir, hal itu lebih dari sekadar tidak mau menghadiri sebuah pesta.

Tuan pesta dengan rendah hati berbalut harapan yang penuh mengundang semua orang agar datang ke acara perjamuan nikah.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021: Pakaian Pesta

Terbaca kerendahan hati yang besar dari hati raja. Bahkan raja memohon belas kasihan agar para tamu yang diundang tidak merusakkan suasana pesta yang sudah disiapkan dengan sepenuh hati.

Hidangan sudah siap. Lengkap. Lembu dan ternak piaraannya sudah dipotong.

“Katakan kepada orang-orang yang diundang itu: sesungguhnya hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini” (Mat 21:4).

Namun yang diundang semakin angkuh. Bahkan memutuskan hubungan dengan membunuh utusan-utusan raja.

Mereka menolak dan semakin menjauhkan diri dari “perjamuan nikah” itu. Setiap orang sibuk dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan. Padahal raja telah mengundang.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 16 Agustus 2021: Orang Kaya

Artinya, waktu “pesta” sudah pasti. Boleh jadi banyak orang yang diundang menolak karena mereka merasa belum menyiapkan diri untuk menjadi pantas memasuki ruang perjamuan nikah suci itu.

Padahal raja telah memberi begitu banyak waktu untuk menyiapkan diri agar pantas memasuki perjamuan nikah.

Ada banyak konteks penafsiran yang menambah khazanah pemaknaan atas teks Injil ini.

Tuhan mengundang semua orang untuk berpartisipasi dalam perjamuan itu.

Awalnya, kesempatan itu hanya diberikan kepada bangsa Yahudi, tapi mereka menolaknya.

Nabi-nabi yang diutus Tuhan dibunuh. Padahal para utusan Tuhan itu berkarya dengan hati yang total untuk keselamatan.

Tuhan lalu memberi kesempatan kepada semua orang. Terbuka untuk umum. Segala suku bangsa, segala penjuru dunia (Wijaya: 9 Oktober 2011).

Setiap tamu yang datang ke pesta berpakaian pesta, tentu saja. Pakaian itu simbol diri kita. Martabat setiap orang disimbolkan juga oleh pakaian. Masa datang ke pesta resmi dengan kaus oblong dan celana jeans robek di lutut?

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 15 Agustus 2021: Martabat Luhur Bunda Maria

Ada syarat dan ketentuan yang berlaku secara sosial bagi setiap orang yang hendak masuk ke dalam pesta.

Orang mengenakan pakaian pesta berarti dengan sadar dan segenap hati menanggapi undangan tuan pesta.

Sebaliknya, orang yang tidak mengenakan pakaian pesta berarti dia datang tanpa tujuan dan maksud. Orang Lamaholot menyebutnya: kmunger (gila).

Apa sesungguhnya pakaian pesta itu? Pakaian pesta itu adalah iman dan perbuatan kasih kita selama berziarah di dunia.

Iman itu terungkap dalam ketekunan berdoa dan rela menolong atau berbuat kasih kepada orang lain.

Inilah dasar kepantasan kita di mata raja yang mengundang semua orang itu.

St. Agustinus mengatakan: pakaian pesta itu adalah perbuatan cinta kasih kepada sesama terutama yang miskin, kecil dan tidak memiliki apa pun.

Kesadaran inilah yang mengharuskan kita untuk berjaga-jaga. Orang yang tidak berjaga-jaga dalam cinta kasih dan kebaikan adalah orang yang beragama, tetapi tidak beriman.

Agama itu hanya kulit luar, tapi iman mencakup sesuatu yang mendalam yang terungkap dalam tindakan konkret yaitu kasih dan kebaikan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 18 Agustus 2021: Upah dan Bonus

Kepercayaan kepada Tuhan mesti terbahasakan dalam tindakan nyata. Ketika kita hanya berhenti pada beragama, apa yang pantas membedakan kita dari seorang ateis yang moralis, baik hati dan murah hati?

Maka hidup keagamaan kita mesti berakar dalam doa, ekaristi dan tindakan nyata berupa kasih kepada sesama.

Hanya dengan jalan inilah kita dapat “dipantaskan” untuk masuk dalam kebahagiaan Allah.*

Renungan harian lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved