Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021: Pakaian Pesta
Untuk Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021, RD. Fransiskus Aliandu menulis perumpamaan tentang pesta berjudul Pakaian Pesta
Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021: Pakaian Pesta (Matius 22:1-14)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Pesta adalah sebuah acara sosial yang dimaksudkan sebagai perayaan pun rekreasi untuk memperingati atau merayakan suatu peristiwa istimewa.
Pesta biasanya digelar di rumah atau di halaman rumah yang rata dan lapang. Bisa di gedung atau aula atau sopo yang besar. Bahkan bisa pula dengan menutup sebagian badan jalan.
Di mana pun digelar, umumnya pesta dibuat meriah, bahkan luar biasa meriah. Selain dekorasi dan hiasan yang mentereng, makanan dan minuman dengan menu yang beragam; sudah pasti tak mungkin tanpa musik dan tarian. Di tanah Batak, suasana sangat meriah oleh gondang dan manortor. Di Timur sana mereka bilang, "bukan pesta kalau tak berdansa dan menari".
Lantaran istimewanya, pesta seakan punya ketentuan khusus mengenai pakaian. Yang punya hajat terlihat berseragam dengan model mutakhir. Para tamu yang diundang, so pasti datang dengan setelan pakaian necis, mentereng. Seakan terjadi semacam peragaan busana atau fashion show. Mana bisa tamu yang datang tanpa berpakaian pesta?
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 18 Agustus 2021: Upah dan Bonus
Maka, ada hal aneh dalam cerita perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin. Dikisahkan bahwa ada seorang tamu datang tanpa berpakaian pesta. Orang itu lantas tidak diperbolehkan ikut pesta dan dikeluarkan atas perintah raja, sang tuan pesta.
Tetapi tentu bukan tanpa sengaja Yesus menyelipkan keanehan itu dalam cerita dan penginjil Matius dengan jeli mencatatnya. Bandingkan, Lukas tidak menyinggung dalam injilnya adanya orang yang tak pantas itu ikut dalam perjamuan.
Semua kita pasti tahu bahwa pakaian pesta tentu punya arti. Bukan saja supaya kita terlihat cantik atau ganteng. Bukan supaya kita dipandang dan dihargai. Bukan soal sopan santun semata. Bukan pula sebatas menunjukkan siapakah diri kita.
Saat kita mengenakan pakaian terbaik ke sebuah pesta, bukankah dengan itu kita juga ingin menunjukkan betapa respeknya diri kita terhadap sang empunya pesta? Tidakkah kita pun menghadirkan diri secara penuh dan mengambil bagian dalam kemeriahan dan kesukacitaan?
Hidup baru bermakna saat kita mampu menghadirkan rasa positif bagi orang yang di sekitar kita.
Dan itu bukan saja keuntungan bagi mereka. Tetapi terlebih untuk diri kita sendiri. Kita telah bertumbuh sebagai pribadi yang bermakna.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 16 Agustus 2021: Prioritas
Untuk diketahui, Matius memang mengarahkan injilnya kepada umat yang berasal dari lingkungan Yahudi. Bagi mereka, datang ke tempat pesta dengan pakaian pesta memiliki arti yang khusus.
Pakaian pesta menggambarkan kebersamaan dalam kegembiraan dan sukacita. Ikut dalam pesta dengan berpakaian pesta berarti ambil bagian dalam kebersamaan serta berbagi hikmatnya.
Lebih mendalam lagi. Bagi orang Yahudi, dalam pesta nikah biasanya didendangkan kidung-kidung kasih, teristimewa oleh kedua mempelai. Mereka mengutarakan kerinduan untuk semakin dekat satu sama lain. Dengan itu, mereka pun seakan sedang mengungkapkan kehadiran dan kedekatan yang amat nyata dan bisa dirasakan dari Sang Ilahi.
Itu berarti, ikut serta dalam pesta nikah dalam arti ini merupakan cara merapatkan diri dalam keilahian. Dengan begitu, berpakaian pesta memberikan makna kesediaan dan kepenuhan diri untuk masuk ke dalam kebersamaan dengan Sang Ilahi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)