Jumat, 24 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 17 Agustus 2021: Mengabdi Negara, Melayani Allah

Di Hari Kemerdekaan RI ke-76 Selasa 17 Agustus 2021, Pater Steph Tupeng Witin menulis renungan harian katolik, Mengabdi Negara, Melayani Allah.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Selasa 17 Agustus 2021, Hari Kemerdekaan RI ke-76: Mengabdi Negara, Melayani Allah (Mat 22: 15-21)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Hari ini Bangsa kita merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-76 tahun. Usia yang sudah memasuki kematangan dan kedewasaan hidup berbangsa.

Selama rentang waktu itu banyak kemajuan tercapai. Setiap pemimpin bangsa ini hadir dan bekerja sesuai kemampuannya untuk kebaikan negeri ini. Kita mesti syukuri itu.

Rasa syukur itu mesti selalu menggerakkan kita untuk terus bekerja bahkan bekerja keras agar wajah peradaban bangsa ini bisa terus berubah dari waktu ke waktu, walau kecil dan sederhana.

Setiap warga bangsa mesti berpartisipasi dan berperan aktif menyumbang bagiannya masing-masing (Latin: Pars) untuk kemaslahatan bangsa.

Kewajiban mesti lebih dikedepankan agar hak yang kita terima benar-benar berimbang. Bahkan negara memanggil kita untuk membangun dengan porsi yang lebih besar ketimbang menuntut hak.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 17 Agustus 2021: Dipanggil untuk Kemerdekaan

Fakta ketercapaian pembangunan hari ini mesti menjadi momen refleksi bagi segenap komponen agar menyingsingkan lengan baju dan berbakti lebih besar lagi bagi bangsa dan negara.

Bakti kepada negara dengan porsi yang lebih besar itu mesti dibarengi dengan sikap tegas perihal hak yang mesti kita terima. Tanpa membatasi diri dan mengendalikan hasrat untuk hanya menerima hak yang menjadi bagian utuh dari kita, bangsa ini akan bergerak menuju ke jurang kehancuran yang lebih dahsyat.

Kasus-kasus korupsi yang menghadirkan kenikmatan sesaat-infantil bagi segelintir elite dan kesengsaraan besar bagi mayoritas rakyat merupakan bukti tidak terkendalinya keinginan tersebut.

Ketika kita merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-76 ini, kita diajak untuk hidup “sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1Ptr 2:16).

Menjalani hidup sebagai hamba Allah berarti memberikan kepada Allah apa yang wajib kita berikan kepada Allah dan kepada kaisar apa yang wajib kita berikan kepada kaisar (Mat 22:21).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 15 Agustus 2021: Sebab Ia Telah Memperhatikan Kerendahan Hamba-Nya

Orang yang menyebut diri hamba Allah akan hidup dalam semangat Kristiani: mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial melalui kerja-kerja nyata dan sederhana.

Setiap orang melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dan mengambil hanya yang menjadi haknya. Godaan untuk memerkaya diri dengan mengambil apa yang bukan menjadi haknya pasti akan selalu ada.

Mahamatma Gandhi (2010) menyatakan bahwa orang yang mengendalikan diri di hadapan godaan yang sangat besar dapat membina kebahagiaan dan kepuasan sejati yang menjadi medium untuk meningkatkan kemampuan memberi diri dan mengabdikan segenap kemampuan demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain.

Injil hari ini mengisahkan bagaimana orang-orang Farisi datang kepada Yesus untuk mencobai dan ingin menjerat Yesus dengan pertanyaan jebakan. “Haruskah kami membayar pajak kepada Kaisar, atau tidak?” (Mat 22:16).

Kaum Farisi seolah mengatakan bahwa mereka adalah golongan yang taat membayar pajak. Mereka ingin mengetahui keberpihakan Yesus. Sebuah strategi licik untuk menjerat Tuhan dengan membenturkannya dengan hal-hal yang bertentangan seputar hak warga terhadap pemerintahan Romawi.

Yesus membaca kemunafikan orang Farisi dengan mengemukakan kesepakatan nasional yang telah mereka buat dengan pemerintah Romawi. Orang Farisi tidak bisa membantahnya sama sekali.

Mulut orang Farisi menunjukkan kasih kepada-Nya tapi Yesus tahu kemunafikan dan kebencian yang menggumpali hati mereka. Kemunafikan itu, sekalipun dilakukan dengan sangat licin, tetap saja tidak dapat disembunyikan.

Tuhan sangat merasakan kebusukan hati kaum Farisi walau terucap secara manis. Ia tahu maksud kamu munafik ini maka ia memperumit masalah sehingga balik menjerat mereka dengan perkatannya sendiri. “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22: 21).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 12 Agustus 2021: Mengampuni

Yesus menyadarkan mereka bahwa uang yang sekarang digunakan oleh bangsa Yahudi adalah uang pemerintahan Romawi. Ada gambar kaisar pada salah satu sisinya dan tulisan kaisar pada sisi yang lain.

Simbol itu menarasikan bahwa kaisar dapat menggunakan uang tersebut bagi kepentingan rakyat sebagi kewajiban dan tanggung jawab publiknya sebagai pemimpin. Yesus mengingatkan kaum Farisi agar membayar pajak tanpa mengeluh dan berbantah tetapi tidak boleh lupa memberikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah.

Kita mendapatkan inspirasi agar mengutamakan kewajiban sebagai jalan rasional untuk mendapatkan dan menerima hak kita. Artinya, kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita agar kita dapat menerima hak secara pantas.

Mari kita sumbangkan bagian kita masing-masing, betapa pun kecil dan sederhana agar bisa menjadi titian bersama demi sebuah Indonesia yang sejahtera, damai dan berkemajuan.

Kita melayani negara yang secara konkret terepresentasi dalam diri sesama manusia sebagai jalan religius untuk melayani Allah. Pada saat pandemi ini, Allah memberikan kita kesempatan untuk mengasihi-Nya dalam diri sesama yang menderita dan menjadi korban. *

Renungan harian lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved