Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 11 Agustus 2021: Menegor Sesama
Perikop hari ini justru berisikan pesan Yesus kepada para murid tentang menegor sesama. Bunyinya terkesan sederhana, tapi tegas dan jelas
Renungan Harian Katolik Rabu 11 Agustus 2021: Menegor Sesama (Matius 18:15-20)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Menegor sesama yang berbuat dosa? Memangnya gampang? Secara teori sih kelihatannya mudah. Tapi mempraktekkannya sulitnya minta ampun. Apalagi kalau sesama itu bertipe sulit, keras, berstatus sosial terpandang.
Perikop hari ini justru berisikan pesan Yesus kepada para murid tentang menegor sesama. Bunyinya terkesan sederhana, tapi tegas dan jelas, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia ..." (Mat 18:15).
Pertanyaannya, mengapa para murid disampaikan pesan itu? Apa sih tujuannya?
Harus diakui bahwa para murid sesungguhnya hidup dalam sebuah kebersamaan. Hidup bersama itu sungguh berpijak pada kenyataan manusiawi. Mereka memang orang baik, suci, tetapi mereka bukanlah malaikat. Mereka juga berdosa, bisa melakukan kesalahan. Ibarat lalang dan gandum (bdk. Mat 13:37-38).
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 10 Agustus 2021: Nyawa
Dengan begitu, dalam kebersamaan para murId, tak terhindarkan bahwa bisa saja ada yang berbuat dosa, melakukan kesalahan. Dan, terkait itu, setiap murid yang lain memiliki tanggung jawab untuk berbuat sesuatu yang baik, agar sesamanya yang berbuat dosa itu dapat dibawa kembali ke dalam kebersamaan.
Tujuan utamanya, agar mendapatkan kembali dia yang bersalah, demi kebahagiaannya dalam hidup bersama.
Dalam kerangka itulah, Yesus mengemukakan proses yang sungguh menekankan aspek personal.
Pada tahap pertama, dikatakan, "Tegorlah dia di bawah empat mata" (Mat 18:15). Terlihat penekanan pada pendekatan pribadi. Istilahnya, bertemu berdua, berbicara di bawah empat mata. Cukup diketahui antara dia dan saya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 9 Agustus 2021: Jadi Sandungan
Yang dimaksud dengan "tegorlah", bukanlah dalam pengertian yuridis, melainkan duduk bersama, ngomong berdua, berbincang-bincang dari hati ke hati, berdialog dan diskusi dalam suasana persaudaraan.
Fokus dalam pendekatan personal ini adalah pada persoalan. Diharapkan dengan pendekatan itu, persoalan menjadi jelas dan dia bisa menyadari mengapa ia berbuat dosa dan dia diberanikan untuk bangkit dari kejatuhannya.
Karena tujuannya untuk mendapatkan dia kembali. "Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali" (Mat 18:15).
Tahap berikutnya, usaha pendekatan dilakukan dengan melibatkan pihak lain. "Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan" (Mat 18:16).
Pertemuan pribadi diperluas dengan keterlibatan orang lain dalam suasana yang lebih formal. Titik tolaknya, karena ada rasa tanggung jawab bersama untuk menyelamatkan sesama yang berbuat dosa.