Rabu, 15 April 2026

Berita Lembata

Hujan Pasir dan Abu Vulkanik Akibat Erupsi Ile Lewotolok Terjang Ile Ape

Hujan pasir itu berlangsung sekitar 20 menit, dan menyisakan material pasir serta debu vulkanik di beberapa tempat.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Tampak sisa-sisa abu dan pasir vulkanik menempel di sepeda motor milik warga di Kecamatan Ile Ape, Sabtu, 31 Juli 2021. 

Hujan Pasir dan Abu Vulkanik Akibat Erupsi Ile Lewotolok Terjang Ile Ape

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA--Hujan pasir terjadi di tiga desa di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 31 Juli 2021 hari ini.

Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday menerangkan hujan pasir dan abu vulkanik terjadi sekitar pukul 15.00 Wita di desa Waowala, Tanjung Batu, Amakaka, Lamawara dan Bungamuda, Kecamatan Ile Ape.

Kata Wabup Langoday, hujan lebat juga sempat tampak di puncak gunung Ile Lewotolok.

"Semoga api cepat padam dan tidak timbulkan banjir lahar dingin dari puncak," katanya.

Dia berujar Camat Ile Ape dan personil BPBD Kabupaten Lembata sudah mengelilingi di desa-desa di kaki gunung sembari meminta warga tetap tenang dan waspada. 

Hujan pasir itu terjadi akibat aktivitas erupsi gunung api Ile Lewotolok di daerah tersebut.

Baca juga: Produksi Oksigen Toko 51 Hanya Untuk Pasien Covid-19 di Lembata

Masyarakat yang desanya berada di sekitar lereng gunung itu juga dibuat panik.
  
Masyarakat Desa Lamawara, Bungamuda dan Amakaka berlarian masuk ke dalam rumah dan beberapa tempat yang dianggap bisa mengamankan diri.

Warga Desa Bungamuda, Teddi Lagamaking, menandaskan sebelum hujan pasir, terjadi dentuman dan gemuruh dari gunung.

 Hujan pasir itu berlangsung sekitar 20 menit, dan menyisakan material pasir serta debu vulkanik di beberapa tempat.

"Hujan pasir cukup banyak dan lama, ini terjadi hampir tiap waktu. Apa mungkin karena angin makanya bisa sampai disini," ujar Teddi.

Baca juga: Harapan Pegiat Anti Korupsi Untuk Kejari Lembata: Publik Harus Tahu Proses Penanganan Kasus

Yoki, warga desa Lamawara pun menjelaskan hal yang sama. Menurut dia, hujan pasir terjadi karena ada erupsi gunung.

Ia juga menyebut, akibat kejadian singkat itu, masyarakat di Lamawara dibuat panik dan takut. Mereka mengamankan diri dalam rumah.
  
"Kami lari cari masker dan kacamata untuk pakai, karena pasir lumayan banyak, kita takut saja berbahaya dengan mata atau ISPA," kata Yoki.
  
Petugas Pengamat Gunung Api (PPGA) Ile Lewotolok, Jefri Pugel melaporkan tinggi kolom abu erupsi mencapai 1000 meter di atas puncak.
  
Secara visual, menurut Jefri, teramati dua kali letusan dengan tinggi 1000 meter, warna asap putih dan kelabu.

Baca juga: Kajari Minta Waktu Penanganan Kasus-kasus di Lembata

Letusan pun disertai dentuman lemah.
  
"Kejadian itu karena pengaruh hembusan angin dari puncak gunung. Kalau tidak maka pasti tidak terjadi hujan pasir," terang Jefri Pugel ketika dihubungi wartawan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved