Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 26 Juli 2021, Pesta St. Yoakim & Sta. Ana: Melihat & Mendengar

Mata diberikan untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk mengerti, merasakan.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Senin 26 Juli 2021, Pesta St. Yoakim & Sta. Ana: Melihat & Mendengar (Matius 13:16-17)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Mata diberikan untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk mengerti, merasakan. Tapi ternyata orang yang bermata bisa saja tidak mau melihat, orang yang bertelinga bisa saja tidak mau mendengar, yang punya hati bisa saja tak mau merasakan, mengerti. 

Saya kira tidak terlalu sulit mengerti ungkapan di atas. Pengalaman pribadi menunjukkan dengan jelas pembuktiannya.

Dulu sering dinasihati dan ditegur berulang-ulang oleh guru sewaktu sekolah dasar, "Jangan ribut! Nggak boleh bolos! Rajin misa wajib Selasa dan Jumat." Namun sering kata-kata itu tak didengar. Maka sering terdengar bentakan di kelas, "Kalian budek, tuli ya? Mata kalian nih taruh di dengkul?"

Yesus menghadapi kenyataan ini. Banyak orang tidak mendengar apa yang Ia ajarkan dan tidak melihat sekian banyak hal yang Ia kerjakan. Kepada mereka ini Dia berkata, "... hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup ..." (Mat 13:15).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 25 Juli 2021, Hari Minggu Biasa XVII: Mukjizat Belaskasihan

Lain halnya dengan para murid yang mengikuti-Nya. Mereka ternyata memiliki mata yang melihat apa yang Yesus lakukan dan telinga yang mendengar apa yang Yesus katakan.

Inilah sebabnya kepada mereka, Yesus berkata, "Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar” (Mat 13:16).

Murid-murid Yesus dikatakan "berbahagia", sebab mereka menyaksikan penggenapan janji Allah sejak dahulu kala dalam diri Yesus. Para murid Yesus sama sekali berbeda dengan orang kebanyakan.

Orang banyak melihat hal-hal sama yang dilihat para murid. Orang banyak mendengar kata-kata sama yang didengar para murid. Namun orang banyak itu "buta dan tuli, hati membatu" karena tak mau dan tak mampu melihat, mendengar, dan mengerti rahasia Kerajaan Allah yang disampaikan oleh Yesus.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 25 Juli 2021: Berjiwa Dermawan dan Penggandaan Berkat

Saya punya mata, punya telinga, punya hati. Saya juga telah menjadi murid Tuhan. Maka, saya semestinya menjadi "berbahagia" karena saya bisa melihat, mendengar dan mengerti Tuhan yang menyampaikan dan memperlihatkan apa saja tiap hari kepada saya.

Terlampau sering masalahnya adalah saya tidak sungguh-sungguh melihat dan mendengar. Separuh atau bahkan 90 persen saya "berada" di tempat lain, meski saya sedang bersama Tuhan. Saya berada di tempat Tuhan, sedang berbicara dengan-Nya, katakanlah dalam doa, tapi pikiran bahkan hati saya berada di lain tempat.

Dalam garis yang sama, seringkali ketika orang bicara kepada saya, saya tidak mendengar dia. Ia bisa saja bersama saya, namun saya tidak melihatnya. Ia bisa saja menyentuh saya, namun saya tidak merasakannya yang merupakan bagian dari suatu kesatuan yang terlampau sering saya lewatkan.

Saya bisa saja hidup bersama seseorang selama bertahun-tahun dan saya masih saja belum memahaminya, karena selama bertahun-tahun itu saya tidak pernah benar-benar melihat dan mendengar dengan total.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 24 Juli 2021: Lalang

Ada nasihat bagus, "Untuk melihat dan mendengar dengan total, kita harus menaruh energi ke dalamnya. Ketika ada orang bersama kita dan berbicara dengan kita, jika kita tahu cara mendengar dan melihat sepenuhnya, kita akan berada di sana bersama mereka; dengan segenap indera kita terbuka terhadap segenap informasi yang mereka sampaikan kepada kita." *

Renungan harian lainnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved