Breaking News:

Pendapat Pribadi Yanto Aditya

Paradoks Para Kandidat Calon Ketua Asprov PSSI NTT

Di sisi lain, semakin banyak pengalaman seorang kandidat, justru mungkin akan menjadi modal yang baik.

Penulis: Sipri Seko | Editor: Sipri Seko
Istimewa
Yanto Aditya 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ada yang sudah memberikan bukti. Ada yang baru akan memulai.

Beberapa hari terakhir ini sudah bermunculan di berbagai media para kandidat yang akan bertarung memperebutkan kursi panas Ketua Asosiasi Provinsi PSSI NTT masa bakti 2021-2025.

Dari beberapa Kandidat tersebut, rupanya ada Kandidat yang sudah berbuat banyak atau telah menunjukkan kecintaannya terhadap kulit bundar melalui bukti empiris semisalnya membangun akademi sepakbola yang ditunjang dengan fasilitas olahraga yang cukup memadai, menggelar turnamen berskala lokal, nasional hingga level Asia.

Mengirimkan pemain-pemain binaan untuk melakukan trial dan berhasil diterima bergabung di beberapa Klub Liga 1 bahkan ada pemain binaan yang sedang menikmati atmosfir sepakbola di Negeri Kanguru. Tentu semua pencapaian ini bukan diperoleh lewat mimpi semalam atau sim sala bim, sesungguhnya ada proses panjang yang dilewati dan pada akhirnya seperti pepatah kuno mengatakan bahwa setiap hasil tidak menghianati proses.

Selanjutnya, dari beberapa kandidat tersebut (maaf), ada yang belum menunjukkan bukti empiris seperti yang saya contohkan di atas. Rata-rata para kandidat ini baru sebatas kaya pengalaman tapi bukan pengalaman mengurusi si kulit bundar. Mereka lebih kaya pengalaman semisalnya pernah menjadi manajer sebuah organisasi tetapi bukan organisasi sepakbola.

Ada juga yang pernah studi banding tapi bukan studi banding tentang kulit bundar. Ada pula kandidat yang sekian lama secara praktis mengurus bola namun minim hasil.

Di sisi lain, semakin banyak pengalaman seorang kandidat, justru mungkin akan menjadi modal yang baik. (Khusus poin pengalaman seperti ini tidak menjadi persoalan dan tidak perlu kita perdebatkan lebih lanjut, saya tidak membuka ruang diskusi).

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa sekarang pilihan ada di tangan para pemegang hak suara. Apakah akan menjatuhkan pilihan kepada kandidat yang sudah menunjukkan bukti empiris atau menjatuhkan pilihan kepada kandidat yang minim hasil, ataukah malahan menjatuhkan pilihannya kepada kandidat yang belum menunjukkan bukti empiris?

Salam sehat.
Salam realistis.
Salam restorasi.
Majulah Sepakbola NTT.

Semoga Negeri kita lekas pulih dari berbagai bencana. Amin!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved