Apa Perbedaan Flu Biasa dengan Gejala Covid-19, Perlu Pahami Gejala Virus Corona
Perbedaan Flu Biasa dan Gejala Covid-19, Perlu Pahami Ulasan Berikut Ini
Apa Perbedaan Flu Biasa dengan Gejala Covid-19, Perlu Pahami Gejala Virus Corona
POS-KUPANG.COM – Kasus Covid di dunia semakin ganas.
Setiap saat bahkan ada yang meninggal dunia akibat Covid-19.
Penyakit ini hampi menyerang semua pelosok dunia termasuk Indonesia.
Melansir dari Medical News Today, batuk kering adalah gejala awal yang umum dari Covid-19.
Baca juga: Pernah Alami Krisis Karena Corona, Begini Cara India Atasi Kelangkaan Oksigen Medis, Indonesia?
Menurut studi berjudul “Confronting Covid-19-associated cough and the post-COVID syndrome: role of viral neurotropism, neuroinflammation, and neuroimmune responses”, 60–70 persen orang mengalami batuk kering sebagai gejala awal Covid-19.
Namun, beberapa kondisi lain dapat menyebabkan batuk kering, seperti kondisi berikut.:
- Asma
- Fibrosis paru idiopatik
- Penyakit refluks gastroesofagus
- Infeksi saluran pernapasan atas
- Kanker paru-paru
- Batuk kering yang disertai gejala lain dapat mengindikasikan Covid-19 sebagai penyebabnya.
Berikut ini beberapa gejala Covid-19 selain batuk kering:
- Sakit kepala
- Nyeri otot atau sendi
- Sakit tenggorokan
- Hidung meler atau tersumbat
- Diare mual atau muntah
- Sesak napas atau kesulitan bernapas
- Hilangnya rasa dan bau
- Kehilangan nafsu makan
- Kelelahan yang tidak dapat dijelaskan atau tidak biasa
- Suhu tinggi
Baca juga: Negara Genting Karena Corona, Jaksa Agung Minta Pelanggar Prokes Ditindak Tegas Tanpa Pandang Bulu
Batuk adalah gejala umum dari long Covid-19, di samping kelelahan, pusing, dan nyeri sendi.
Menurut sebuah penelitian di The Lancet Respiratory Medicine, survei daring telah menemukan bahwa 20-30 persen orang masih mengalami batuk kering 2-3 bulan setelah sakit Covid-19.
Sebuah studi awal dari Italia menemukan bahwa 16 persen orang yang sembuh dari Covid-19 dilaporkan masih mengalami batuk 2 bulan setelah keluar dari rumah sakit.
Studi yang lebih baru juga menemukan bahwa batuk dapat berlanjut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah pemulihan dari Covid-19.
Beda Flu Biasa dengan Gejala Covid
Baca juga: Kronologi Jane Shalimar Meninggal Dunia,Ini Riwayat Sang Artis Terpapar Corona,Vanessa Angel Berduka
Dalam beberapa kasus, gejala Covid-19 akan mirip dengan gejala flu biasa.
Namun, tak menutup kemungkinan akan memiliki gejala yang berbeda.
Misalnya, salah satu gejala Covid-19 yang paling umum adalah demam.
Dilansir dari kompas, gejala ini tidak selalu terjadi pada penderita flu biasa.
Merangkum dari Medical News Today, Covid-19 juga menyebabkan gejala yang lebih bervariasi daripada flu biasa dan memiliki risiko komplikasi parah yang lebih tinggi.
Pada dasarnya, flu biasa dan Covid-19 memiliki beberapa kesamaan.
Keduanya berkembang sebagai akibat dari virus pernapasan, menyebar dari orang ke orang melalui droplet yang berasal dari hidung dan mulut.
Namun, penting untuk diingat bahwa keduanya berbeda.
Seseorang dapat terkena Covid-19 akibat tertular virus SARS-CoV-2, yang merupakan jenis virus corona.
Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui mengenai Covid-19, seperti dirangkum dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Baca juga: Jakarta Darurat Corona, Anies Baswedan Minta Warga Olahraga di Rumah, Sanksinya Tegas jika Melanggar
- memiliki masa inkubasi potensial yang lebih lama
- memiliki gejala yang lebih bervariasi
- memiliki risiko komplikasi dan kematian yang lebih tinggi
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui perbedaan gejala antara Covid-19 dan flu biasa.
Dengan mengetahui perbedaan gejalanya, seseorang dapat menentukan langkah terbaik dalam menanganinya Flu biasa akan memiliki gejala berikut.
- hidung meler atau tersumbat bersin
- sakit tenggorokan
- berkurangnya indra penciuman atau perasa
- batuk
- kelelahan
Gejala-gejala tersebut juga dapat terjadi pada orang dengan Covid-19.
Namun, COVID-19 juga dapat menyebabkan munculnya beberapa gejala lain berikut.
- Demam
- sesak napas
- batuk kering
- Kelelahan
- sakit kepala
- nyeri otot atau tubuh kehilangan bau atau rasa baru
- mual diare
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada beberapa gejala kurang umum yang mungkin bisa muncul pada pasien Covid-19.
Berikut ini beberapa gejala tersebut.
- ruam kulit konjungtivitis (mata merah)
- panas dingin
- pusing
- lekas marah,
- cemas
- depresi gangguan tidur
Berapa Lama Penciuman Hilang untuk Penderita Covid?
Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan - Bedah Kepala & Leher dari RS Akademik UGM, Dr Mahatma Sotya Bawono, MSc, SpTHT-KL mengatakan sudah menangani banyak kasus anosmia termasuk yang belum pulih hingga lebih dari dua bulan.
Baca juga: Efektif Cegah Corona,Kenali Efikasi dan Efek Samping Moderna,Vaksin Asal AS,Ini Tingkat Keparahannya
Dilansir dari kontan, anosmia adalah salah satu gejala positif Covid-19 yang dialami banyak orang.
Setelah sembuh dari Covid-19, anosmia bisa sembuh dengan sendiri.
Namun, berapa lama anosmia bisa sembuh?
Anosmia adalah kehilangan penciuman sementara. Gejala neurologis ini merupakan salah satu gejala yang dilaporkan oleh pasien Covid-19.
"Ada pasien saya yang belum juga pulih sejak terpapar Covid-19," katanya, seperti dikutip laman ugm.ac.id.
Sementara itu, sebuah penelitian terbaru yang dipresentasikan oleh American Academy of Neurology menemukan bahwa banyak orang yang pulih dari Covid-19 masih merasakan anosmia hingga lima bulan kemudian.
Sementara penelitian lainnya menemukan bahwa lebih dari 87 persen pasien Covid-19 di Italia yang menjalani rawat inap melaporkan gejala anosmia yang bertahan setidaknya dua bulan setelah keluar dari rumah sakit.
Menurut Goldberg, temuan tersebut sejalan dengan apa yang ia temukan bersama kebanyakan dokter spesialis penyakit menular lainnya.
"Lebih kurang setengah dari orang-orang dengan Covid-19 mengalami kehilangan penciuman atau perasa, dan banyak yang belum 100 persen pulih dalam lima bulan," ucapnya.
Namun, Spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan sekaligus profesor dari Washington University School of Medicine in St. Louis, Missouri, Jay Piccirillo, MD mengatakan, kabar baiknya adalah sekitar 90-95 persen kasus anosmia terkait Covid-19 dapat kembali pulih dalam waktu dua minggu hingga 1 bulan.
"Tetapi ada juga 5-10 persen orang yang kemampuan penciumannya tidak kembali, berkurang atau kembali dengan cara yang terdistorsi," kata Piccirillo seperti dikutip oleh laman McGill University.
Indera penciuman yang terdistorsi ini dikenal sebagai parosmia. Mereka yang mengalaminya kerap melaporkan bahwa bau yang biasanya menyenangkan sekarang membuat sangat tidak menyenangkan.
Beberapa bau yang mereka gambarkan seperti bau sampah, karet terbakar, atau asap.
Baca juga: Gubernur Anies Sampaikan Kabar Buruk, Sehari Ribuan Anak di Jakarta Positif Corona, Ada Varian Baru
Hal ini dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup.
Sebab, seperti yang telah dijelaskan di atas, indera penciuman sangat erat kaitannya dengan indera perasa.
Ketika indera penciuman terdistorsi, mereka mungkin merasa sulit untuk menelan makanan apa pun karena seringkali rasanya sama dengan bau tidak sedap yang mereka cium.
Mengapa pulihnya penciuman bisa sangat lama?
Secara singkat, Goldberg menjelaskan bahwa hilangnya kemampuan indera penciuman menunjukkan adanya kerusakan saraf.
Itulah mengapa pemulihannya bisa lambat.
"Setiap jenis kerusakan neurologis memiliki pemulihan yang lambat. Itu diukur dalam bulan atau tahun," katanya.
Itulah penjelasan tentang anosmia.
Sambil menunggu anosmia sembuh, kamu bisa melatih indra penciuman dengan mencium bermacam-macam bau, seperti kopi, jeruk nipis, dll. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul Beda Flu Biasa dengan Gejala Covid, Apakah Tenggorokan Gatal Gejala Covid?