Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Minggu 13 Juni 2021, Pekan Biasa XI: Bersyukur

Yesus memakai perumpamaan tentang benih yang tumbuh untuk menggambarkan peran penabur dan proses bagaimana benih itu “berziarah” dari satu biji

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

J. Calvin memandang teks perumpamaan ini Yesus alamatkan kepada pelayan-pelayan Firman yang menaburkan benih di tengah dunia. Pekerjaan itu membutuhkan proses yang sangat panjang, kadang melelahkan dan sering kehilangan harapan karena tidak segera mendapatkan hasil akhir.

Yesus mengingatkan para pengikut-Nya agar tidak perlu resah dan berkecil hati. Mereka mesti sabar untuk mengikuti seluruh proses pertumbuhan selaras dengan gerak alam ini. Mereka bisa pergi tidur malam hari dan bangun esok pagi untuk melakukan aktivitasnya seperti biasa. Tetap melakukan apa yang bisa dilakukan sesuai konteks kemampuannya. Allah yang akan mengubah keresahan dan ketidaksabaran mereka ketika musim panen itu tiba (Bdk Harmony of the Evangelists, 1949:128).

Perumpamaan ini menyadarkan kita bahwa di tengah dunia ini, kita hanya pekerja Allah. Kita adalah orang suruhan, hamba dari Allah sebagai pemilik seluruh semesta ini. Kemampuan kita sangat terbatas. Kita tidak mungkin mengerjakan semua hingga tuntas karena bakat, potensi kita sangat terbatas.

Sebagai pekerja, kita harus selalu sadar bahwa kita membutuhkan partisipasi dan intervensi Allah dalam seluruh pekerjaan kita untuk menyempurnakannya. Kita mesti bertanggung jawab mengerjakan apa yang menjadi bagian kita hingga tuntas. Urusan lain yang lebih mendalam adalah karya rahmat Allah.

Kita mesti belajar bersabar seperti para petani yang setia mengikuti laju gerak alam semesta. Sebagai orang beriman, kita mesti percaya bahwa Allah akan terus berkarya melalui kita yang rapuh dan terbatas ini sambil membuka diri pada kerja rahmat Allah yang berada di luar jangkauan kemampuan manusiawi kita. Partisipasi dalam karya Allah berarti kita menyumbang bagian (pars) kita dalam rencana kerja besar Allah.

Sambil belajar rendah hati dan kesabaran seorang petani dalam perumpamaan ini, kita menyadari siapa diri kita di hadapan kemahakuasaan Allah. Kita ini hanya debu tanah yang bisa kapan saja diterbangkan angin jika Allah menghendakinya. Maka tidak ada alasan secuil pun untuk menjadi manusia angkuh di tengah kefanaan hidup ini. Kita juga hanya pekerja. Di atas kita ada seorang pemilik yang agung. Allah.

Maka hendaklah seluruh hidup kita menjadi ungkapan syukur kepada semua rahmat Allah yang boleh kita alami sepanjang ziarah hidup kita ini. Syukur adalah satu-satunya ungkapan bahagia kita. Kita bersyukur karena diri kita ini juga adalah sebuah keajaiban di mata Allah. Kita tidak tahu kenapa kita bisa menjadi seperti saat ini. Hanya Allah yang tahu bagaimana semua kejadian berlangsung dalam sejarah hidup kita. *

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Simak juga video berikut:

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved