Breaking News:

Kisah Bocah 11 Tahun di Labuan Bajo Terbakar Kulit, Orang Tua Kesulitan Biaya

Kisah bocah 11 tahun di Labuan Bajo Manggarai Barat yang terbakar kulit, orang tua Kesulitan biaya

fadcenter.com
ilustrasi kulit terbakar 

Kisah bocah 11 tahun di Labuan Bajo Manggarai Barat yang terbakar kulit, orang tua Kesulitan biaya

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO -Kamis 25 Februari 2021, merupakan hari yang tidak bisa dilupakan pasangan suami-istri Robertus Mandus (43) dan  Margareta Limut (38), warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi NTT.

Sekitar pukul 15.00 Wita, Margareta Limut (38), dikagetkan rintihan kesakitan puteranya, Mariano Indra Mali (11).

Tubuh siswa yang duduk di bangku SD kelas 6 di SD Batu Cermin itu, terbakar akibat cairan spritus tumpah ke tubuhnya.

Baca juga: MN Tersangka Korupsi Dana PIP SDI Wae Paci Senilai Rp 97,8 Juta Terancam 20 Tahun Penjara

Baca juga: Promo JSM Alfamart Jumat 11 Juni 2021, Ada Cashback Koin Shopee, Pakai Kartu Kredit BNI Lebih Murah

Kejadian tersebut terjadi di bengkel milik ayahnya, tidak jauh dari Mapolres Mabar. Cairan spritus sehari-hari digunakan untuk menambal ban kendaraan bermotor.

Tidak diketahui secara pasti kronologi kejadian, namun api yang membakar tubuh mungil Mariano membuat sekujur tubuhnya mengalami luka bakar yang cukup serius.

"Saat kejadian, tak seorang pun tahu, mamanya (Margaretha Limut) ada di kios tetangga, sementara saya sendiri sedang pergi belanja di toko," Robertus Mandus, Kamis (10/6/2021).

Robertus mengisahkan, istrinya sempat membuka pakaian Mariano yang hampir terbakar habis. Tubuh Mariano penuh luka bakar hingga 60 persen.

Baca juga: Kode Redeem ML 11 Juni 2021, Buruan Tukar Kode Redeem Mobile Legends Terbaru

Baca juga: Berlangsung 12 Jam, Ini Hasil Rapat Dengar Pendapat Terkait Penutupan Sumber Mata Air Bonleu - TTS

Setelah dihubungi sang istri via telepon, Robertus langsung kembali ke tempat usahanya, betapa terkejutnya ia menemukan putera ketiganya tak berdaya menahan sakit dan perihnya luka bakar.

Robertus melarikan Mariano ke Puskesmas Labuan Bajo untuk segera mendapatkan penanganan kesehatan.

Tim medis Puskesmas Labuan Bajo 'angkat tangan', kondisi Mariano tak mampu ditangani. Alhasil, bermodal BPJS, penanganan medis selanjutnya oleh RS Siloam Labuan Bajo.

"Anak saya di puskesmas masih bisa bicara, kami masih berbincang, tapi saat ditanya bagaimana sampai terbakar dia diam saja," tutur Robertus.

Pada 26 Februari 2021, lanjut Robertus, Mariano menjalani operasi luka bakar. Mariano sadar keesokan harinya dengan balutan perban dan berbagai alat medis.

Mariano yang sadar meminta makan dan minum, namun permintaannya untuk mengisi perut tidak diizinkan pihak rumah sakit.

Selama 3 hari pascaoperasi, Mariano tidak secara langsung mengonsumsi makanan.

Kondisi Mariano semakin parah di ruang ICU, bahkan di hari ketiga pada 1 Maret 2021 itu, Mariano mengalami kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.

"Setelah kejadian kejang-kejang itu, mulutnya bengkak dan berdarah sampai mereka sedot cairan dalam lambungnya juga warna merah dan kencing warna kehitaman. Anak Indra melemah tak berdaya pada hari kejadian tersebut. Keesokan hari anak saya juga masih melemah dan tidak sadarkan diri," kisahnya.

Selama 13 hari perawatan, Mariano tidak sadarkan diri, hasil rontgen paru-paru dan otak, menurut keterangan dokter terdapat cairan di paru-paru, saraf otak mati dan terjadi infeksi di otak.

Hal ini semakin membuat harapan kesembuhan bagi Mariano semakin redup.

Selanjutnya, pada 27 Maret 2021, pihak rumah sakit meminta untuk dilakukan rawat jalan dan menjalani kontrol yang rutin. Namun berselang beberapa minggu, Mariano kembali lagi dirawat di rumah sakit.

Saat ini, Mariano kembali menjalani rawat jalan, namun kondisi tak banyak berubah.

Tubuh Mariano semakin kurus, ia terbaring di atas kasur, namun belum sepenuhnya sadar.

Kaki kiri Mariano diikat menggunakan selendang khas Manggarai. Kakinya digantung karena masih terdapat luka bakar. Sekujur tubuhnya masih terdapat luka.

Pada bagian atas bantalnya, berjejer buku-buku doa.

Mata Margareta Limut hanya berkaca-kaca saat memperlihatkan kondisi anaknya. Pun demikian dengan Robertus.

"Tolong bantuannya," ucap Margareta.

Selama 3 bulan terakhir, tidak sedikit pengeluaran keluarga demi kesehatan Mariano. Baik pengobatan medis dan obat-obatan tradisional.

Pihak keluarga berharap perhatian dan kepedulian Pemkab Mabar dan semua pihak, sebab penghasilan sebagai tukang tambal ban dirasa tidak cukup membiayai kebutuhan pengobatan.

Keluarga sangat berharap, bantuan sejumlah pihak nantinya dapat meringankan cobaan tersebut. Terlebih, Mariano yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku pendidikan SMP..

"Anak kami rencana tahun ini masuk SMP, tapi masih sakit. Kami berharap sekali bantuan dermawan dan pemerintah," kata Robertus diamini sejumlah kerabatnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved