Breaking News:

Bersihkan (Korupsi) Awololong

Awolong itu sebuah keajaiban bagi rakyat Lembata. Pulau tak berpenghuni itu melayang-layang di atas hamparan laut biru.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

   Bersihkan (Korupsi) Awololong

  Oleh Steph Tupeng Witin
  Penulis Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” (NI, 2016)

POS-KUPANG.COM - Awolong itu sebuah keajaiban bagi rakyat Lembata. Pulau tak berpenghuni itu melayang-layang di atas hamparan laut biru. Kadang bergelora, kadang tenang. Pasir putih yang menyeraki tubuh pulau itu tidak pernah berpindah tempat, walau angin mencumbu dan ombak menindihnya tanpa henti, setiap saat.

Orang Lembata dan wisatawan merasakan kenikmatan tersendiri saat berwisata ke Awololong dengan menumpang “ojek laut” milik warga Bajo. Sembari menyaksikan Kota Lewoleba yang memesona dari jauh tapi di depan mata tampak kotor, kumuh dan dekil dengan infrastruktur jalan Kota Lewoleba, ibukota kabupaten, awut-awutan.

Awololong dikenal juga dengan sebutan pulau siput. Berabad-abad lamanya rakyat Lembata berladang siput yang beranak pinak tanpa pernah habis di dalam tubuh pulau yang tertimbun pasir. Hari ini siput diambil, esok gali di tempat yang sama tetap dalam jumlah yang banyak.

Siput Awololong memang nikmat bagi kehidupan sosial ekonomi rakyat Lembata. Ia menjadi ciri khas Lembata saat menyambut tamu. Kita bisa menjumpai siput-siput kering yang dililit tali “kragang” (lidi) dipajang sebagai barang jualan di pinggir jalan dan pasar. Siput Awololong menjadi oleh-oleh khas Lembata, tentu bersama “jagung titi” dan kulit ikan paus.

Hingga detik ini, belum ada satu pakar ekologi atau magister teknik yang lulus dan ada gelar tanpa kuliah pun yang bisa menjelaskan bagaimana siput di Awololong bisa meregenerasi spesiesnya di antara tumpukan pasir putih itu. Orang Lembata telah menggali siput itu berabad-abad, bukannya berkurang tapi malah bertambah.

Orang Lembata sendiri pun tidak pernah ambil pusing dengan soal-soal “kegilaan” seperti itu. Mereka hanya tahu pikul ember besar, menenteng parang atau besi, mencungkil siput dari dalam pasir hingga ember meluap lalu pulang ke rumah.

Orang Lembata pun tidak pernah berpikir apalagi merancang secara teknis bagaimana mengubah Awololong menjadi salah satu destinasi wisata. Tanpa konsep berpikir politis dan birokratis (yang didominasi unsur tipu-tipu) pun, bagi orang Lembata, Awololong itu sebuah area wisata ekologi yang alamiah.

Warga Lembata pada tiap hari minggu atau hari libur tidak pernah sepi menjejalkan kakinya di atas pasir putih pulau eksotik itu. Tanpa penetapan anggaran daerah yang bersumber dari pajak rakyat untuk membangun proyek destinasi wisata yang hanya menjadi medium “akal-akal” untuk mencuri pun, Awololong telah berabad-abad menjadi destinasi wisata alamiah bagi rakyat Lembata.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved