Menara Darurat PLN Pulihkan Listrik di Pulau Timor
Tiga belas hari pasca Badai Siklon Seroja, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT)
Penulis: F Mariana Nuka | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Tiga belas hari pasca Badai Siklon Seroja, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) berhasil memulihkan sistem kelistrikan di Pulau Timor. Hal itu menyusul dioperasikannya menara darurat (tower emergency) pada Minggu (18/4) pukul 17.53 Wita.
Menara itu merupakan menara pengganti sementara dua buah menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV yang roboh dan patah akibat longsor dua pekan lalu.
Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, Syamsul Huda menyampaikan, pembangunan menara darurat itu membuat listrik dari 169.480 pelanggan di empat kabupaten di Pulau Timor dapat menyala. Empat kabupaten itu yakni Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu.
Menara 19 (T.19) SUTT 70 kV arah Maulafa-Naiobonat di Desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang mengalami patah dan roboh karena longsor. Akibatnya, T.20 pun ikut tertarik dan miring. Dua menara itu berfungsi untuk menyalurkan listrik dari Gardu Induk (GI) Maulafa ke daerah di daratan Timor. Rusaknya dua menara itu mengakibatkan suplai listrik terhenti.
Baca juga: Meutya Hafid Pantau Dapur Umum Posko Bencana di GKS
Baca juga: Kasus Pencurian di Sikka, Motor Gabriel Hilang, Kios Meggy Dibobol Uang Rp 10 Juta Digasak Maling
Syamsul menjelaskan, PLN melakukan penormalan sistem sejak H+1 hingga H+13. Sedangkan untuk pembangunan menara darurat, PLN menerjunkan 77 orang personil PLN Grup dan 30 orang TNI dari Korem 161/Wirasakti.
Secara gamblang, Syamsul menyebut menara setinggi 63 meter itu dibangun diantaranya oleh 31 orang personil PLN dari NTT, 16 orang tenaga ahli daya, relawan 16 orang, dan TNI 30 orang. Pengerjaan pembangunan menara selama 10 hari, sejak tanggal 8 April 2021 hingga 18 April 2021. Sekiranya kemarin, Minggu (18/4) pukul 17.53 Wita telah energize ke arah Naibonat-Maulafa.
Diakuinya, target awal pembangunan menara mencapai satu bulan karena medan yang sulit, yakni longsor. Namun, kesigapan relawan PLN yang dibantu PLN dan masyarakat membuat pengerjaan pembangunan menara hanya memakan waktu 10 hari.
Baca juga: Terkait Penistaan Agama, Bamsoet Minta Kepolisian Segera Tindak Tegas Joseph Paul Zhang
Baca juga: Tjahjo Kumolo Mengeluh, Tak Sedikit PNS Terpapar Paham Radikalisme, Respon Nitizen Beragam, Anda?
"Kami atas nama direksi PLN mengucapkan terima kasih kepada seluruh stakeholders yang membantu PLN dalam pemulihan kelistrikan di NTT pasca badai siklon seroja beberapa waktu lalu. Pengoperasian menara tersebut terwujud berkat sinergitas PLN, TNI, dan masyarakat," katanya dalam Press Conference Energize Tower Emergency T.19 Maulafa-Naibonat melalui video konferensi, Senin (19/4) siang.
Syamsul mengatakan, pihak PLN akan terus berupaya memulihkan jaringan kelistrikan terdampak badai seroja di NTT. Berdasarkan data terakhir PLN per 19 April 2020 pukul 12.00 Wita, presentase gardu normal sudah mencapai 92,3 persen dan presentase pelanggan menyala mencapai 93,7 persen.
"Mudah-mudahan 21 April nanti kami bisa selesaikan seluruhnya. Semoga tidak sampai satu bulan," harap Syamsul.
Pelaksana Tugas BPBD NTT, Isyak Nuka yang hadir dalam konferensi pers di Kantor PLN UIW NTT itu memberikan apresiasi atas kerja keras PLN dan sinergitas bersama TNI dan masyarakat. Menurutnya, tindakan sinergitas itu adalah bentuk patriotisme.
"Semangat mereka itu, tangguh, tulus, dan ada pengorbanan. Tanpa jiwa pengorbanan, belum tentu bisa terwujud dalam waktu yang singkat," puji Isyak
Hal yang sama juga disampaikan oleh Juru Bicara Posko Siaga Bencana Seroja Provinsi Nusa Tenggara Timur, Marius Jelamu. Menurutnya, presentase pelanggan menyala sebesar 93 persen tersebut adalah suatu pencapaian luar biasa dalam tempo singkat yang akan berpengaruh pada pelayanan sosial ekonomi di seluruh NTT.
"Dengan pemulihan ini, maka semua kebutuhan masyarakat bisa terlayani dengan baik. Kami berharap masyarakat NTT bisa menjaga instalasi listrik kita, baik di rumah masing-masing maupun tiang dan kabel listrik di jalan," kata Marius.
Sebagaimana diketahui, menara tersebut hanya menara darurat yang menggantikan sementara dua menara yang rusak pekan lalu. Pembangunan menara ini bertujuan agar PLN bisa melistriki empat kabupaten tadi. Nantinya, PLN akan membangun kembali menara permanen. General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko menjelaskan, PLN telah bekerja sama dengan tim teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk melakukan soil investigation atau penyelidikan tanah tentang bagaimana kondisi tanah di tempat tower yang telah roboh tersebut.
Terkait pembangunan menara permanen ini, Direktur PLN pun telah memerintahkan agar PLN Grup untuk Kupang. Anak perusahaan PLN yakni PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) sudah menugaskan PT Rekadaya Elektrika untuk segera mencari tapak tower yang akan digunakan.
"Jadi kami sudah rencanakan re-route. Nanti dari hasil teknis itu akan ditentukan tower dibangun dimana," ujarnya.
Pihaknya telah berkunjung ke lapangan bertemu dengan warga. Hasilnya akan disampaikan ke direktur untuk segera memroses pembangunan tower permanen. Kemungkinan, T.19 dan T.20 yang roboh akan re-route atau mencari jalur lain dan akan membangun tiga tower.
"Dari situ yang akan kami harapkan jalur permanen untuk transmisi 70 kV Kupang sampai Atambua bisa lebih andal," harapnya.
Selain pembangunan menara permanen, PLN akan melakukan mitigasi jangka pendek berupa penguatan tapak-tapak tower yang memiliki risiko. Usulan telah diberikan ke PLN pusat seperti membangun dinding di sekitar fondasi.
Diakuinya, PLN belum 100 persen melakukan pemulihan listrik di lapangan. Selain kerusakan instalasi yang cukup parah, akses jalan dan transportasi juga menjadi kendala bagi petugas PLN dalam memperbaiki instalasi
Jatmiko menyebut, kendala akses jalan yang putus dialami oleh petugas di Lembata, Adonara, dan Sumba Timur. Sementara itu, kendala yang dialami di Sabu dan Rote tak lain adalah moda transportasi baru bisa diakses setelah hari ke tujuh.
"Kami belum bisa kirim material, peralatan, dan tambahan tenaga karena akses ke Sabu dan Rote terkendala. Sedangkan khusus ke arah Tablolong, Naioni, dan Baun itu yang sekarang masih ada sisa kami harus perbaiki," sambungnya.
"PLN kalau mau listriki ke rumah itu harus dipastikan benar-benar aman dulu," tambahnya.
Syamsul pun menyambung bahwa menara darurat itu tidak akan digunakan secara permanen. Tapi, pembangunan menara permanen itu dipastikan tidak akan mengganggu masyarakat dalam menikmati listrik. Proses migrasi dari menara darurat ke menara permanen memang akan mengalami padam beberapa jam, tapi selama masa konstruksi tidak akan mengganggu listrik masyarakat.
"Kami komit untuk menyelesaikan pemulihan listrik ini. Kami tidak janji berapa hari tapi upaya mempercepat itu. Para relawan juga tidak akan tinggalkan NTTsebelum tuntaskan 100 persen," ungkap Syamsul.
Di akhir video konferensi itu, Syamsul juga meminta bantuan masyarakat untuk mendukung PLN dalam meningkatkan keandalan suplai listrik di NTT. Dia berharap masyarakat bisa mengikhlaskan pohon-pohon yang harus ditebang/dipangkas karena menyentuh kawat atau konduktor PLN. Apabila ingin menanam pohon, Syamsul meminta agar tidak menanam pohon di bawah jaringan PLN.
Adapun hadir juga dalam video konferensi tersebut segenap direksi PLN, Kepala Dinas ESDM NTT Jusuf Adoe, Kasiter Kasrem 161 WS Kolonel Inf Seniman Zega SH, Ketua Posko Siaga PLN Putu Sudarsa, Manager UP3 Kupang Arif Rohmatin, para relawan yang membantu membangun menara darurat, dan masyarakat. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)