Pulau Timor Pernah Diporak- Poranda Badai Mirip Seroja Tahun 1939

Ternyata Kota Kupang dan seluruh wilayah di Pulau Timor di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) pernah dilanda badai

Penulis: Paul Burin | Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Pulau Timor Pernah Diporak- Poranda Badai Mirip Seroja Tahun 1939
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
Alm. Dr Hendrik Ataupah

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Ternyata Kota Kupang dan seluruh wilayah di Pulau Timor di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) pernah dilanda badai sebagaimana yang terjadi pada tanggal 4-5 April 2021.

Dilukiskan bahwa badai yang terjadi pada tahun 1939 atau sekitar 82 tahun yang lalu itu punya karakter yang sama. Kota Kupang dan daerah lain di Pulau Timor serta pulau-pulau kecil di sekitarnya porak-poranda diterpanya.

Dalam buku Ekologi dan Masyarakat- Kajian dan Refleksi Atoin Meto di Timor Barat pada halaman 63, sebagaimana ditulis oleh Dr. Hendrik Ataupah (almarhum), ilmuwan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, meyebutkan bahwa Pulau Timor merupakan tempat pembentukan Willy Willies yang bersifat destruktif.

Willy Walles, sejenis badai yang bertiup ke arah Laut Timor menuju Australia Utara dan ke Lautan Hindia.

Baca juga: Update Promo Indomaret Hanya 3 Hari Minggu 18 April 2021, 5 pcs Indomie Rp 12.300, Beli 2 Gratis 1

Baca juga: Puasa Sebagai Dimensi Ibadah Sosial

Mendiang Ataupah menyebut hanya sekali-kali terjadi angin topan yang merusak daratan seperti yang terjadi di akhir April tahun 1939 itu. Badai itu menimbulkan bencana alam di seluruh daratan Timor (Ormeling 1955).

Menurut Ataupah, menjelang permulaan musim hujan biasa terjadi pusaran angin setempat yang menerbangkan atap rumah dan menumbangkan pohon.

Sedangkan di Laut Timor dapat disaksikan seakan-akan angin mengangkat laut ke atas sehingga tampak dari daratan seperti cendawan besar.

Dalam bahasa orang Meto (penduduk Timor), tulis Ataupah, pusaran air itu dinamakan musi (isapan keras). Musi dianggap sebagai isapan air laut ke udara oleh Ius Neno (dewa langit) untuk diturunkan lagi menjadi hujan.

Baca juga: Isyana Sarasvati: Enggak Sakit Kok

Baca juga: Kepala BPTD Wilayah XIII NTT Tito Gesit Utiarto, SE, DESS: 6-13 Mei Transportasi Umum tak Beroperasi

Tokoh Masyarakat NTT, Ferdi Tanoni ketika ditemui di Kupang, Minggu, 18 April 2021, menyebutkan bahwa Dr. Hendrik Ataupah merupakan tokoh adat, tokoh masyarakat, antropolog dan ilmuwan dari Undana Kupang yang punya kajian-kajian yang luar biasa.

Doktor Hendrik Ataupah kata Ketua Yayasan Peduli Timor Barat, sebuah lembaga yang selama 12 tahun ini memerjuangkan hak-hak masyarakat atas tumpahnya minyak pada Kilang Montara di Laut Timor, mengatakan, Dr. Ataupah sebagai observer dan pemerhati lingkungan yang sangat andal.

Ferdi Tanoni menyebut, selama beberapa pekan ini ia mencari sumber-sumber tentang Badai Seroja yang menimpa daerah ini.

Ia kemudian mendapatkan referensi ini dari salah seorang sahabatnya melalui buku hasil karya mendiang Ataupah ini.

Pada tanggal 4-5 April 2021, terjadi Badai Seroja yang memorakporandakan ribuan rumah penduduk, menghancurkan semua infrastruktur serta membunuh ratusan jiwa penduduk di Pulau Lembata, Adonara, Alor dan Malaka.

Ferdi mengatakan, Badai Seroja, entah apalagi nama badai ini ke depan, perlu dikaji lagi oleh ilmuwan di NTT atau di Indonesia.

"Kita kembalikan kepada lembaga perguruan tinggi di NTT, seperti Undana Kupang dan universitas lainnya untuk mulai mengkaji kemudian memberi saran kepada pemerintah dalam mengambil langkah-langkah antisipasi. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Burin)

Berita Kota Kupang

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved