Opini Pos Kupang
Ketika Jokowi Menjenguk Korban Bencana
Masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT) memiliki cinta yang besar terhadap Presiden Joko Widodo
Oleh: Arnoldus Wea, Pengamat Sosial Politik, Co-Founder Arnoldus Wea Foundation
POS-KUPANG.COM - Masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT) memiliki cinta yang besar terhadap Presiden Joko Widodo. Setiap kali Jokowi berkunjung ke NTT, ia akan disambut dengan sorak-sorai dan lambaian tangan.
Penerimaan masyarakat terhadap Jokowi tentu memiliki alasan yang kuat. Di bawah rezim Jokowi, masyarakat NTT telah merasakan keberpihakan pembangunan oleh Pemerintah Pusat.
Pada masa kepemimpinan sebelumnya, distribusi pembangunan lebih sering hanya sebatas konsep atau hanya berhenti pada tataran perencanaan. Di tangan Jokowi semua tampak berbeda.Upaya pembangunan infrastruktur berjalan dengan baik meski masih terdapat beberapa kekurangan.
Baca juga: Dengan Helikopter Bell, Gubernur Viktor Laiskodat Tinjau Kondisi Sabu Raijua Pasca Bencana, Info
Baca juga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Dalam tahapan pembangunan, infrastruktur merupakan peletak dasar, fase pertama dan syarat mutlak untuk menciptakan kemajuan pembangunan di berbagai sektor lain pada tahap berikutnya. Hal ini yang agaknya disadari betul oleh Jokowi ketika ingin melakukan upaya perbaikan di NTT.
Mengapa kehadiran Jokowi di NTT menjadi kegembiraan dan pemicu kebahagiaan masyarakat setempat? Pesan apa yang hendak disampaikan dengan menjenguk para korban bencana, meskipun statusnya bukan merupakan bencana nasional. Tindakan Jokowi `menjenguk' para korban minimal memiliki dua pesan yang saling berhubungan.
Memulihkan Luka
Pertama, ia datang untuk memulihkan luka. Luka tanah, luka tubuh dan luka batin yang dialami para korban badai dan banjir bandang. Keceriaan masyarakat menyambut kedatangan Jokowi menunjukkan bagaimana kunjungan itu bermakna bagi mereka yang terluka oleh bencana.
Baca juga: Update Kode Redeem FF Hari Ini 13 April 2021, Klaim Kode Redeem Free Fire Terbaru dan Terlengkap
Baca juga: Bantuan Ketum DPP KNPI Diserahkan Ketua KNPI NTT Kepada Korban Bencana, Simak Liputannya
Padahal kondisi mereka serba tidak memungkinkan seperti situasi pandemi yang sedang melanda. Spontanitas kerumunan masa yang menyambut Jokowi terjadi di beberapa titik. Sebagai misal, kita melihat kerumunan selama Jokowi melakukan peresmian bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka 23 Februari 2021 yang lalu.
Hal yang sama terjadi pada 9 April 2021, ketika Jokowi melakukan kunjungan langsung ke Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata pasca bencana alam Siklon Tropis Seroja.
Bencana ini telah menimpa hampir seluruh daerah di NTT sehingga menimbulkan kerugian besar baik materiil maupun non materiil. Di Adonara dan Lembata, berdasarkan data terakhir bencana Siklon Tropis Seroja telah menyebabkan korban jiwa sebanyak 163 orang dan 45 orang lainnya masih dalam proses pencarian.
Kerusakan besar, akibat bencana juga terjadi hampir merata di berbagai daerah lain di NTT seperti di daratan Timor, Rote, Sabu dan Sumba. Badai Seroja telah meluluhlantahkan rumah penduduk, fasilitas publik, lahan pertanian, peternakan dan tentunya fasilitas nelayan.
Terhadap korban nyawa dan berbagi kerugian materi lainnya, hal yang tersulit bagi pemerintah adalah menyembuhkan duka, menghibur kesedihan dan mengatasi masalah trauma masyarakat.
Bencana besar ini telah menyebabkan sebagian orang kehilangan kerabat, sanak saudara, keluarga, rekan kerja, dan teman atau sahabat. Begitu juga dengan materi sebagai hasil jerih payah, keringat dan air mata yang telah diperjuangkan bertahun-tahun lamanya. Pada titik tertentu, sebagian orang mungkin sampai pada tahap depresi, kehilangan harapan dan kepercayaan diri untuk membuka lembaran hidup baru pasca bencana. Dengan demikian, pemulihan mental terhadap para korban menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang harus segera terpenuhi.
Melihat kegembiraan masyarakat Adonara dan Lembata saat menyambut kedatangan Jokowi, dapat menjadi sinyal bahwa kehadiran Jokowi dapat menyembuhkan duka masyarakat NTT. Jokowi dinilai mampu menciptakan kebahagiaan masyarakat meskipun tidak sepenuhnya dapat mengobati psikologi masyarakat terdampak bencana.
Jokowi bertemu langsung dengan para korban di Adonara dan Lembata sebagai lokasi bencana terparah. Kabar itu menyebar di seluruh NTT sehingga menjadi kebahagiaan dan kegembiraan bersama.
Peristiwa kunjungan Jokowi sekaligus merubah cara pandang bahwa masyarkat NTT sangat berharga di mata Presiden Jokowi dan Pemerintah Pusat.
Paradigma seperti ini menciptakan sebuah harapan besar, melahirkan gairah hidup, dan membangun kepercayaan diri masyarakat untuk segera memulai hidup baru setelah bencana.
Kesembuhan, baik fisik maupun psikis masyarakat NTT dipercaya dapat benar-benar pulih bila kunjungan Jokowi kemudian diikuti oleh aksi-aksi nyata pemerintah dalam menanggulangi dampak bencana.
Untuk itu, yang jauh lebih penting bagi seorang Jokowi adalah memastikan bahwa semua bantuan sosial dapat mengalir sampai ke tangan masyarakat yang merasakan dampak buruk bencana ini.
Apa yang dilakukan Jokowi meletakan dasar bagi presiden berikutnya dan pera pemimpin di tingkat pusat. Lakukan tindakan cepat dan beri perhatian yang sama pada seluruh rakyat.
Tidak peduli di mana letaknya, berapa besar perannya dalam ekonomi nasional atau apa pun status bencana yang dialami. Semua rakyat yang menghadapi bencana membutuhkan perhatian yang sama dari presiden.
Penanganan Bencana
Pesan kedua adalah soal kecepatan penangangan. Sejauh ini pemerintah belum mengestimasi total nilai kerugian yang disebabkan oleh musibah ini. Meskipun begitu, penderitaan masyarakat sudah ada di depan mata berupa kehilangan dan rasa traumatis yang besar.
Masyarakat memerlukan penanganan serius di bidang infrastruktur seperti jalan, jaringan listrik, dan internet. Begitu juga dengan fasilitas perkantoran, sekolah, dan lain sebagainya sehingga pelayan publik bisa kembali pulih seperti sedia kala.
Jokowi ingin memberi pesan bahwa penanganan cepat juga mesti segera direalisasikan bagi masyarakat terdampak bencana. Pesannya kira-kira begini, 'seorang presiden telah masuk sampai pelosok Adonara, otoritas yang bertanggung jawab harus segera melakukan tindak tanggap darurat dan pemulihan'. Prioritasnya harus bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar rakyat seperti sandang, pangan dan papan.
Masyarakat NTT sudah pasti menunggu agar kebutuhan-kebutuhan mendasarnya bisa segera terpenuhi. Penanganan kebutuhan dasar masyarakat harus dilakukan berjenjang, proporsional, tepat waktu, tepat sasar dan tepat guna.
Untuk itu, pendataan jumlah korban terdampak bencana pada setiap daerah menjadi hal mendasar saat ini. Pemerintah mulai dari tingkat rukun tetangga (RT) harus segara melakukan pendataan, mempublikasikan, dan diikuti dengan realisasi bantuan.
Selain penanganan cepat, keterlibatan publik dalam pengawasan juga merupakan aspek yang penting. Karena penanganan bencana diestimasi menelan anggaran yang sangat besar maka, pengawasan publik secara luas perlu dilibatkan.
Hal tersebut bertujuan agar masyarakat bisa memantau secara langsung dan memastikan bahwa, penanganan bencana di NTT dapat direalisasikan secara baik, benar dan bertanggung jawab.
Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, di mana selalu ada pihak yang "bermain di air keruh", maka pemerintah perlu lebih taktis dengan mengeluarkan skema atau mekanisme bantuan yang melibatkan pengawasan publik agar bisa diikuti oleh pemda dan tim tekhnis di lapangan. Dengan dasar hukum tersebut, diharapkan agar penyelewengan dana bantuan di daerah bisa dihilangkan.
Dari sekadar imbauan dan perintah lisan yang gampang disepelekam maka, petunjuk teknis dari pusat yang melibatkan pengawasan publik terkait proses penyaluran bantuan dalam situasi kedaruratan merupakan langkah konkret dalam mengantisipasi timbulnya penyimpangan di lapangan.
Adanya niat cari untung dari nasib buntung yang menimpa masyarakat selama ini terjadi akibat adanya celah dari proses penyaluran bantuan yang serba tertutup. Hal ini yang harus cegah dalam konteks penanganan bencana di NTT.
Publik harus ikut mengetahui berbagai data di masing-masing daerah tentang jumlah korban, nilai kerugian individu, kerugian fasilitas publik, sarana prasarana, infrastruktur, total anggaran yang dikeluarkan pemerintah mulai dari pusat sampai ke daerah, bagaimana perinciannya dan sejauh mana realisasinya. Jika korban bencana dapat ditangani secara baik, tepat waktu, tepat sasar dan tepat guna, maka, hal ini dapat menambah nilai lebih terhadap elektabilitas politik Jokowi. Kritik dan nada-nada minor dari elit politik terhadap seorang Jokowi menjadi tidak bernilai di mata masyarakat NTT. Singkatnya, presiden telah `menjenguk, para korban, Otoritas bencana di tingkat pusat dan daerah harus bergerak cepat memulihkan kehidupan par korban. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketika-jokowi-menjenguk-korban-bencana.jpg)