Breaking News:

Salam Pos Kupang

Akurasi Data Bencana

PEMERINTAH Kabupaten Sabu Raijua merilis data, sekitar 12 ribu rumah warga rusak akibat badai Siklon Seroja yang menerjang kabupaten itu

Akurasi Data Bencana
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PEMERINTAH Kabupaten Sabu Raijua merilis data, sekitar 12 ribu rumah warga rusak akibat badai Siklon Seroja yang menerjang kabupaten tersebut pada Senin (5/4/2021) dini hari.

Ini tentu catatan rinci dari kabupaten tersebut. Kalau dihitung-hitung tentu kerusakan yang sama juga telah menimpa sejumlah tempat di wilayah Nusa Tenggara Timur, seperti terjadi di Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Lembata, Kabupaten Kupang, Malaka, Rote Ndao dan kabupaten lain yang terdampak.

Badai siklon Seroja merupakan kejadian pertama di daerah tropis. Konon, kejadian ini dapat terulang lagi setiap tahunnya. Selama ini, badai tersebut hanya berakhir di laut dan tidak sampai ke darat. Namun kali ini "pecah" di daratan. Hal ini diduga dampak dari pemanasan global.

Memerhatikan kerusakan rumah penduduk dalam jumlah begitu besar tentu bukan hal gampang di tengah Pandemi Covid-19. Yang mana semua sektor perekonian lumpuh termasuk sebagian besar masyarakat kita yang kesulitan dalam mendapatkan uang.

Baca juga: Penjelasan Ustadz Adi Hidayat Soal Amalan Utama Bulan Ramadan, Laksanakan Mulai Senin 12 April 2021

Baca juga: Dua Musuh Bebuyutan, Hasil Persib Bandung vs Persebaya 3-2,Gol Spektakuler Ezra Tandukan Maut Nick

Sudah dalam dihimpit karena terdampak pandemi Covid-19 yang sudah mendera hampir dua tahun ini, kini datang lagi bencana alam yang memporak porandakan rumah, sawah, ladang warga NTT. Padahal sebagian besar rakyat NTT menggantungkan kehidupannya di sektor pertanian.

Dengan bencana yang bertubi-tubi itu, maka bantuan pemerintah tentu menjadi sandaran utama warga yang terdampak. Kita memang yakin, pemerintah pasti membantu rakyatnya baik untuk memperbaiki rumah yang rusak maupun untuk membangkitkan ekonomi warga.

Walau demikian, membangun atau memperbaiki rumah-rumah yang rusak tentu tidak bisa sesegera mungkin. Selain karena jumlahnya yang banyak tetapi juga karena anggaran yang terbatas.

Baca juga: Sampah Menumpuk di TPS Oeba

Baca juga: Sahabat : Model Pendekatan Pelayanan yang Komprehensif

Dampak ikutannya, akan terjadi beban di APBD I dan APBD II. Oleh karena itu, peran pemerintah pusat sangat menentukan untuk membantu daerah dalam mengurangi anggaran yang bakal dikeluarkan daerah, baik provinsi dan maupun kabupaten/kota.

Selain karena anggaran di tingkat kabupaten/kota dan provinsi yang terbatas, bantuan pemerintah pusat juga menjadi sandaran karena memang dampak dari bencana ini menerjang 18 dari 22 kabupaten/kota di NTT. Artinya, hanya ada 4 kabupaten yang tidak terlalu besar kerugiannya akibat bencana ini.

Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan juga tidak hanya rumah warga tetapi masih ada banyak fasilitas yang juga rusak baik itu kantor-kantor pemerintah di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Sebut saja misalnya sekolah-sekolah negeri dan swata serta gedung-gedung pemerintah.

Jadi kolaborasi antara kabupaten, kota, provinsi dan pusat sangat penting dalam situasi yang genting seperti ini. Oleh karena itu kesiapan data riil harus menjadi pekerjaan pertama oleh aparat pemerintah guna sesegera mungkin dijadikan acuan untuk turunnya bantuan. Apakah data kita sudah siap? (*)

Kumpulan Salam Pos Kupang

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved