Breaking News:

Salam Pos Kupang, Kamis 12 November 2020: Di Balik Akun Palsu

Pilkada 2020 berbeda dari pilkada-pilkada sebelumnya. Bedanya, terutama karena Pilkada kali ini berlangsung di tengah pandemi virus corona atau Covid-

Salam Pos Kupang, Kamis 12 November 2020: Di Balik Akun Palsu
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Salam Pos Kupang, Kamis 12 November 2020: Di Balik Akun Palsu

POS-KUPANG.COM - Pilkada 2020 berbeda dari pilkada-pilkada sebelumnya. Bedanya, terutama karena Pilkada kali ini berlangsung di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Dari karakter pandemi Covid-19, mestinya Pilkada tahun ini tidak bisa dilangsungkan. Karena Covid-19 sangat mudah menular ketika terjadi pertemuan langsung (kerumunan) manusia. Sementara Pilkada menghendaki adanya pertemuan langsung antara calon dan konstituen (masyarakat).

Untunglah kita dibantu oleh teknologi digital, seperti handphone, media sosial, media online dan sebagainya. Tanpa harus bertemu langsung, para calon kepala daerah dan tim sukses bisa berinteraksi timbal balik dengan konstituen atau masyarakat.

Kampanye yang biasanya dilakukan dengan mengumpulkan massa di lapangan umum atau ruangan tertutup, kini bisa dilakukan secara online. Kuncinya, ada fasilitas internet dan handphone; pesannya sampai tanpa berisiko terjadi penularan Covid-19.

Kondisi pandemi memang memaksa kita untuk belajar dan pandai memanfaatkan teknologi digital. Yang tidak mau belajar dan tidak mahir menggunakannya dipastikan tidak bisa berbuat apa-apa untuk tidak disebut punah.

Meski demikian, teknologi digital itu cuma alat. Dia bersifat netral. Memberi manfaat atau tidak memberi manfaat, semua tetap kembali kepada manusia. Teknologi digital bisa membawa kemaslahatan atau mudharat tergantung manusia yang menggunakannya. 

Sebanyak sembilan daerah di NTT sedang siap-siap mengikuti Pilkada seretak pada tanggal 9 Desember 2020 nanti. Dari segi tahap pelaksanaan, kini pilkada sedang berada pada tahap kampanye. Kalau sebelumnya ada kampanye tatap muka atau kampanye pertemuan umum, maka kali ini kampanye hanya dilakukan secara online.

Yang memprihatinkan, di tengah pelaksanaan kampanye digital ini, masyarakat resah oleh munculnya berbagai akun palsu (facebook, instagram.twitter, dll). Identitas pemilik akun palsu tidak jelas, tidak ada foto profil. Kalaupun ada, dia bisa mencantumkan foto orang lain atau benda lain yang sama sekali tidak menjelaskan identitasnya. Pemilik yang sebenarnya tersembunyi.

Akun-akun palsu ini biasanya dimanfaatkan pemilik akun untuk menjelekkan calon-calon tertentu, dengan harapan orang yang mengakses informasinya jadi tahu dan mengambil sikap untuk tidak memilih calon yang dijelekkannya.

Bagaimana sikap kita terhadap akun palsu ini? Ya, kita harus bijak. Setiap informasi apa pun jangan ditelan bulat-bulat. Cek baik-baik sumber informasinya, siapa pemilik akunnya, crosscheck informasi ke pihak lain, terutama kepada pihak yang dijelekkan.

Kalau akunnya tidak jelas lalu informasi yang disampaikannya tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya, pastikan bahwa itu informasi bohong. Jangan mengikuti permintaannya. Kalau ada ajakan untuk memilih calon tertentu, pastikan Anda tidak memilihnya. Mendingan Anda memilih calon yang dijelekkannya. Kenapa? Karena cara yang dilakukannya tidak fair dan jelas merupakan ekspresi dari ketidakberdayaan mengalahkan calon yang dijelekkannya. Kalau dia tidak berbohong, mestinya punya identitas yang jelas.

Kepada polisi dan Bawaslu kita harapkan untuk cekatan menyelidiki dan menemukan pihak-pihak yang bermain di balik akun-akun palsu. Jangan sampai gara-gara ulah akun palsu ini suasana pelaksanaan pilkada di daerah ini manjadi kacau dan membawa konflik. Kita percaya polisi memiliki fasilitas dan kemampuan terbaik melampaui para pembuat akun palsu.*

SIMAK JUGA VIDEO BERIKUT:

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved