Ketua Bintang Muda Indonesia NTT Kecam Aksi Bom di Gereja Katedral Makassar
Ketua Bintang Muda Indonesia NTT, Adrianus Oswin Goleng mengecam aksiAdrianus teror bom bunuh diri yang terjadi di gerbang Gereja Katedral
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM | BAJAWA-Ketua Bintang Muda Indonesia NTT, Adrianus Oswin Goleng mengecam aksiAdrianus teror bom bunuh diri yang terjadi di gerbang Gereja Katedral Makassar pada, Minggu (28/3/2021) pagi.
Menurutnya, bom bunuh diri didepan pintu gerbang Gereja Katedral Makasar menandakan matinya rasa kemanusiaan, karena Tindakan aksi teror tersebut sama sekali bertentangan dengan nilai kebangsaan dan ajaran agama.
"Aksi bertepatan hari minggu, dimana umat katolik tengah merayakan ibadah mingguan dalam suka cita pekan suci diwarnai aksi teror bom bunuh diri. Ini tentu melukai hati seluruh umat kristiani," ungkapnya.
Baca juga: Kadis P & K NTT Lunus Lusi: Sekolah Tatap Muka Serentak Dimulai Bulan Mei 2021
Dijelaskan Oswin, aksi bom tersebut disatu sisi memgancam nyawah seseorang, disisi lain juga turut mengancam kebebasan umat dalam menjalankan ritus keagama sesuai kepercayaan dan keyakinan. Kebebasan yang melekat sebagai hak dasar justru dirampas secara paksa dan tidak manusiawi.
Baca juga: Kadis P & K NTT Lunus Lusi: Sekolah Tatap Muka Serentak Dimulai Bulan Mei 2021
Sebagai umat katolik, ungkap Oswin, rasanya tidak lagi nyaman hidup di bumi ibu pertiwi ini yang katanya pancasilais dan beradab. Yang katanya demokratis dengan menjamin kebebasan lebih khusus iman dan keyakinan.
"Kami sama sekali tidak merasakan itu. Kami hidup dalam bayang ketakutan dan kecemasan. Sebab apa, ini bukan kali pertama. Hampir tiap tahun aksi nan keji itu selalu saja terjadi, baik secara langsung maupun tidak langsung (verbal)," tegasnya.
Oswin menjelaskan, akar dari tindakan teror tentu multi dimensi. Diantara karena perbedaan politik, pandangan idiologi dan keyakinan. Ragam perbedaan dan sikap inklusif cendrung membuat orang sulit menerima keberadaan dan eksitensi seseorang maupun golongan.
Dengan demikian akan muncuk sikap saling benci dan membangun permusuhan yang mengarah pada tindakan intoleran dan aksi teror.
"Kami berharap pemerintah melalui intansi terkait untuk lebih intensif dalam tindakan pencegahan, pengendalian dan penindakan. Jangan diberi tempat yang namanya teroris di NKRI ini," tegasnya.
Nengingat umat Katolik sedang memasuki pekan suci maka untuk menghindari aksi susulan, dirinya berharap personil polisi melakukan penjagaan ketat di semua Gereja.
"Kami juga menghimbau umat kristiani untuk selalu sabar dan menahan diri. Mari bersama tak henti-hentinya mendoakan keselamatan dan persatuan bangsa. Mengetuk hati menggugah batin untuk senantiasa saling mencintai sesama anak bangsa," pungkasnya. (mm)
