Zulkifli Hasan Khawatir Benih Permusuhan Landa Di Indonesia, Selalu Sebut Pancasila & Anti Pancasila

Dinamika demokrasi di Tanah Air yang terjadi belakangan ini, membuat Zulkifli Hasan, Ketua Umum DPP PAN menjadi khawatir bahkan cemas.

Editor: Frans Krowin
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan soal karakter demokrasi Indonesia yang culas dan mudah menyebut aku pancasila dan yang lain anti Pancasila. 

Zulkifli Hasan Khawatir Benih Permusuhan Landa Di Indonesia, Selalu Sebut Pancasila & Anti Pancasila

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Dinamika demokrasi di Tanah Air yang terjadi belakangan ini, membuat Zulkifli Hasan, Ketua Umum DPP PAN menjadi khawatir bahkan cemas.

Pasalnya, demokrasi itu didominasi oleh pengaruh politik yang cendrung memecah belah konstituen politik ketimbang membangun kesamaan persepsi.

Hal itu  dibeberkan Zulkifli Hasan ketika menyoroti kondisi demokrasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Sorotan Zulkifli Hasan tersebut mengemuka ketika menyampaikan Pidato Kebangsaan yang disiarkan secara virtual, Rabu 24 Maret  2021.

"Pilkada 2017, 2018, pileg dan pilpres 2019 dan Pilkada Serentak 2020 yang lalu menunjukkan kepada kita karakter demokrasi yang culas, yang hanya berpikir kemenangan," kata Zulhas.

Zulhas melihat politik elektoral berubah menjadi semata ajang untuk memperebutkan kekuasaan belaka, berebut lobi dan pengaruh.

Selain itu, terjadi polarisasi masyarakat secara hebat, bahkan muncul benih-benih permusuhan dan kebencian.

"Semangat nasionalisme jadi dipandang begitu sempit sekaligus berlebihan, tajam mengatakan aku Pancasila sambil mengatakan yang lain antiPancasila," pungkas Wakil Ketua MPR RI itu.

Sorotan Lain Ketua Umum PAN

Zulkifli Hasan  juga menyoroti  soal  pertarungan ekonomi dan politik global antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok mengancam kedaulatan bangsa Indonesia.

Dia menyebut, selain perang dagang dan eskalasi potensi konflik militer seperti yang terjadi di Laut China Selatan, juga kembali menguatnya sentimen, serta tarik menarik antara ideologi politik, yaitu liberal dengan komunis.

"Kini tentu dengan bentuk dan kompleksitas yang lebih rumit, dua ideologi besar dunia yang berhadapan saya kira tidak lagi mengandaikan benturan antara perdaban."

"Yang terjadi justru terombang ambingnya pendulum ideologi negara-negara di tengah tarung bebas antara dua raksasa global. Keduanya berebut pengaruh dengan berbagai strategi," kata Zulkifli.

Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, menjabarkan strategi Tiongkok dan Amerika menarik Indonesia ke dalam konflik keduanya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved