Breaking News:

Opini Pos Kupang

Menguping Doa-Doa Semesta

Saya cuma punya satu buku John Dami Mukese. Buku itu adalah buku puisi pertamanya, Doa-Doa Semesta, cetakan ketiga, tahun 2015

Menguping Doa-Doa Semesta
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Mario F. Lawi Alumnus Program Magister Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

POS-KUPANG.COM - Saya cuma punya satu buku John Dami Mukese. Buku itu adalah buku puisi pertamanya, Doa-Doa Semesta, cetakan ketiga, tahun 2015. Doa-Doa Semesta terbit pertama kali pada 1983. Judul buku diambil dari judul puisi John Dami Mukese yang terbit di Horison edisi 2 tahun 1983. John Dami Mukese lahir pada 24 Maret 1950 dan wafat pada 26 Oktober 2017.

Sehari setelah Mukese meninggal, ada dua catatan tentang si penyair yang ditulis oleh Pius Rengka dan Maria Matildis Banda di Pos Kupang. Pius Rengka mengenang pengalamannya membaca puisi "Doa-Doa Semesta" ketika terbit pertama kali di Horison, pertemuan yang membawa si penulis catatan kepada puisi.

Baca juga: Nasib Petugas Pemakaman Jenasah Covid

Banda menceritakan sejumlah fragmen biografis Mukese yang tidak terlalu diketahui publik. Catatan keduanya di koran saya anggap mewakili kisah-kisah yang beredar tentang Mukese yang saya dengar dari sejumlah penulis NTT periode Dian (maksud saya, para penulis NTT yang mendapat sentuhan/pengaruh dari Mingguan Dian, entah sebagai pembaca, kontributor, penulis puisi, dan lain-lain).

Sebelum membaca Doa-Doa Semesta, saya berkesempatan membaca salah satu puisi dalam buku tersebut, puisi yang berjudul "Ratapan Semesta", melalui tulisan A. G. Netti di rubrik Opini Flores Pos, Rabu, 12 Desember 2012.

Pembahasan di rubrik Opini itu ternyata berkembang menjadi diskusi antara si pembahas dengan si penyair. Mukese menanggapi pembahasan Netti dengan tulisan berjudul "Ratapan atas Ratapan Semesta" (Flores Pos, Selasa, 18 Desember 2012).

Baca juga: Jelang Perayaan Paskah, Polres Manggarai Timur Rapat Persiapan Operasi Semana Santa Ranaka 2021

Tulisan Mukese dijawab Netti dengan satu tulisan pertanggungjawaban berjudul "Pertanggungjawaban atas Pengutipan Puisi Ratapan Semesta" (Flores Pos, Senin, 11 Februari 2013). Meski membahas "Ratapan Semesta" di koran, Netti tidak memasukkan puisi-puisi Mukese dalam Doa-Doa Semesta sebagai bagian dari puisi-puisi yang dibahasnya dalam bukunya yang berjudul Natal dan Paskah dalam Kontemplasi Penyair.

Padahal, Mukese adalah penyair yang secara sistematis menulis puisi-puisi dengan tema tersebut. Saya katakan sistematis, karena di dalam buku Doa-Doa Semesta, puisi-puisi bertema Natal dan Paskah dikelompokkan dalam bagian yang memuat puisi-puisi yang mencakup periode satu tahun liturgi Gereja Katolik.

Demikianlah, buku puisi Doa-Doa Semesta kerap saya ketahui lebih dahulu lewat cerita-cerita para penulis tersebut sebelum membacanya sendiri setelah lulus S1. Kesan awal saya ketika membacanya: saya beruntung tidak mengenal puisi-puisi Mukese ketika belajar menulis puisi di masa SMA.

Puisi-puisinya dalam Doa-Doa Semesta adalah puisi-puisi yang akan mudah disukai oleh anak-anak seminari menengah karena berbagai alasan: merasa cocok dengan kehidupan-kehidupan doa dan liturgi yang dibawakannya dalam puisinya, puisi-puisi lirik Mukese dekat dengan ungkapan doa-doa harian yang biasa dibawakan para seminaris, kehidupan-kehidupan orang-orang kecil dalam puisi-puisinya dekat dengan latar belakang keluarga para seminaris di NTT, dan lain-lain.

Di sampul belakang edisi 2015 Doa-Doa Semesta, ada komentar Paul Budi Kleden yang dikutip dari Menukik Lebih Dalam: "Dua nuansa secara amat kental mewarnai puisi-puisi John Dami Mukese, yakni nuansa religius dan nuansa kerakyatan."

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved